Beranda Tokoh Didi Kempot: Sang Legenda dan Tetesan Air Mata Sobat Ambyar

Didi Kempot: Sang Legenda dan Tetesan Air Mata Sobat Ambyar

Harakah.id – Semua yang di bumi akan pergi, namun karya tetap abadi.

Pagi tadi, mendengar kabar kepergian sahabat, idola, maestro sekaligus guru, badan saya mendadak lemas. Meski ia pernah bilang, “daripada patah hati, mending dijogeti”, hati saya tetap patah, loh ing pipi (air mata di pipi, begitu ia menyebut) mengalir tak tertahan.

Dan bagaimana saya bisa berjoget, jika bangsa ini kehilangan salah satau sosok pemersatu? Kehilangan sosok penting pejuang kebudayaan?

Ada rasa tak percaya, Sang Maestro Campur Sari, Sang Godfather of Broken Heart itu telah meninggalkan kita semua.

Rasanya baru kemarin, ia bernyanyi di tengah-tengah kita semua. Menemani setiap ruang terkecil saat dada kita sesak. Menjadi cermin terhadap situasi dulu dan kini. Lagu-lagunya juga menjadi semacam cara mengungkapkan apa yang tengah kita semua alami dan rasakan.

Saya mengenal dekat Mas Didi Kempot. Bagi saya, ia bukan hanya seorang pencipta ratusan lagu, bukan hanya penyanyi, bukan hanya seorang tangguh yang telah mencecap asam garam kehidupan. Ia adalah sosok guru yang mengajarkan banyak hal, baik dari lagu, tutur dan tindak tanduknya.

Mas Didi adalah sosok yang sangat amat rendah hati. Setiap kali diundang, ia selalu datang. Tak pernah peduli siapa yang mengundang, asal ia bisa, ia pasti akan bilang “iya”. Mas Didi juga adalah sosok yang selalu mengutamakan kemanusiaan.

Hangat dalam ingatan saya, saat Mas Didi diundang untuk mengisi Konser Amal Pagar Nusa beberapa bulan lalu di TMII. Ia datang, meski undangan itu dikirim H-1 acara.

Masih hangat juga diingatan kita semua, baru beberapa minggu lalu ia menggelar konser galang dana untuk membantu pemerintah memerangi covid-19. Tak tanggung-tanggung, 7,6 miliar ia kumpulkan dalam beberapa jam saja.

Setiap kali ia diundang konser di Jakarta, ia selalu memilih menginap di daerah Slipi. Ya, hingga sekarang ia tak pernah lupa dari mana ia besar. Dari mana ia memulai mengukir garis perjuangan hidupnya.

Saya selalu meneteskan air mata, ketika mengingat nyaris setiap hari ia menelfon saya untuk sekadar mengirim kabar di mana ia berada. Betapa ia adalah seorang sahabat yang amat menghargai persahabatan.

Banyak sekali ingatan yang membekas di hati saya. Saking banyaknya, saya tak bisa mengurai satu per satu dalam obituari sederhana ini.

Kini Mas Didi telah berpulang terlebih dahulu. Meninggalkan kenangan yang amat begitu banyak hal kepada kita semua. Soal hidup, soal hubungan, dan seabrek lainnya.

Sebagaimana ia sering berpesan, “apa saja yang jadi masalahmu, kuat tidak kuat kamu harus kuat. Tapi misalnya kamu tidak kuat, ya harus kuat”. Kita yang ditinggalkan harus tetap kuat, meneruskan jejak perjuangan untuk kemanusian dan kebudayaan Sang Legenda yang kita cintai. Meski, air mata dan kesedihan tak bisa dihindari.

Semua yang di bumi akan pergi, namun karya tetap abadi.

Selamat jalan, Mas Didi. Doa dan linangan air mata semoga menjadi bukti, bahwa engkau layak ditempatkan Tuhan di tempat yang paling baik.

Sahabatmu,

Emha Nabil Haroen

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...