fbpx
Beranda Khazanah Ditawan Kaisar Romawi, Kisah Pasukan Umar Bin Abdul Aziz yang Tetap Hidup...

Ditawan Kaisar Romawi, Kisah Pasukan Umar Bin Abdul Aziz yang Tetap Hidup Meski Dengan Kepala Terpenggal

Harakah.id – Kisah pasukan Umar bin Abdul Aziz yang tetap hidup meski dipenggal kepalanya. Satu kompi pasukan yang kala itu dikirim oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz ke Romawi. Pasukan-pasukan ini kemudian ditawan dan dipenggal kepalanya.

- Advertisement -

Baru-baru ini, umat muslim dibuat heboh dengan tragedi penikaman Syaikh Ali Jabir. ‘Beruntungnya’ (meskipun penikaman tak layak disebut sebagai keberuntungan), penikaman tersebut hanya melukai bagian tangan, tidak melukai bagian vital seperti kepala. Ketika manusia telah dipenggal kepalanya, maka secara otomatis kepala tersebut tidak akan bisa melakukan apapun karena telah divonis is dead.

Lalu, bagaimana jika terdapat seorang manusia yang setelah dipenggal, kepalanya bisa berputar-putar sembari berbicara? Horor, kan? Kisah ini pernah terjadi di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang diceritakan oleh Syaikh Muhammad bin Abu Bakr al-Ushfury dalam al-Mawaidz al-Ushfuriyyah. Tentang kisah pasukan Umar bin Abdul Aziz yang tetap hidup meski kepalanya putus. Bagaimana kisah lengkapnya?

Baca Juga: Debat Nabi Musa Versus Imam al-Ghazali yang Dimoderatori Rasulullah, Kisah Unik Tentang Kecerdasan Imam al-Ghazali

Dikisahkan bahwa semasa menjabat sebagai seorang khalifah, Umar bin Abdul Aziz pernah mengutus beberapa orang ke Romawi untuk berperang; namun dalam peperangan tersebut para utusan kiriman dari khalifah kalah. Sebanyak dua puluh orang dari mereka menjadi tawanan Kaisar Ramawi. Dua puluh orang yang menjadi tawanan tersebut, diperintahkan oleh Kaisar Ramawi untuk menyembah berhala. Jika mereka menolak, maka mereka akan dipenggal kepalanya. Jika mereka bersedia menyembah berhala, maka akan dijadikan sebagai pemimpin di kota yang besar, diberi ilmu, pembebasan, arak, dan kenikmatan lainnya. 

Salah satu tawanan dengan tegas menolak tawaran Kaisar dan tidak mau menjual agamanya dengan dunia. Akhirnya, tawanan tersebut langsung dipenggal kepalanya dan kejadian menakjubkan terjadi di lapangan kerajaan. Kepala yang telah terlepas dari tubuhnya tersebut, berputar-putar di lapangan sebanyak tiga putaran dan membacakan surat al-Fajr ayat 28-30:

. ارجعى الى ربك راضية مرضية. فادخلى فى عبادي. وادخلى جنتي

“Kembalilah kepada Tuhan-mu dengan hati yang ridha dan juga diridhai (oleh-Nya). Masuklah ke dalam (golongan) hamba-Ku. dan masuklah ke dalam surga-Ku”

Kaisar Ramawi justru semakin marah melihat keajaiban tersebut dan mengambil satu tawanan lagi untuk dieksekusi. Tawanan selanjutnya memiliki jawaban yang sama dengan tawanan sebelumnya. Ia mengatakan bahwa hukuman memang bisa memutus lehernya, tetapi tidak bisa memutus keimanannya. Jawaban tersebut langsung dibalas dengan penggalan kepala. Setelah kepala terputus, kejadian serupa terjadi. Kepala berputar-putar di lapangan sebanyak tiga kali dengan membaca surat al-Haqqah ayat 21-23:

فهو فى عيشة راضية. فى جنة عالية. قطوفها دانية. 

“Maka orang tersebut berada dalam kehidupan yang diridhai. Dalam surga yang tinggi. Buah-buahannya (pun) dekat”

Tawanan yang kedua semakin membuat kemarahan Kaisar memuncak. Ia segera memanggil tawanan selanjutnya. Tawanan yang ketiga ini memilih menjual agamanya pada dunia. ia memilih beriman kepada berhala. Kaisar dengan senyum kemenangan berkata pada menterinya, “Tulislah surat perintah untuk menjadi pemimpin dan berikan padanya kebebasan, tempat tinggal, dan ilmu”.

Baca Juga: Tukang Jagal yang Selalu Diikuti Awan, Kisah Seseorang yang Diberi Karomah Karena Pertaubatannya yang Total

Sang menteri masih meragukan pengalaman tawanan ini, sehingga ia meminta kepada Kaisar untuk mengujinya terlebih dahulu dengan membunuh temannya sendiri. Tawanan yang ketiga ini segera mengambil pedang dan menebas kepala rekannya sendiri. Melihat kejadian ini sang menteri berkata kepada Kaisar, “Wahai Raja, ini sungguh berbahaya. Teman yang tumbuh bersamanya telah lama saja dikhianati, lalu bagaimana dia bisa menjaga kepercayaan kita?”. Akhirnya Kaisar menyuruh memenggal kepala tawanan yang ketiga tersebut.

Ketika kepalanya terpenggal dan terpisah, kejadian ajaib seperti sebelumnya juga terjadi. Kepala berputar-putar di lapangan sebanyak tiga kali, tetapi ayat yang diucapkan adalah ayat siksa (surat az-Zumar ayat 19):

افمن حق عليه كلمة العذاب افانت تنقذ من فى النار

“Apakah (kamu hendak mengubah nasib) orang-orang yang telah pasti mendapatkan siksa? Apakah kamu akan (mampu) menyelamatkan orang-orang yang berada di dalam api neraka?”

Kepala tawanan yang ketiga ini jatuh di ujung lapangan dan berada terpisah jauh dengan dua kepala tawanan sebelumnya. Dua kepala sebelumnya mendapatkan ridha Allah, sedangkan kepala yang ketiga mendapatkan siksa dari Allah.

Baca Juga: Kisah Zulkifli, Pria Bani Israil Dengan Ketampanan Mirip Yusuf yang Menolak Godaan Seorang Perempuan Cantik

Itulah kisah pasukan Umar bin Abdul Aziz yang masih hidup dengan kepala yang sudah dipenggal. Sebuah kisah yang menyimpan hikmah begitu besar.

REKOMENDASI

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

Marxisme Tidak Melulu Soal Komunisme dan Atheisme, Begini Cara Menjadi Sosialis yang Islami Ala...

Harakah.id – Tuduhan bahwa Marxisme dan Sosialisme selalu melahirkan Komunisme dan Atheisme sebenarnya kurang tepat. Buktinya Soekarno, seorang pembaca marxis dan...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...