Beranda Gerakan Dialektika Politik dan Agama Kerajaan Bima Abad 18-19; Kesaksian Naskah Bo' Bumi...

Dialektika Politik dan Agama Kerajaan Bima Abad 18-19; Kesaksian Naskah Bo’ Bumi Luma Rasanae [2]

Harakah.idDialektika politik dan agama Kerajaan Bima abad 18-19 adalah satu babakan penting dalam dialektika poitik dan agama di Nusantara. Melalui tiga naskah Bima akan dilihat bagaimana agama dan politik bergerak dalam menentukan iklum wacana sosial di Bima abad 18-19.

Naskah pertama yang akan diacu untuk melihat dialektika politik dan agama Kerajaan Bima di abad 18-19 M adalah naskah “Bo’ Bumi Luma Rasanae“.

Menurut Henri Chambert-Loir, naskah pertama ini adalah sejenis fragmen dari sebuah Bo’. Yaitu semacam buku catatan harian yang ditulis secara teratur di kediaman salah seorang pembesar Bima, Bumi Luma Rasanae di kisaran tahun 1765-1790. Dengan kata lain, Bo’ Bumi Luma Rasanae ditulis di masa-masa awal pemerintahan Sultan Abdul Hamid Muhammad Syah.

Naskah Bo’ merupakan salah satu jenis naskah yang istimewa bila dibandingkan dengan sumber data historiografi klasik Melayu pada umumnya. Naskah Bo’, termasuk Bo’ Bumi Luma Rasanae, adalah arsip lokal yang merekam seluruh peristiwa, akta, kisah, piagam dan undang-undang yang berkaitan dengan banyak hal; agama, hukum, administrasi kerajaan, struktur masyarakat dan kehidupan sosial-kemasyarakatan pada umumnya.

Khusus untuk naskah Bo’ Bumi Luma Rasanae, Henri berpendapat bahwa posisinya sangatlah bernilai dan menentukan mengingat buku catatan besar yang asli di mana seluruh naskah Bo’ disandarkan, telah hilang tak berbekas. Bo’ Bumi Luma Rasanae adalah satu fragmen dari buku catatan besar tersebut yang masih tersisa dan bisa diakses.

Edisi naskah yang diteliti oleh Henri adalah sebuah fotocopy. Pada halaman pertamanya ada catatan “Lontara’ No. 152 Tersalin dari Lontara’ Muh. Djafar Rato Rasanae Bima” yang diberikan Christian Pelras yang menemukan fotocopy tersebut di tahun 1960-an. Edisi fotocopian naskah Bo’ Bumi Luma Rasanae yang ditelisi Henri pun ternyata bukan naskah asli. Ia adalah salinan dalam huruf latin yang dibuat di Makassar pada kisaran tahun 1932. Menurut Henri, si penyalin naskah yang dicatat oleh Pelras yaitu Muh. Djafar Rati Rasanae Bima adalah sekretaris pertama sultan yang bertama Bumi Mbojo Jafar. Edisi naskah ini pernah dikoleksi oleh Yayasan kebudayaan Sulawesi Setalan dan telah dimikrofilmkan tahun 1990 dengan rincian data;

No. 01/MKH/28 UnHas/UP.Buku Harian Bima (Dag Boek) thn 1775-1790. 120 hlm; Bahasa Indonesia-Melayu; kertas folio bergaris (32.8 x 21.1 cm) milik Yayasan kebudayaan Sul-Sel. Naskah lengkap, kecoklat-coklatan, bertinta hitam. Abad ke 18, Bima. Disalin oleh pegawai Matthes Stiching 1932, Makassar. (…) No. koleksi naskah 2948.

Rato Rasanae sendiri, nama dari Bo’ Bumi Luma Rasanae, adalah salah seorang pembesar Bima yang paling penting. Dia berposisi sebagai ketua Sara Tua, sebuah lembaga adat di Bima yang merupakan bilah kedua dari lembaga Sara Hukum yang diketuai oleh sorang Kadi. Artinya, Bumi Luma Rasanae memegang peranan penting sebagai pengambil kebijakan soal adat-istiadat dan tradisi masyarakat Bima pada umumnya.

Secara umum ada beberapa hal yang menjadi catatan filologis Henri sebelum ia menyuguhkan hasil suntingan naskahnya. Pertama adalah deskripsi naskah. Karena naskah Bo’ adalah sejenis catatan, maka bisa dipastikan ada kolom khusus untuk meletakkan tanggal, bulan, tahun dan kolom catatan. Naskah Bo’ 152 juga sama. Ada tiga garis yang dibuat di tiap halaman naskah. Satu garis horizontal sekitar 2.5 cm dari pinggir kertas untuk menulis angka tahun. Dua garis vertical disedikan untuk menulis nama-nama bulan dan halaman untuk teks catatan.

Baca Juga: Dialektika Politik dan Agama Kerajaan Bima Abad 18-19; Posisi Bima dan Kesaksian Tiga Naskah [1]

Selain deskripsi masalah, Henri juga memberikan catatan seputar edisi teks 152, beberapa model bahasa Melayu dalam teks 152 dan penanggalan yang digunakan. Cukup rinci kalau kita baca catatan penelitian yang ditulis Henri. Angka-angka mendominasi catatannya; angka tahun, halaman, versi naskah, tanggal, bulan dan kode-kode lainnya. Saya akhirnya agak heran ketika model penelitian filologis semacam ini berani diterbitkan secara komersil untuk khalayak. Saya pribadi, sebagai orang yang tidak paham seluk beluk naskah, tentu akan merasa bosan membaca puluhan lembar catatan penuh dengan kode dan simbol.

Dalam sub bab terakhir catatannya, Henri memberikan uraian terkait isi naskah. Hal ini yang menurut saya penting dieksplore. Mau bagaimanapun, naskah selalu terkait erat degan realitas pembentuknya. Isi naskah mau tidak mau juga harus diamati untuk mendapatkan gambaran mengenai dialektika agama dan politik di Kerajaan Bima sebagaimana tujuan awal buku ini. Apalagi Henri dengan menyakinkan menyatakan bahwa naskah Bo’ Bumi 152 adalah naskah Bo’ yang memiliki nilai sangat tinggi selain naskah Bo’ lainnya.

Ada empat hal yang dicatat oleh Henri terkait isi naskah; 1) negara dan pemerintahan, 2) diri Sri Sultan, 3) masyarakat lokal dan 4) hubungan luar negeri Kerajaan Bima. Dibandingkan Bo’ Sangaji Kai, menurut Henri, naksh Bo’ Bumi 152 lebih miskin informasi. Apa yang dimuat di dalamnya hanyalah “catatan-catatan pendek yang tidak selalu jelas”, “sarat nama tempat dan nama orang yang tidak selalu dapat dikenali” dan “menyangkut peristiwa yang remeh dan fragmentaris”.

Tidak seperti naskah Bo’ Sangaji Kai yang memuat “teks panjang” terkait dokumen, surat, kontrak dan undang-undang, yang disajikan dengan sistematis. Hal ini yang kemudian menjadikan Henri tidak banyak mendapatkan informasi. Dalam catatannya soal negara dan pemerintahan, Henri hanya menemukan kerumitan gelar dan menggambarkan sedikit hal tentang struktur kerajaan. Begitu juga informasi seputar masyarakat lokal yang hanya dilihat dari unsur agama dan ritualnya saja.

Bagi saya, ukuran yang dibuat oleh Henri terkait penilaiannya soal sedikit banyaknya informasi yang terkandung adalah ukuran yang sangat naif. Argumentasi apa yang menjelaskan bahwa sedikit banyaknya informasi bisa diukur melalui panjang dan pendeknya teks naskah? Kegagalannya dalam mengidentifikasi banyak nama orang dan nama tempat juga dijadikan alasan bahwa naskah Bo’ Bumi miskin informasi. Begitu juga dengan kegagalannya menyusun fragmen peristiwa-peristiwa di dalam naskah Bo’ Bumi.

Henri mungkin lupa bahwa fragmen peristiwa dan sejarah harusnya disusun dengan intertekstualitas. Dia tidak bisa menuntut sebuah naskah untuk sistematis dan lengkap menyajikan data sejarah. Dengan melakukan perbandingan fragmen dan informasi – yang mungkin remeh –, baik dengan fragmen peristiwa yang ada di dalam naskah Bo’ Bumi, dengan fragmen peristiwa yang ada di dalam naskah Bima lain maupun dengan fragmen sejarah rill yang dirasionalisasi, tentunya periode sejarah tersebut akan tersistematisasi dengan sendirinya. Ketika dibandingkan seperti itu, nama-nama orang dan tempat yang dia keluhkan akan dengan sendirinya menjadi jelas dan terang.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...