Beranda Keislaman Hadis Dengan Menerapkan PSBB, Pemerintah Sudah Mengamalkan Hadis Nabi Soal Penanganan Wabah

Dengan Menerapkan PSBB, Pemerintah Sudah Mengamalkan Hadis Nabi Soal Penanganan Wabah

Harakah.idPemerintah pada akhirnya memang memilih skema PSBB. Lalu pertanyaannya, apakah skema ini sudah sesuai dengan protokol penanganan wabah seperti yang diajarkan Nabi?

Seiring dengan kenaikan jumlah penderita dan pasien korban korona, baru-baru ini pemerintah mewacanakan akan mengarantina wilayah Jabodetabek yang dianggap episentrum penyebaran virus di Indonesia. Karantina wilayah atau lockdown pun ramai menjadi perbincangan netizen Indonesia. Banyak pihak yang memaksa pemerintah untuk mempercepat proses lockdown dan menutup jalur mudik dari Jabodetabek ke daerah-daerah.

Meskipun pada akhirnya pemerintah memilih skema PSBB untuk menekan proses penyebaran virus, namun masih banyak pihak yang menyayangkan mengapa skema lockdown total bukan yang dipilih. Dan tak jarang, argumentasi mengarantina wilayah secara total seperti yang ditunjukkan beberapa negara, memang merupakan anjuran dan protokol wabah yang diajarkan dalam hadis.

Hadis apa yang dimaksud?

Setidaknya ada dua hadis yang dijadikan landasan untuk mendukung keputusan mengarantina wilayah;

Hadis pertama

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari).

Hadis kedua

أَنَّ عُمَرَ، خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ، فَلَمَّا كَانَ بِسَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّأْمِ، فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ

“Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhori).

Pertanyaannya, apakah hadis-hadis tersebut berbicara soal lockdown dan konsep karantina sebagaimana yang dikehendaki hari ini? Model karantina wilayah seperti apa yang sebenarnya pas untuk disandarkan kepada hadis-hadis tersebut?

Namun sebelum ke sana, ada satu pertanyaan yang mesti dijawab, mengapa pembahasan ini penting diurai? Alasannya karena acapkali terjadi overkontekstualisasi. Penyesuaian yang berlebihan terhadap maksud hadis terjadi karena hadis dimunculkan secara spartan berdasarkan kejadian, berdasarkan konteks. Ketika yang dipriotitaskan konteks masalah, maka seringkali maksud teks hadisnya dilangkahi. Dengan kata lain, memaksa sebuah hadis untuk menjelaskan persoalan kontemporer tanpa terlebih dahulu menjelaskan detail makna hadisnya, tak ubahnya upaya legitimasi cocokologis yang cacat metodologis.

Salah satunya dialami oleh hadis-hadis lockdown di atas. Entah berapa kali hadis tersebut dicantumkan di artikel-artikel yang membahas “sejarah lockdown di masa Nabi”, “konsep lockdown ala Nabi” dan judul-judul lainnya. Di satu sisi, model narasi semacam itu memang informatif, bahwa wabah dan metode penanganannya juga sudah ada di Masa Nabi. Tapi yang menjadi masalah, kesenjangan konsep “karantina wilayah” atau “lockdown” dari pesan hadisnya belum dituntaskan. Toh kita juga tidak bisa menemukan dalam badan teks hadis tersebut terminologi spesifik soal penutupan wilayah, karantina wilayah atau bahkan lockdown. Kalaupun itu memang konsep lockdown, kita juga tidak tahu bagaimana konsep lockdown

Lalu apa yang hendak disampaikan dua hadis tersebut?

Hadis tersebut menjelaskan larangan untuk masuk ke daerah wabah dan keluar dari daerah wabah. Mereka yang ada di daerah wabah, dilarang keluar. Sedangkan mereka yang ada di luar daerah wabah dilarang masuk. Pelarangan ini ditujukan untuk memutus penyebaran wabah ke daerah lain. Tapi yang patut diingat, sifat dan obyek dari pelarangan tersebut adalah himbauan personal. Kalaupun mau dihukumi, larangan tersebut lebih mengarah kepada kemakruhan.

Lalu pertanyaannya, bagaimana dengan orang-orang sehat yang berada di daerah wabah? Apakah Rasulullah membiarkan mereka menerima takdirnya begitu saja tanpa ada upaya untuk melarikan diri dari wabah? Tentu saja tidak. Ketika para sahabat memprotes Umar yang menyuruh mereka pulang dan tidak masuk ke area wabah karena dinilai tidak pasrah kepada takdir Tuhan, Umar menjawab “kalau kita beralih dari satu takdir ke takdir yang lain”. Lalu bagaimana cara orang yang berada di area wabah menyelamatkan dirinya dari satu takdir dan beralih ke takdir yang lain kalau misal mereka dikumpulkan dalam satu area bersama penduduk yang mayoritas telah terpapar wabah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi indikator bahwa pemahaman hadis lockdown tidak berhenti pada penerapan karantina wilayah. Atau dengan kata lain, ada detail-detail kecil yang juga harus diterapkan dalam skema karantina wilayah kalau kita mau betul-betul mengamalkan hadis tersebut. Dari mana kita tahu rancangan skema detailnya sebelum mengejawabntahkannya dalam bentuk lockdown, karantina wilayah atau PSBB? Dari mengumpulkannya dengan hadis-hadis lain, yang sedikit banyak juga berbicara soal wabah dan proses penularan virus.

Misal, hadis Rasulullah:

‏ لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ

“Janganlah terlalu lama memandang mereka yang terkena lepra/kusta!”

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah juga menyampaikan bahwa:

وفر من المجذوم المصاب بالجذم كما تفر من الأسد

“Hindarilah orang yang terkena lepra sebagaimana kamu lari dari singa..”

Dalam riwayat lain yang disampaikan al-Bukhari, Rasulullah jelas-jelas menganjurkan untuk tidak mengumpulkan orang yang sakit dengan mereka yang sehat.

لا توردوا الممرض على المصح

“Janganlah kalian menyampurkan yang sakit dan yang sehat”

Ketiga hadis di atas, kalau diamati, berbicara soal skema pemisahan antara yang sakit dan yang sehat. Jangan sampai yang sehat juga ikut terinfeksi karena pemberlakuan lockdown yang tidak terencana. Bagaimana caranya agar mereka yang sehat tidak terinfeksi? Bagi yang berada di luar daerah episentrum, ya jangan masuk area episentrum. Tapi bagi mereka yang berada di dalam area episentrum, semaksimal mungkin mengurangi kegiatan di luar rumah dan melakukan kontak langsung dengan orang lain.

Di sini detail-detail lainnya muncul. Ketika skema karantina mengharuskan masyarakat diam di rumah, maka mereka yang bekerja secara informal di luar rumah akan kehilangan sumber pendapatan. Mungkin mereka selamat dari virus, tapi tetap akan mati karena kelaparan. Dari sini, jaminan sosial juga menjadi detail kesekian dari poin-poin yang harus dipertimbangkan sebelum skema karantina diterapkan. Meskipun memang tidak tampil dalam hadis, masalah ini secara tidak langsung juga menjadi bagian dari cara kita mengamalkan hadis tersebut. Kalau tidak, ya yang ada skema karantina jadi mafsadat baru.

Hadis itu juga tidak bisa diberlakukan untuk menghukumi praktek “kabur” dari wilayah terpapar secara umum. Beberapa pesantren di zona merah yang memulangkan santri-santrinya bukan berarti melanggar anjuran Nabi dalam hadis di atas. Ada level maslahat yang dipilih dan lebih besar, berdasarkan situasi dan kondisi yang ada, yang mendorong para Kiai untuk memilih memulangkan santri-santri dengan tetap memberlakukan protokol kesehatan ketat dalam seluruh proses pemulangan. Santri-santri dipulangkan secara kolektif, kendaraan disemprot desinfektan terlebih dahulu, mereka yang baru tiba di rumah juga melakukan protokol kebersihan dan mengarantina diri selama 14 hari. Langkah-langkah ini juga termasuk dalam anjuran Nabi dalam hadis di atas.

Dengan kata lain, terlalu sempit jika hadis Rasulullah tersebut hanya dimaknai dalam ruang konsep “karantina wilayah” dan melarang orang untuk berupaya menyelamatkan dirinya. Menurut saya, hadis itu harus diposisikan dalam kerangka problem lebih kompleks; yaitu mengenai protokol keamanan dan kesehatan yang harus diterapkan untuk mencegah penyebaran wabah. Kalaupun harus lockdown, hadis tersebut, dengan tidak adanya sifat larangan pasti dan pemerintah sebagai obyek hukumnya, harus dimaknai sebagai peringatan mengenai pertimbangan-pertimbangan yang wajib diperhitungkan dalam proses karantina demi kemaslahatan yang lebih besar. Tentu, pemerintah sebagai pemangku kebijakan memiliki peran krusial dalam hal ini. Intinya, jangan sampai pilihan untuk mengarantina wilayah justru mendatangkan mafsadat yang lebih besar. Apalagi sampai menyalahkan Nabi karena telah menyabdakan “hadis lockdown”…

Tapi, ‘ala kulli hal, penerapan PSBB yang sudah diatur oleh pemerintah, meskipun cukup terlambat, sedikit banyak sudah mempertimbangkan banyak hal, termasuk jaminan hidup masyarakat menengah ke bawah selama masa karantina. Semoga upaya ini dengan cepat memutus rantai penyebaran Covid di Indonesia.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...