Beranda Gerakan Dialektika Politik dan Agama Kerajaan Bima Abad 18-19; Kesaksian Naskah Jawharatul Ma'arif...

Dialektika Politik dan Agama Kerajaan Bima Abad 18-19; Kesaksian Naskah Jawharatul Ma’arif [4 – Habis]

Harakah.idDialektika politik dan agama Kerajaan Bima abad 18-19 adalah satu babakan penting dalam dialektika poitik dan agama di Nusantara. Melalui tiga naskah Bima akan dilihat bagaimana agama dan politik bergerak dalam menentukan iklum wacana sosial di Bima abad 18-19

Naskah terakhir yang menjadi saksi dialektika politik dan agama Kerajaan Bima abad 18-19 M adalah naskah Jawharat al-Ma’arif. Menurut Oman Fathurrahman, teks Jawharat al-Ma’arif adalah teks politik atau apa yang dikenal dengan istilah fiqhus siyasah. Teks-teks semacam ini banyak sekali ditemukan dalam literatur naskah di Nusantara, yang secara tidak langsung memperlihatkan gagasan tentang terintegrasinya Islam dengan sistem politik kerajaanatau kesultanan di masa lalu.

Menurut Oman, membaca teks Jawharat al-Ma’arif mengingatkan dia pada membaca teks Nashihat al-Muluk karya al-Ghazali yang cukup terkenal dan menjadi rujukan fikih siyasah di Nusantara selain tentunya karya lain seperti al-Ahkam al-Sulthaniyyah karya al-Mawardi. Oman menyebutkan sebuah naskah Banten berjudul al-Mawahib al-Rabbaniyyah ‘an al-As’ilah al-Jawiyah yang ditulis oleh Muhammad Ibn ‘Allan Ibn ‘Allan. Kitab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa Pegon ini ditulis atas permintaan langsung Sultan Abu al-Mafakhir, penguasa Kesultanan Banten (1626-1651). Hal-hal yang dikemukakan di dalam kitab tersebut sama jelas-jelas merujuk kepada kitab al-Ghazali. Selain al-Mawahib, Oman juga memberikan contoh naskah Taj al-Salatin, yang menurutnya juga mewarisi model fiqih siyasah ala Nashihat al-Muluk.

Menurut Oman, naskah-naskah fiqih siyasah semacam ini sangatlah penting. Ia adalah rujukan konseptual di mana kita bisa menguji bagaimana proses integrasi nilai-nilai keislaman dalam sistem politik berlangsung. Naskah-naskah fiqih siyasah, sedikit banyak meninggalkan jejak karakter kesultanan atau kerajaan tempat naskah itu berasal. Maka naskah Jawharat al-Ma’arif secara tidak langsung juga akan menjadi cerminan dialektika politik dan agama Kerajaan Bima yang juga dikenal kental dengan aroma Islamnya. Dibandingkan dua teks fiqih siyasah sebelumnya, naskah Jawharat al-Ma’arif menurut Oman ternyata berasal dari periode waktu yang lebih belakangan. Dalam kolofon naskahnya sendiri terdapat catatan bahwa teks ini selesai ditulis pada 2 Jumadil Akhir 1299 H atau 21 April 1882 M.

Namun yang menarik, meskipun isinya secara tidak langsung berkaitan erat dengan gaya kitab al-Ghazali, kitab Jawharat al-Ma’arif justru merujuk kepada kitab Syams al-Ma’arif wa Latha’if al-Awarif yang di kalangan pesantren lebih dikenal sebagai kitab hikmah dan perdukunan. Meski begitu, Oman mengaku tidak menemui beberapa kutipan yang dirujuk oleh Jawharat al-Ma’arif di dalam kitab aslinya.

Berdasarkan hasil pengamatan ini, Oman berkesimpulan bahwa karakteritsik kitab politik Islam Bima adalah konten-kontennya menggabungkan penjelasan soal etika politik para raja jawa berdasarkan ajaran tasawwuf al-Ghazali sekaligus memadukannya dengan ilmu hikmah atau ilmu ghaib. Dengan kata lain, dalam sistem politik kerajaan Bima, porsi hikmah dan hal-hal ghaib lainnya masihlah mendapatkan tempat yang cukup krusial.

Naskah Jawharat al-Ma’arif yang diteliti dan akan disunting oleh Oman adalah naskah yang tersimpan di Museum Samparaja Bima dan telah dikatalogisasi oleh Mulyadi dan Salahuddin. Oman juga menyebutkan beberapa ciri dan deskripsi naskah yang akan dibacanya, sekaligus memberikan beberapa catatan terkait sesuatu yang menjanggal dan lain sebagainya.

Post-Scriptum

Upaya mendialogkan ketiga naskah di atas adalah upaya yang patut diapresiasi, meskipun memang butuh upaya lanjutan untuk menggambarkan sejarah dinamika politik dan agama Kerajaan Bima. Sebagaimana yang saya katakan di awal, visi buku ini tampaknya memang sangat tendensius ketika hendak menggambarkan proses dinamika dua unsur paling abstrak dan fluktuatif dalam wacana sosial-kemasyarakatan; politik dan agama, dalam kisaran hampir satu abad lamanya. Ketiga naskah memang memberikan informasi yang cukup berharga, namun ada hal lain yang harus digunakan sebagai pembanding untuk mengisi alur yang kosong yang tidak diceritakan oleh ketiga naskah tersebut secara langsung.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...