Beranda Keislaman Hadis Demokrasi, Rebutan Jabatan dan Korelasinya dengan Hadits Nabi

Demokrasi, Rebutan Jabatan dan Korelasinya dengan Hadits Nabi

Harakah.idDalam hadits ini dijelaskan bahwa sebenarnya jabatan itu akan menjadi boomerang kepada diri kita sendiri, apabila kita tidak bisa mengontrol hawa nafsu yang kita miliki. Ia akan menjadi penyesalan di akhirat nanti karena kita tidak dapat menjaga amanah dengan baik.

Seperti yang kita tahu bahwa Indonesia merupakan negara penganut sistem demokrasi yang mana berarti segala sesuatu dari berbagai aspek politik akan kembali kepada rakyat dan rakyat mempunyai andil yang sangat besar dalam mewujudkan  demokrasi yang baik.

Bila berbicara tentang demokrasi maka kita akan tertuju pada satu hal yakni kepemimpinan, yang mana sudah kita ketahui bahwa negara Indonessia merupakan negara republic yang sistem pemerintahannya dipimpin oleh Presiden dengan dibantu para menteri.

Masing-masing jabatan mempunyai tugas dan wewenangnya masing-masing, dan setiap apa-apa yang dilakukan harus lah ada pertanggungjawabannya yang mana semua akan dipertanggungjawabkanKetika mereka sudah habis masa jabatannya.

Menjadi seorang pemimpin itu sangatlah tidak mudah, banyak hal yang memang harus dipersiapkan untuk menjadi seorang pemimpin yang baik. Di dalam Islam banyak sekali pemimpin pada masa ituuntuk dijadikannya sebagai cerminan pemimpinpada masa sekarang ini. Pada masa nabi, setelah Nabi Muhammad wafat kemudian digantinya kepemimpinan kepada para sahatnya yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Mereka semua merupakan cerminan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik. Namun yang peru kita ketahui bahwa semakin berkembangnya zaman apalagi diiringi denganberkembangnya teknologi digital maka sistem pemerintah yang dipakai pun haruslah sesuai dengan keadaan zaman pada saat ini agar dapat terjadinya keseimbangan antara keduanya.

Islam sudah mengatur segala sesuatunya dengan sedemikian rupa dan begitu lengkapnya, tinggal bagaimana kita menjalankan setiap aturan yang sudah dibuat oleh Islam. Setiap manusia mempunyai pertanggung jawaban atas dirinya sendiri, dan jika ia memilih untuk menjadi seorang pemimpin maka ia bertanggung jawab tidak hanya pada dirinya sendiri melainkan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.

Seperti yang sudah kita bahas bahwa tidaklah mudah menjadi seorang pemimpin karena ia harus mempertanggung jawabkan jabatannya di dunia dan juga di akhirat kelak.

Namun dengan demikian banyak sekali masyarakat yang memang sangat menginginkan sebuah jabatan. Tidak sedikit dari mereka yang menginginan jabatan tersebut hanya karena pamor semata, eksistensi mereka terhadap sesama manusia.

Ambisi mereka akan jabatan tersbut sebenarnya akan membutakan mereka kepada hal-hal duniawi saja, kecuali mereka memang benar-benar dapat mempertanggungjawabkan semuanya di hadapan Allah dengan sebenar-benarnya penanggung jawaban.

Di dalam hadits Rasulullah Saw  dikatakan :

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتْ الْفَاطِمَةُ

“Kalian akan rakus terhadap jabatan, padahal jabatan itu akan menjadikan penyesalan di hari kiamat, ia adalah seenak-enak penyusu dan segetir-getir penyapihan.”

Dalam hadits ini dijelaskan bahwa sebenarnya jabatan itu akan menjadi boomerang kepada diri kita sendiri, apabila kita tidak bisa mengontrol hawa nafsu yang kita miliki. Ia akan menjadi penyesalan di akhirat nanti karena kita tidak dapat menjaga amanah dengan baik.

Di dalam al-Qur’an surah al-Anfal : 27 disebutkan :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا۟ أَمَٰنَٰتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”

Di dalam ayat ini dapat diambil kesimpulan bahwa janganlah kita sebagai manusia mengkhianati Allah dan Rasulnya (Muhammad), dan kita sebagai manusia janganlah lupa akan janji-janji atau Amanah yang diberikan manusia lain kepada kita atau sebaliknya yakni kita yang memberikan janji-janji kepada sesama manusia lain dengan didasari hal apapun. Karena sesungguhnya setiap perkataan yang keluar dari lisan kita semua akan dipertanggungjawabkan.

Menjadi seorang pemimpin memiliki resiko yang cukup besar, dan yang seperti kita ketahui bahwa menjadi seorang pemimpin yang mempunyai jabatan yang cukup besar maka amanat yang dipikul pun juga besar, yakni memikul amanah dari jutaan manusia yang berbeda kepala tentu berbeda pendapat dan menjadi seorang pemimpin harus dapat menyatkutaan jutaan pendapat tersebut menjadi sebuah satu visi dan misi yang dapat membangun kesejahteraan bersama, serta mereka (pemimpin) harus menepati janji mereka kepada mesyarakat yang memang memberikan kepercayaan kepada meraka tentang kepemimpinannya.

Segala sesuatu yang kita kerjakan bahkan sekecil apapun ituakan dimintai pertanggung jawaban. Wallaahu a’lam bish shawab .

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...