Beranda Gerakan Dialektika Politik dan Agama Kerajaan Bima Abad 18-19; Posisi Bima dan Kesaksian...

Dialektika Politik dan Agama Kerajaan Bima Abad 18-19; Posisi Bima dan Kesaksian Tiga Naskah [1]

Harakah.idDialektika politik dan agama Kerajaan Bima abad 18-19 adalah satu babakan penting dalam dialektika poitik dan agama di Nusantara. Melalui tiga naskah Bima akan dilihat bagaimana agama dan politik bergerak dalam menentukan iklum wacana sosial di Bima abad 18-19.

Artikel berseri ini adalah review atas buku Iman dan Diplomasi: Serpihan Sejarah Kerajaan Bima (Jakarta: KPG, Ecole Francaise d’Extreme-Orient dan Direktorat Jenderal Sejarah-Purbakala, 2010) yang ditulis oleh Henri Chambert-Loir, Massir Q. Abdullah, Suryadi, Oman Fathurrahman dan Siti Maryam Salahuddin. Tiga naskah Bima yang diacu adalah Naskah Bo’ Bumi Luma Rasanae, Sepuluh Surat Sultan Bima Abdul Hamid Muhammad Syah dan Jawharat al-Ma’arif. Dari naskah-naskah ini akan dilihat bagaimana dialektika politik dan agama Kerajaan Bima di abad 18-19 M.

Pra-Scriptum

Tidak banyak yang mengenal Bima. Sebuah petak di tanah Nusa Tenggara bagian timur Indonesia yang mungkin hanya terekam dalam pikiran manusia Indonesia sebagai salah satu tempat wisata. Keindahan alamnya memang tak usah ditanya. Berhadap-hadapan langsung dengan Laut Flores, Nusa Tenggara dan Sumba adalah untaian berlian yang terombang-ambing dibelai laut Hindia. Entah sudah beberapa kali Australia terpikat dan mencoba merebutnya dari Indonesia. Tapi yang pasti Bima adalah primadona yang bersanggul matahari dan bergincu senja.

Kalau diamati dari bujur rute pelayaran rempah di sepanjang pesisir utara pulau-pulau di bagian selatan Indonesia, Bima tak ubahnya pangkalan dan dermaga kapal karena letaknya yang head to head dengan laut. Dalam sejarah, beberapa tokoh seperti Nyi Gede Pinatih, Ibunda Sunan Giri dan Ratu Ageng, Nenek Diponegoro, ternyata membangun bisnis perdagangan dengan memanfaatkan rute pelayaran dari Jawa sampai Bima. Pinang, jahe dan beberapa rempah khas Nusantara berebutan keluar dari tanah Nusa Tenggara yang subur. Seluruhnya ditumpuk di kota pelabuhan Bima, termasuk beberapa produk kain olahan dan barang-barang berkualitas wahid lainnya, untuk disalurkan ke tempat-tempat jauh nun di sana.

Baca Juga: Debat Diponegoro Versus Kiai Mojo Soal Bentuk Khilafah Model “Sayyidin Panatagama Khalifatullah Ing Tanah Jawi”

Ratu Ageng misalnya, dalam catatan Peter Carey, menjadikan Bima sebagai salah satu tujuan impor-ekspor Desa Tegalrejo babatannya. Kesuksesan bisnis dagang dengan Bima adalah salah satu sekian banyak faktor penentu kesuksesan Perang Jawa selain agenda maksimalisasi produk bumi dan restorasi kebudayaan. Nyi Gede Pinatih juga membangun kerajaan niaganya dari rute yang sama. Ditemukannya Sunan Giri yang mengambang di tengah Selat Bali oleh salah satu awak kapalnya, menunjukkan bahwa rute Bali hingga Bima adalah jalur pelayaran dagang yang padat dan ramai sejak dulu. Rute ini, beberapa puluh tahun kemudian, dimanfaatkan Sunan Giri Prapen untuk menyebarkan Islam Nusantara hingga Bali dan Lombok.

Ditinjau dari posisi strategisnya sebagai pangkalan besar yang memotong jalur rempah, Kerajaan Bima sudah pasti memiliki pengaruh yang cukup besar dalam geliat perpolitikan dan ekonomi, bukan hanya di Nusa Tenggara, namun juga di seantero Nusantara bahkan dunia. Dengan demikian, Bima secara tidak langsung juga menjadi patahan realitas yang wajib ditinjau dan diamati dalam proses penulisan sejarah Islam Nusantara. Buku yang hendak saya ulas adalah upaya meletakkan Bima dalam lingkaran posisi strategisnya tersebut. Dengan memanfaatkan tiga naskah Bima, empat orang filolog akan mencoba menyusun mozaik sejarah dan dialektika politik dan agama Kerajaan Bima di kisaran tahun 1775 hingga 1882, khususnya sejarah dan pergolakan yang terjadi di sekitar masalah Agama dan Politik.

Penelitian yang diangkat dalam buku ini sudah bisa dipastikan adalah penelitian filologis. Henri Chambert-Loir, Suryadi dan Oman Fathurrahman adalah nama-nama yang dalam beberapa dasawarsa terakhir familiar dalam kancah studi naskah dan filologi. Di sisi yang lain, sebagian besar dari isi buku ini memang upaya penyuntingan naskah yang sangat filologis. Karena filologis, maka langkah katalogisasi, komparasi, memperkirakan, menyunting dan validasi teks naskah begitu dominan dalam buku ini. Tapi tak berhenti di sana. Karena yang hendak digambarkan adalah dialektika politik dan agama dalam lingkungan kerajaan Bima yang disandarkan kepada data informasi dalam naskah, maka seluruh kerja penyuntingan naskah dalam buku ini tak luput dari memberikan titik kait materi dan konten naskah dengan jaringan diskursus yang terbentuk di sekitar dua tema tersebut.

Baca Juga: Jejak Khilafah di Nusantara, Begini Pendapat Para Pakar Sejarah Soal Hubungan Jawa dan Turki Ottoman

Beriringan dengan ulasan mengenai upaya penyuntingan masih-masing dari ketiga naskah yang ada, saya juga akan menyusupkan beberapa catatan sederhana utamanya terkait keputusan meletakkan ketiga naskah tersebutsebagai sumber informasi bagi penyusunan dan penggambaran sejarah kerajaan Bima. Tentu akan banyak ditemukan celah untuk dikritisi. Memanfaatkan tiga naskah yang tidak terlalu tebal untuk menggambarkan dialektika politik dan agama Kerajaan Bima selama hampir satu abad tentu pekerjaan yang tendensius. Tapi asumsi itu kita hela sejenak dan mari memulai mengamati pekerjaan filologis tersebut.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...