Beranda Headline Di Balik "Enta Omri"; Umm Kulthum, Ego Musikal Dua Raksasa dan Campur...

Di Balik “Enta Omri”; Umm Kulthum, Ego Musikal Dua Raksasa dan Campur Tangan Politik Arabisme Gamal Abdel Nasser

Harakah.idEnta Omri sudah sepatutnya diberikan penghargaan tertinggi sebagai sebuah lagu fenomenal. Namun di balik keindahannya, ada kisah konfrontasi lama hingga keterlibatan kepentingan politik Mesir.

Enta Omri adalah sebuah masterpiece dan magnum opus. Posisinya sebagai produk kebudayaan tinggi tak terdebatkan. Selain karena faktor badan musik, kekuatan lirik dan cara Muhammad Abdel Wahab meramu nada, kekuatan suara Umm Kulthum juga menambah daya magis tersendiri yang lamat-lamat bisa kita resapi setiap kali Umm Kulthum menarik nafas dan mengencangkan pita suaranya.

Magisnya tidak hambar dan diam hanya dalam satu bagian. Ia menyebar melalui petikan qanun, dawai violin sampai gebukan darbuka, yang lantas berakhir pada teriakan penonton. Dalam Enta Omri, kita akan merasakan kerinduan, pahit, penyesalan yang dihargai, sekaligus kerelaan pada apa yang sedang terjadi dan akan terjadi. Dan entah mengapa, setiap bagian dalam Enta Omri, selalu melahirkan nuansa berbeda dan tekanan yang tak sama setiap kali ia diulang meski dalam skala dan not yang sama.

Enta Omri bukanlah lagu biasa. Ia tidak diciptakan hanya untuk dinyanyikan lalu menunai pundi-pundi uang. Enta Omri adalah oasis. Ia mewakili satu momentum kala ego musikal melunak, dan bersamaan dengan itu, kerendahan hati dan saling menghargai tumbuh di antara dua raksasa musisi Mesir kala itu. Enta Omri juga meriam. Ada visi yang jelas di balik pengerjaannya. Jika tidak, tentu Gamal Abdel Nasser tidak perlu repot-repot turun tangan dan ikut campur untuk mempertemukan dua figur paling kuat dan berpengaruh itu.

Dan ya, bicara soal Enta Omri, mula-mula kita akan berbicara soal Umm Kulthum dan Muhammad Abdel Wahab.

Di kisaran tahun 60-an, nama Muhammad Abdel Wahab sudah kokoh sebagai salah seorang budayawan Mesir terkemuka. Ia musisi, aktor, sekaligus seorang komposer. Ia menulis lagu bukan hanya untuk dinyanyikan secara komersil sebagai produk musik. Abdel Wahab juga membantu menciptakan lagu nasional beberapa negara di Timur Tengah. Selain kental dengan sosok karakter yang tahu betul cara menyulam keindahan, Muhammad Abdel Wahab juga sosok yang punya visi dan kehendak ideologis yang jelas.

Namun tampaknya, kesohoran Muhammad Abdel Wahab memiliki celah. Tidak ada nama Umm Kulthum dalam daftar penyanyi lagu-lagunya. Nama-nama seperti Fairuz dan Asmahan sudah pernah masuk dalam kantong sihirnya. Tapi tetap saja, tak ada nama Umm Kulthum di sana. Celah ini tampak makin jelas ketika Riad al-Sonbati, salah satu saingan Mohamed Abdel Wahab, meraih beberapa penghargaan sebagai komposer terbaik kala berkolaborasi dengan Umm Kulthum. Diakui atau tidak, Abdel Wahab masih menyimpan ambisi agar lagu-lagunya dinyanyikan Umm Kulthum.

Tak begitu jelas, apa sebab utama munculnya konfrontasi di antara dua raksasa ini. Tapi berdasarkan obituari Mohamed Abdel Wahab, jelas ada ketakutan dan kekhawatiran yang muncul di antara keduanya. Kita sebut saja, ego musikal.

Baca Juga: Bedouin Umm Kulthum dan Ansambel Sang Ayah, Dari Mengaji al-Quran Sampai Pentas Para Pembesar

Sebagai penyanyi, Umm Kulthum dikenal teliti, perfeksionis dan intimidatif. Menurut kesaksian Ahmad Rami, Umm Kulthum bisa menghabiskan berjam-jam selama beberapa hari duduk di balkon rumahnya hanya untuk menyelami lirik dan memilih nada. Di sisi yang lain, Muhammad Abdel Wahab juga seorang perfeksionis. Sebagai komposer sekaligus kondukor, sudah menjadi wataknya jika Muhammad Abdel Wahab adalah seorang diktator untuk urusan struktur dan format musik, dari hulu ke hilir. Umm Kulthum khawatir Muhammad Abdel Wahab akan mendominasi dan mengintervensi dirinya. Sedangkan di sisi yang lain, Abdel Wahab merasakan hal yang sama. Penyanyi dengan suara kuat dan karakter menonjol seperti Umm Kulthum akan dengan mudah menggilas sebuah orkestra berikut komposernya.

Ego tersebut bertahan cukup lama. Beberapa kali di awal tahun 60-an, meski sempat terlibat dalam beberapa pertunjukan dan konser, tetap saja hal itu tidak mampu meluruhkan konfrontasi lama di antara keduanya. Sebelum pada akhirnya, menjelang tahun 1962, berkat dorongan dan sedikit rona “perintah” dari Gamal Abdel Nasser, keduanya mulai menipiskan ego dan mencoba untuk saling menerima. Dan benar, tahun 1963, ketika Ahmed al-Hafnawi, salah seorang pemain violin dalam orkestra Umm Kulthum berkunjung ke rumah Sang Diva, nama Muhammad Abdel Wahab mulai disebut-disebut.

Dalam pertemuannya tersebut, al-Hafnawi menanyakan mengapa dia tak bersedia menyanyikan lagu Abdel Wahab, sembari sesekali membujuk Umm Kulthum untuk mulai menjalin kolaborasi dengan Sang Komposer. Dan tanpa disangka, Umm Kulthum menjawab bujukan itu, “tidak bersedia bagaimana? Toh dia tidak pernah menawariku apa-apa yang aku tolak, kok!”

Mendengar jawaban itu, al-Hafnawi langsung menghubungi Muhammad Abdel Wahab. Sesuai dugaan, darah Abdel Wahab langsung berdesir, adrenalinnya mulai terpicu dan gairahnya meledak ke mana-mana. Tanpa pikir panjang, Muhammad Abdel Wahab langsung menghubungi Umm Kulthum. Keduanya pun berjanji bertemu keesokan harinya. Muhammad Abdel Wahab sengaja memilih waktu agak siang. Dia butuh waktu yang lebih lama untuk mempersiapkan lagunya.

“Apakah saya harus ke rumah anda?”tanya Umm Kulthum.

“Oh tidak, saya yang akan datang ke rumah anda,” balas Muhammad Abdel Wahab.  “Ehm, apakah anda punya oud di rumah?”

“Ada, tapi sepertinya tidak layak pakai. Senar putus pula,” jawab Umm Kulthum

Di hari itu juga, Muhammad Abdel Wahab mulai menyiapkan lagu yang sebenarnya sudah lama ditulisnya untuk Sang Diva; Enta Omri! Sehari sebelum pertemuannya dengan Umm Kulthum tersebut, Muhammad Abdel Wahab memastikan lagunya siap dan sempurna. Semalaman, Abdel Wahab duduk di depan sebuah kertas. Di sekelilingnya, berserakan alat musik; mulai dari oud, violin sampai qanun. Ada pertaruhan besar dalam naskah lagu tersebut. Muhammad Abdel Wahab tentu tidak mau titik awal kolaborasinya dengan Umm Kulthum akan berakhir dengan penolakan karena lagu yang jelek dan tak layak dinyanyikan.

Keesokan harinya, Mohammad Abdel Wahab datang menyerahkan naskah lagu Enta Omri sekaligus versi musik awalnya. Setelah membaca dan mendengarkannya tiga kali, Umm Kulthum memutuskan akan menyanyikannya. Siang hari di pertengahan tahun 1963 itu kelak akan tercatat sebagai momentum besar dalam sejarah permusikan di Mesir.

Pengerjaan Enta Omri membutuhkan waktu hampir setengah tahun. Maklum, idealisme Abdel Wahab sebagai komposer dan idealisme Umm Kulthum sebagai penyanyi jenius memang tak akan pernah mudah dicari jalan keluarnya. Dalam proses pengerjaan, tak jarang keduanya terlibat dalam diskusi panjang soal pemilihan kosakata dalam lirik lagu sampai penggunaan instrumen untuk merumuskan nada.

Sebagai misal. Dalam naskah lirik aslinya, Ahmad Syafiq Kamil sebenarnya menulis,

شوَّقوني عنيك لأيامي اللي راحوا.. علموني أندم على الماضي وجراحه

Lalu Umm Kulthum mengubah kalimat “syawwaquni” dengan “rajji’uni”. Muhammad Abdel Wahab setuju, begitu pula sang penulis lirik.

Baca Juga: Nada Dakwah Nasida Ria; Dari Kiblat Fesyen, Bias Gender Hingga Kritik Atas Industrialisme

Tapi perdebatan tidak selalu mulus. Ada perselisihan, misalnya dalam lirik

من حنان قلبي اللي بيشابي حنانك

Umm Kulthum bersikukuh untuk menggunakan kalimat tersebut. Tapi Muhammad Abdel Wahab juga bersikukuh untuk mengubahnya dengan,

من حنان قلبي اللي طال شوقه لحنانك

Perdebatan soal lirik memakan waktu cukup lama. Tak sampai di sana, perdebatan juga berlangsung dalam proses pemilihan instrumen dan menetapkan melodi dalam intro lagu.

Muhammad Abdel Wahab mengusulkan penggunaan gitar listrik sebagai melodi pada intro Enta Omri. Umm Kulthum tak setuju. Ia beranggapan hal itu akan membuat lagunya aneh. Toh pendengar musik di Arab juga tidak akrab dengan suara gitar listrik. Dan bagi Umm Kulthum, sentuhan Barat sama sekali tidak diperlukan dalam lagunya. Namun Muhammad Abdel Wahab tetap pada pendiriannya. Dia pun mencari cara agar suara gitar listrik bisa berharmonisasi dengan alat musik lain dan nuansa lirik lagunya. Berbagai not dicoba. Catatan partitur dicorat-coret. Hasilnya, melodi gitar listrik berhasil ditulis. Dan kala diperdengarkan kepada Umm Kulthum, sang diva pun mengangguk setuju. Bagi Muhammad Abdel Wahab, keberadaan gitar adalah simbol keterbukaan bangsa Mesir.

Setelah berbulan-bulan berkerja, pada akhir 1963, Muhammad Abdel Wahab lalu mengumpulkan kawan-kawan musisinya untuk memberi penilaian terakhir terhadap Enta Omri.

Di awal tahun 1964, Inta Omri kemudian dirilis dan suara Umm Kulthum bergaung di langit Mesir melalui Radio Sawtul Arab.

Kepentingan Pan-Arabisme Gamal Abdel Nasser

Gamal Abdel Nasser tampaknya sudah mengenal baik aspek keberpihakan Umm Kulthum. Ketika Umm Kulthum menggelar konser untuk para pejuang – termasuk Gamal Abdel Nasser – yang terjebak di medan Falluja tahun 1948, Nasser sadar bahwa ada kekuatan politis dalam diri Umm Kulthum. Dan hal itu benar-benar tidak ia sia-siakan. Sepanjang karir politik dan perjalanan panjangnya membangun Mesir, Gamal Abdel Nasser seringkali melibatkan Umm Kulthum. Utamanya dalam agenda-agenda politik yang membutuhkan hentakan-hentakan “halus”.

Umm Kulthum, bersama raksasa musisi lainnya, termasuk Muhammad Abdel Wahab dengan setia berada di sayap kebudayaan agenda politik Nasser. Bahkan kabarnya, salah satu penyebab kesuksesan politik Nasser adalah, pidato-pidatonya selalu disiarkan pasca pemutaran lagu-lagu Umm Kulthum di radio. Meski tidak terlibat langsung dalam kebijakan atau implementasi politik Mesir, Umm Kulthum tetap punya posisi strategis dalam membungkus agenda-agenda politik tersebut sehingga lebih nampak indah, halus dan tidak terlalu politis.

Ambisi Pan-Arabisme yang dibayangkan Nasser memang tak mudah. Ia tidak lagi bicara soal Mesir an sich, tapi bangsa-bangsa Arab pada umumnya. Lalu bagaimana ambisi tersebut bisa tercapai? Gamal Abdel Nasser percaya, kolaborasi Umm Kulthum dan Muhammad Abdel Wahab adalah salah satu jalan yang paling mungkin dicoba. Untuk mewujudkan ini, Nasser turun langsung. Ia mempertemukan kedua raksasa dan sedikit memberikan instruksi agar keduanya bekerja sama.

Melalui lagu-lagu Umm Kulthum, pengaruh Gamal Abdel Nasser menyebar melintasi Irak sampai Maroko, Masyriq sampai Maghrib. Dengan menunggangi dan menitipkan diri dalam serak suara Umm Kulthum, Gamal Abdel Nasser tiba di negeri-negeri Arab lainnya, menebar pengaruh sekaligus gagasannya mengenai persatuan bangsa-bangsa Arab.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...