Dinamika Sekte Teologi Murji’ah, Terpecah Menjadi Kelompok yang Moderat Sampai yang Ekstrem

0
103
Dinamika Sekte Teologi Murji'ah, Terpecah Menjadi Kelompok yang Moderat Sampai yang Ekstrem

Harakah.idTeologi Murji’ah adalah salah satu sekte teologi yang muncul dalam sejarah Islam. Dalam perkembangannya, sekte ini terpecah menjadi banyak kelompok, dari yang moderat sampai yang ekstrem.

Perkembangan kelompok-kelompok teologi dalam sejarah Islam adalah episode sejarah yang menarik. Karena selain berkembang sebagai sebuah gelanggang kontestasi gagasan mengenai Tuhan dan yang berkaitan, ia juga berkembang beriringan bersamaan dengan konstelasi politik yang terjadi. Diakui atau tidak, munculnya kelompok-kelompok teologi, termasuk teologi Murji’ah, mula-mulanya dipicu oleh konstelasi politik yang ada.

Selain nama-nama sekte teologi lain seperti Syiah, Muktazilah, Khawarij dan Asy’ariyah, sekte teologi Murji’ah juga memegang peranan yang tak kecil dalam membentuk sejarah perkembangan teologi Islam di satu sisi, dan di sisi yang lain, sejarah peradaban Islam itu sendiri. Pun demikian dalam perkembangannya, teologi Murji’ah, sebagaimana kelompok teologi lainnya, juga mengalami perkembangan internal dan mengalami perpecahan menjadi beberapa kelompok sempalan.

Murji’ah adalah aliran Islam yang muncul dari golongan yang tak sepaham dengan Khawarij. Ini tercermin dari ajarannya yang bertolak belakang dengan Khawarij. Pengertian murji’ah sendiri ialah penangguhan vonis hukuman atas perbuatan seseorang sampai di pengadilan Allah SWT kelak. Jadi, mereka tak mengkafirkan seorang Muslim yang berdosa besar, sebab yang berhak menjatuhkan hukuman terhadap seorang pelaku dosa hanyalah Allah SWT. Seorang Muslim, sekalipun melakukan dosa besar, menurut kelompok ini tetap diakui sebagai Muslim dan punya harapan untuk bertobat.

Secara garis besar, ajaran-ajaran pokok Murji’ah adalah:

1.    Pengakuan iman cukup hanya dalam hati. Jadi pengikut golongan ini tak dituntut membuktikan keimanan dalam perbuatan sehari-hari. Ini merupakan sesuatu yang janggal dan sulit diterima kalangan Murji’ah sendiri, karena iman dan amal perbuatan dalam Islam merupakan satu kesatuan.

2.    Selama meyakini dua kalimah syahadat, seorang Muslim yang berdosa besar tidak dihukumi kafir. Hukuman terhadap perbuatan manusia ditangguhkan, artinya hanya Allah yang berhak menjatuhkannya di akhirat.

Tokoh utama aliran ini adalah Hasan bin Bilal Muzni, Abu Sallat Samman, dan Diror bin Umar. Dalam perkembangan selanjutnya, aliran ini terbagi menjadi kelompok moderat (dipelopori Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib) dan kelompok ekstrem (dipelopori Jahm bin Shafwan).

Hari ini, secara kelembagaan, kelompok Murji’ah mungkin sudah tidak ada. Atau dengan kata lain, sudah punah. Kalaupun masih diperbincangkan, ia hanya menjadi satu titik dalam fase perjalanan sejarah peradaban Islam. Tapi adakah yang hari ini masih menganut paham Murji’ah, tanpa menyebut dirinya Murji’ah? Mungkin masih ada.