Beranda Khazanah Di Mana Batasan Kebebasan Berekspresi Harus Dipancang? Belajar Dari Kasus Majalah Charlie...

Di Mana Batasan Kebebasan Berekspresi Harus Dipancang? Belajar Dari Kasus Majalah Charlie Hebdo dan Perancis

Harakah.id Batasan kebebasan berekspresi selama ini masih kabur. Ada yang memaknainya terlalu bebas sehingga ia seolah-olah jadi pembenaran bagi praktik-praktik yang mampu menyakiti sebagian kelompok. Dari kasus Charlie Hebdo dan Perancis mungkin kita bisa belajar, di mana batasan kebebasan berekspresi harus dipancang.

Persoalan karikatur Nabi Muhammad saw di Prancis masih jadi polemik hingga saat ini. Bukan tanpa alasan, sebab bagi muslim Nabi saw adalah sosok manusia yang paling mulia serta dihormati, sosok yang dicintai bahkan melebihi cinta pada diri sendiri. Melecehkan Nabi dianggap sama halnya melecehkan Islam serta melecehkan harga diri muslim.

Masalah terus berlanjut dengan sikap Majalah Charlie Hebdo yang kembali menampilkan karikatur Nabi dengan dalih mengenang seorang guru, Samuel Paty, yang dipenggal dengan brutal oleh seorang imigran Rusia, sebab persoalan materi pelajarannya seputar kebebasan berekspresi yang mengangkat isu karikatur Nabi yang diterbitkan Majalah Charlie Hebdo.

Ya, sikap yang amat disayangkan kenapa sampai terjadi. Sebagai muslim, kita jelas tak membenarkan  penayangan karikatur Nabi oleh Majalah Charlie Hebdo, namun bukan berarti itu menjadi dalih untuk melakukan hal brutal. Apalagi, diketahui kalau Samuel Paty sudah meminta maaf atas materi ajarnya itu.

Majalah Charlie Hebdo kembali menayangkan karikatur Nabi, dan diamini oleh Presiden Prancis dengan dalih mendukung kebebasan berekspresi. Masalah ini tak lagi menjadi persoalan Prancis semata, sebab efek dominonya sudah sampai di berbagai belahan dunia (terutama negara-negara yang punya komunitas muslim). Di Indonesia, banyak kelompok muslim yang melakukan seruan boikot produk-produk Prancis.

Masalah ini sebenarnya bisa cepat selesai, kalau saja Majalah Charlie Hebdo tak lagi menampilkan karikatur Nabi, dan Presiden Prancis mau menarik serta meminta maaf atas pernyataan-pernyataannya yang dianggap melecehkan Nabi serta umat muslim. Namun, agaknya Presiden Prancis ingin mempertahankan sikapnya dengan dalih kebebasan berekspresi.

Dari sikap Presiden Prancis, kita bisa melihat kalau pola kebebasan berekspresi yang ingin dipertahankan Prancis, saat ini, adalah kebebasan tanpa menghargai kebebasan orang lain. Setiap orang bebas berekspresi, dan tak masalah kalau ekspresi itu menyinggung plus tak menghormati kebebasan berekspresi (keyakinan) orang lain. Lagi-lagi, ini soal batasan kebebasan berekspresi.

Penayangan karikatur Nabi bisa dikatakan sebagai bagian kebebasan berekspresi. Tapi, ya kebebasan berekspresi buta, kebebasan yang tak melihat serta tak menghargai keyakinan yang juga merupakan bagian dari kebebasan berekspresi orang lain.

Seorang yang berdalih bahwa dia memiliki kebebasan berekspresi. Dia ingin mengekspresikan kebebasannya dengan mengambil barang yang bukan miliknya, eh… eh… itu jelas tak boleh, sebab sudah namanya mencuri dan jelas merugikan orang lain. 

Kebebasan berekspresi ada batasnya, yaitu kebebasan berekspresi itu sendiri. Maksudnya, meski memiliki kebebasan berekspresi, namun juga harus melihat serta menghormati kebebasan berekspresi orang lain. Inilah indikator pertama batasan kebebasan berekspresi yang harus diperhatikan.

Perlu diingat bahwa selain sebagai makhluk individual yang punya keunikan masing-masing serta kebebasan atau kemerdekaan diri, manusia juga merupakan makhluk sosial yang tak hanya hidup seorang diri. Kumpulan individu menciptakan masyarakat, alangkah kacaunya kalau setiap makhluk individual yang punya keunikannya menerapkan kebebasan berekspresi buta.

Setiap orang bebas melakukan ekspresinya meski merugikan orang lain. Aduh, kacau. Yang demikian, hanya akan membawa kehidupan pada alam primitif yang tak punya hukum serta banyak merugikan manusia lain.

Sebagai makhluk sosial, manusia harus bisa saling menghargai setiap individu lain. Sehingganya kebebasan berekspresi tak boleh buta, harus juga memerhatikan serta menghormati keyakinan atau kebebasan berekspresi orang lain.

Dalam sebuah negara yang susunan masyarakatnya sangat beragam–beragam etnis, budaya, serta agama–sangat penting untuk menerapkan prinsip kebebasan berekspresi yang saling menghormati satu sama lain. Ini menjadi bagian dari upaya menjaga kerukunan dan kedamaian kehidupan masyarakat. Sebagaimana Bryan S. Turner dalam Religion and Modern Society-nya menjelaskan kalau interkoneksi (kerukunan) etnisitas dan agama menjadi problem dalam masyarakat modern.

Hubungan yang baik antar umat manusia dapat diupayakan dengan saling hormat-menghormati satu dengan yang lain. Sebab kemajuan teknologi komunikasi dan informasi hari ini, dunia (setiap negara) seakan tak punya sekat lagi, maka adalah sebuah keniscayaan bagi setiap negara untuk menerapkan kebebasan berekspresi yang saling menghormati satu sama lain.

Indonesia, sejak dulu sudah memiliki prinsip kebebasan berekspresi yang demikian. Ya, meski kadang ada sikap-sikap yang tak menghargai kebebasan berekspresi orang lain, semisal pelarangan cadar dan pelarangan merayakan natal di beberapa daerah. Hal yang amat disayangkan terjadi di negara yang amat menjujung kerukunan.

Prinsip kebebasan berekspresi yang saling menghormati satu sama lain tergambar dengan epik dalam semboyan yang dicengkram erat oleh Burung Garuda sebagai perlambangan Pancasila, “Bhineka Tunggal Ika.” Artinya, berbeda-beda, namun tetap satu.

Kita bisa saja berbeda–suku, budaya, serta agama–dan setiap kita punya kebebasan untuk berkespresi sesuai keyakinan. Namun, kita tetap satu, persatuan yang diperoleh dari sikap saling menghormati satu sama lain. Setiap kita memiliki kebebasan berekspresi dan saling menghormati kebebasan berekspresi orang lain. Dengan prinsip demikian, persatuan serta kerukunan akan selalu terjaga.

REKOMENDASI

Fatima Mernissi dan Sekelumit Problem Keperempuanan dalam Islam

Harakah.id - Fatima Mernissi adalah salah satu perempuan yang seringkali diacu dan dirujuk kala berbicara tentang peran perempuan dalam Islam. Dia...

Di Balik Keharamannya, Ini Sepuluh Efek Buruk Minum Khamr yang Mungkin Tidak Kamu Ketahui!

Harakah.id - Minum khamr melahirkan efek mabuk dan ngefly. Bagi sebagian orang, efek ini menjadi kenyamanan tersendiri karena dengan itu mereka...

Download Khutbah Jumat, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at

Harakah.id - Download Khutbah Jumat Juni, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at. Kutbah Pertama إِنّ...

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 97: Kehidupan yang Baik dan Imbalan Untuk Orang yang Beriman

Harakah.id - Tafsir Surah an-Nahl ayat 97 menjelaskan perkara soal kehidupan yang baik berikut imbalan untuk orang yang beriman. Berikut penjelasannya...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...