Beranda Keislaman Ditinggal Orang Tercinta Saja Sudah Berat, Stop Stigmatisasi Korban Corona

Ditinggal Orang Tercinta Saja Sudah Berat, Stop Stigmatisasi Korban Corona

Harakah.id – Setelah memahami protokol pengurusan dan penguburan jenazah positif COVID-19, seharusnya edukasi tentang hal ini perlu disebarkan kepada masyarakat awam terutama yang tidak ada jangkauan internet ataupun saluran televisi agar tidak ada lagi stigma berupa kekhawatiran yang berlebihan seperti penolakan jenazah yang terjadi sebelum-sebelumnya.

Beberapa waktu lalu di berbagai media berita baik itu media cetak, media online, radio ataupun televisi mengabarkan adanya stigma masyarakat tentang virus corona berupa penolakan terhadap jenazah positif COVID-19.

Penolakan terjadi di berbagai wilayah. Salah satunya terjadi di Medan. Tersebar spanduk di beberapa gapura kelurahan yang dengan jelas menolak pemakaman jenazah positif COVID-19. Di Banyumas, ambulan yang membawa jenazah dilempari batu oleh sejumlah masyarakat yang menolak pemakaman jenazah. Dan baru-baru ini, di Semarang penolakan jenazah seorang perawat RSUP Dr. Kariadi berusia 38 tahun. Perawat ini meninggal dunia akibat tertular virus corona setelah menangani pasien positif COVID-19.

Baca Juga: Beberapa Catatan Pemulasaraan Agar Jenazah Pasien Corona Tidak Membahayakan

Di beberapa wilayah lain, bermunculan stigma yang sama. Alasannya adalah rasa khawatir yang berlebihan dari masyarakat bahwa virus corona yang ada pada jenazah tersebut dapat ditularkan melalui udara atau air tanah yang mana air tersebut digunakan untuk kebutuhan hidup masyarakat di wilayah tersebut. Padahal berdasarkan pemaparan WHO, virus corona tidak akan menular lewat udara kecuali adanya tindakan yang bersifat aerosol, itupun terjadi pada mulut dimana virus akan bertahan di udara selama 3 jam setelah disemprotkan aerosol tersebut. Dan hal ini biasanya terjadi di rumah sakit. Sedangkan penularan melalui air tanah tidak akan terjadi karena jenazah positif COVID-19 ini dimakamkan sesuai protokol yang telah ditetapkan.

Fenomena ini cukup menjadi perhatian banyak kalangan karena stigma yang terjadi di masyarakat berdampak terhadap psikologi keluarga jenazah. Berita duka karena kehilangan anggota keluarga sudah membuat kesedihan yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan, sekarang ditambah lagi bebannya karena harus menghadapi stigma.

Beberapa kepala daerah telah memberikan himbauan kepada masyarakat untuk tidak perlu khawatir karena virus yang ada di jenazah tidak akan menular serta memohon kepada masyarakat untuk tidak menolak jenazah yang akan dimakamkan di wilayahnya. Dokter Forensik Edi Suyanto SpF, SH, MH memberikan penegasan bahwa jenazah yang sudah ditangani sesuai protokol yang berlaku, memiliki risiko sangat kecil untuk menularkan virus corona. Secara ilmu kedokteran, korban atau jenazah kemungkinan menularnya sudah tidak ada. Virus corona harus hidup pada inangnya sedangkan jika inangnya sudah mati, maka virusnya juga ikut mati. Sama seperti virus pada HIV/AIDS atau H5N1 (Flu Burung).

Baca Juga: Ibn Sina, Covid 19, dan Tumbuhan Penangkal Wabah

COVID-19 ini termasuk ke dalam penyakit wabah/pandemik sehingga tata cara pengurusan/pemulasaran jenazah positif COVID-19 ini harus sesuai dengan protokol yang telah ditetapkan oleh Fatwa MUI Nomor 18 Tahun 2020 dan edaran Direktoran Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia. Protokol pengurusan jenazah positif COVID-19 ini sedikit berbeda dari pengurusan jenazah biasa. Dalam Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah COVID-19, terdapat poin bahwa pengurusan (memandikan dan mengafani) jenazah terpapar virus corona harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat. Sedangkan pada tahap menyalatkan dan menguburkan jenazah pasien corona, MUI menegaskan, dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar virus korona.

Hal yang harus diperhatikan terkait pengurusan jenazah adalah :

  • Pengurusan jenazah hanya boleh dilakukan oleh pihak dinas kesehatan atau rumah sakit secara resmi yang sudah ditunjuk, seperti rumah sakit tempat meninggalnya pasien.
  • Jenazah korban COVID-19 ditutup dengan kain kafan atau bahan yang terbuat dari plastik yang mampu menahan air, juga dapat pula ditutup dengan bahan kayu atau bahan lain yang tidak mudah tercemar.
  • Petugas dilarang membuka kembali jenazah sudah dikafani atau dalam kondisi terbungkus kecuali dalam keadaan mendesak seperti autopsi, dan hanya dapat dilakukan petugas.
  • Jenazah disemayamkan tidak lebih dari 4 jam.

Hal yang harus diperhatikan terkait penguburan jenazah adalah:

  • Proses penguburan jenazah harus dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam syariah dan protokol medis jenazah yang sudah melalui proses sebelumnya sesuai aturan medis, kemudian langsung dimasukkan bersama dengan peti ke dalam liang kubur.
  • Penguburan beberapa jenazah dalam satu liang lahat diperbolehkan karena sudah termasuk dalam ketentuan ad-dlarurah as-syar’iyyah atau kondisi darurat.
  • Lokasi penguburan mesti berjarak setidaknya 50 meter dari sumber air tanah yang digunakan untuk minum dan 500 meter dari pemukiman terdekat.
  • Jenazah dikubur pada kedalaman 1,5 meter lalu ditutup dengan tanah setinggi satu meter.
  • Setelah semua protokol jenazah dilaksanakan dengan baik, maka pihak keluarga dapat turut dalam penguburan jenazah.

Setelah memahami protokol pengurusan dan penguburan jenazah positif COVID-19, seharusnya edukasi tentang hal ini perlu disebarkan kepada masyarakat awam terutama yang tidak ada jangkauan internet ataupun saluran televisi agar tidak ada lagi stigma berupa kekhawatiran yang berlebihan seperti penolakan jenazah yang terjadi sebelum-sebelumnya.

Baca Juga: Ragam Keberagamaan Muslim Indonesia di Masa Pandemik Corona

Bukankah dalam Islam pengurusan jenazah ini hukumnya adalah fardhu kifayah? Artinya, sudah ada pihak berwenang dalam pemulasaran jenazah yang sesuai protokol, sehingga walaupun kita tidak ikut dalam proses pemakamannya minimal kita tidak ikut memberikan stigma terhadap jenazah ataupun keluarga yang ditinggalkan. Selain itu, jika ada orang di sekitar kita yang meninggal dunia akibat COVID-19 kita dapat melakukan takziyah sesuai adab yang pernah disampaikan Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, hal. 437), sebagai berikut:

آداب المعزّي: خفض الجناح، وإظهار الحزن، وقلة الحديث، وترك التبسم فإنه يورث الحقد.

“Adab orang bertakziah, yakni menghindari sebanyak mungkin hal-hal yang tidak pantas atau tabu, menampakkan rasa duka, tidak banyak berbicara, tidak mengumbar senyum sebab bisa menimbulkan rasa tidak suka.”

Selain itu, dalam kondisi wabah seperti ini kita harus selalu melakukan upaya pencegahan dengan selalu memakai masker, mencuci tangan, juga menjaga jarak ketika kontak dengan siapapun, sehingga sebaiknya takziyah dilakukan secara bergantian (tidak berkerumun). Khususnya terhadap keluarga jenazah alangkah baiknya kita meningkatkan solidaritas dengan saling bahu-membahu membantu meringankan beban keluarga yang ditinggalkan, kita bisa membantunya dengan memberikan santunan berupa materi, semangat dan hal-hal positif agar kesedihan yang mendalam ini tidak berkepanjangan, serta jangan berhenti mengedukasi siapapun untuk tetap waspada dan melakukan tindakan preventif berupa pencegahan sejak dini dalam melawan virus corona bersama-sama.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...