Dibalik Kesediaan Kikan Jadi Ketua Komuji Jakarta

Komunitas Musisi Mengaji (Komuji) Jakarta seperti membuka satu pintu di dalam diri saya, terjun di dalam hal-hal yang sangat spiritual, yang tadinya buat saya ini sebelumnya kayak itu nggak usah dikoar-koarin.

0
360

Jakarta, harakah.id – Setelah melalui proses perenungan yang panjang dan mendalam, musisi Kikan Namara akhirnya bersedia didapuk menjadi koordinator atau Ketua Komunitas Musisi Mengaji (Komuji) chapter Jakarta. Di ibukota, komunitas ini baru berusia kurang lebih satu tahun. Sementara di Bandung, sebagai mother chapter Komuji, telah berjalan sejak tujuh tahun yang lalu.

Ex vokalis band Cokelat ini menceritakan, dua tahun lalu ia bertemu dengan Egi Fauzi, salah satu founder Komuji yang mengajaknya bergabung. Ketika itu kebetulan Kikan juga sedang menjadi ambassador dari Badan Nasional Penanggulanangn Terorisme (BNPT). “Jadi saya memang terlibat dalam kegiatan menggelar workshop di seluruh Indonesia dari BNPT,” ungkap Kikan, di sela-sela kegiatan Komuji Jakarta yang ke-5, di jalan Benda Atas, Jeruk Purut, Jakarta Selatan.

Dari keterlibatannya dengan BNPT, Kikan tahu betul seluk beluk serta bahaya dari terorisme dan radikalisme. Di mana pintu masuk dari semua itu adalah intoleransi. “Karena Egi tahu (Kikan aktif di BNPT), dia bilang, ini bisa jadi sesuatu yang berjalan paralel, artinya Kikan tetap bisa menjalankan kegiatan di BNPT, sementara Komuji pun kurang lebih memperjuangkan hal yang sama,” ujar Kikan.

Ia tertarik tapi tak langsung mau terjun di Komuji. “Awalnya, aku agak mikir-mikir, membuat Komuji chapter Jakarta itu bukan tanggung jawab yang ringan. Ini kan jelas-jelas platform untuk anak muda yang intinya adalah kajian, belajar agama sama-sama. Saya merasa, kok sepertinya belum siap untuk menerima tanggung jawab ini. Tapi kemudian Egi dan teman-teman Komuji terus mendukung. Akhirnya, saya pikir, kenapa harus takut demi kebaikan? Apa sih sesungguhnya yang saya ragukan itu apa?”

Salah satu hal yang juga menjadi pertimbangan Kikan mengurus Komuji Jakarta ialah soal waktu. Ia, yang juga punya kesibukan menyanyi dan aktivitas lainnya, cukup kerepotan dalam membagi waktu. “Waktu, itu yang paling bikin saya berat untuk mengambil tanggung jawab ini karena saya masih nyanyi. Jadi harus membagi waktu. (Kegiatan) Komuji Jakarta ini orang mungkin melihatnya sebulan sekali, tapi persiapannya, ya Tuhan, ribetnya setengah mati. Kita harus mengakomodir banyak hal. Jadi lebih pada hal itu, ragunya bisa nggak ya bagi waktu di luar soal tanggung jawabnya,” jelas Kikan.

Setelah diskusi dengan keluarga, mempertimbangkan berbagai hal, Kikan mantab mengemban amanat sebagai Ketua Komuji Jakarta. “Akhinya, ya mungkin karena ini semua untuk kebaikan, akhirnya semua serba dimudahkan, alhamdulillah. Dikasih lancar,” kata perempuan kelahiran 9 September 1976 itu.

Di samping waktu, ada beban moral tersendiri bagi Kikan, mengingat komunitas ini menyandang nama “mengaji”. Menurutnya, membuka Komuji chapter Jakarta bisa dikatakan semacam pencerahan. Tapi ia menyatakan ini pengalaman yang cukup personal. “Mungkin cuma saya yang tahu prosesnya, karena ini sangat personal buat saya. Tapi mengambil tanggung jawab membuka Komuji chapter Jakarta itu membuka satu lagi pintu di hati saya yang mungkin selama ini nggak bisa terlalu kebuka,” aku Kikan.

Give Back to Community

Kikan berkisah, selama ini ia menyanyi, sejak tahun 2000, menghibur orang di seluruh Indonesia, ke sana ke sini dengan karir, mengejar materi dan sebagainya. Hingga terbetik, mungkin ini saatnya baginya untuk melakukan hal lain yang lebih bermanfaat.

“Ada satu titik di mana aku berpikir bahwa mungkin ini waktunya kita, istilahnya give back to community. Mungkin ini salah satu caranya aku bisa menjadi lebih berguna untuk lebih banyak orang. Kalau mungkin selama ini orang mengundang Kikan sebagai penyanyi kemudian merasa terhibur karena mendengar saya menyanyi. Kenapa tidak saya mencoba untuk berguna di hal lain yang mungkin saya nggak pernah lakukan sebelumnya?”

“Walaupun jujur, banyak juga ketakutan, karena seiring dengan kesedian saya memikul tanggung jawab ini, tentunya juga harus diimbangi dengan perbaikan akhlak. Ini menurut saya, karena mau tidak mau aku harus menjadi ikon Komuji. Mau tidak mau, aku jadi dutanya jadi ambassadornya (Komuji). Saya pikir ini bisa jadi pencerahan. Seperti membuka satu pintu di dalam diri saya, terjun di dalam hal-hal yang sangat spiritual, yang tadinya buat saya ini sebelumnya kayak itu nggak usah dikoar-koarin. Karena saya sebenarnya bukan tipe orang yang ada di depan, tapi di belakang layar (dalam soal ini)” urai Kikan.

Makanya, kalau orang ngomongin Komuji, ia lebih menyarankan ke Egi atau Alga. “Mungkin juga karena saya merasa ilmu saya belum cukup untuk bisa menerangkan dengan runut tentang Komuji dari A-Z. Karena saya (di Komuji) yang belum setahun, apalah artinya dibanding mereka yang sudah tujuh tahun makan asam garam mendirikan Komuji itu pasti lebih ‘gila’.”

Baca Juga: Hijrah Milenial, Jangan Lupakan Spirit Kebangsaan

Ia mengungkapkan, di antara goal dari kegiatan ini ialah bagimana membiasakan orang Indonesia, terutama generasi muda untuk menerima bahwa perbedaan itu merupakan suatu hal yang biasa, lumrah dan bisa hidup berdampingan. “Bukan hanya sebagai slogan, bukan hanya sebagai kata-kata yang sering kita ucapkan tetapi praktiknya beda. Kita aja sendiri kadang malas karena beda ini itu dan seterusnya, misalnya kayak gitu,” jelas Kikan.

Kegiatan ke-5 Komuji ini diisi kajian, talkshow dengan narasumber Budayawan Ngatawi Al-Zastrow, dan Komika Sakdiyah Ma’ruf. Menyusul, Habib Husein Ja’far al Hadar, yang masuk di sesi tanya Jawab. Sementara para musisi Tanah Air yang tampil di antaranya Imela Kei (Ten2Five), Man (Pallo), Che (Cupumanik), Panji Sakti, Alga (The Panas Dalam), dan Kikan.

Baca Juga : Kikan ex. Cokelat Ajak Public Figure Dukung Gerakan Komuji Jakarta