fbpx
Beranda Kolom Dua Muka Pandemi, Runtuhnya Universalitas dan Momen Ketika “Yang Lokal” Merembes Keluar

Dua Muka Pandemi, Runtuhnya Universalitas dan Momen Ketika “Yang Lokal” Merembes Keluar

Harakah.id Ketika “yang lokal” merembes keluar, ia menandakan satu fase ketika apa yang manusia modern idealkan soal kehidupan ternyata memiliki level kerentanan tinggi dan cenderung rapuh lalu runtuh. Pandemi menuntun manusia untuk kembali kepada dirinya sendiri, kepada ibu dan tanahnya sendiri.

Bu Murni mungkin tidak akan pernah menyangka kalau pandemi akan mendatangkan berkah. Di sudut kecil Cengkareng yang ramai, Bu Murni bersama ibu-ibu, tetangganya, membungkusi hampir 100 “sego berkat” tiap harinya. Dari pori-pori daun jati yang membungkusi sego berkatnya, rumah yang terletak di sela-sela enigma gang ibukota itu tak lagi sulit ditemukan. Aroma sambal goreng dan lelauk Wonogiri yang khas membuat rumah Bu Murni akrab dikunjungi banyak orang.

Bu Murni, seperti kebanyakan orang, adalah korban pandemi. Pekerjaan sulit didapatkan. Hidup semakin rumit dan mengkhawatirkan. Mau keluar rumah takut virus, diam di rumah potensi tak makan. Bu Murni, seperti kebanyakan orang, adalah pihak-pihak yang terjebak di antara keroncong perutnya sendiri dan kebijakan negara yang serba ambigu nan membingungkan.

Pandemi memaksa Bu Murni dan jutaan pekerja lainnya mundur ke belakang, sedikit demi sedikit mendorong mereka ke bibir jurang. Banyak di antara mereka yang terjungkal dan jatuh ke dalam lubang. Bagi sebagian orang yang selama ini menggantungkan hidupnya pada ibukota, pulang ke kampung halaman adalah pilihan yang paling rasional. Bagi mereka yang masih punya sebidang tanah untuk digarap, pulang untuk bertani bisa jadi jalan keluar. Tapi bagi mereka yang sudah tidak punya lahan, pulang tetap jadi pilihan paling mungkin karena biaya hidup di desa jauh lebih murah dan memberi mereka waktu untuk bernafas lebih panjang.

Sedikit sekali pekerja yang bertaruh hidup dan tetap memilih tinggal di ibukota. Salah satunya adalah Bu Murni. Mereka harus memutar otak dan mencari jalan keluar di tengah kepungan pandemi. Hidup selamanya tentang pertaruhan, dan untuk hidup, para petarung ini mempertaruhkan apa saja demi mendapatkan sedikit uang dan kesempatan untuk makan. Tapi memang tidak mudah – dan tak ada juga yang mengatakan demikian.

nucare-qurban

Dalam situs peradaban yang membiak tumbuh dalam anatomi supremasi universalisme, tatanan sosial tak pelak runtuh sampai puingnya yang paling remah. Logika urbanisasi berubah dalam hitungan hari. Kota-kota ditinggalkan bak wilayah hantu. Desa kembali ramai. Di awal-awal kentongan pandemi dibunyikan, eksodus besar-besaran terjadi. Bingarnya pergerakan manusia dari kota ke desa tak lagi menunggu momen lebaran. Cukup sezarrah mahluk yang hingga kini masih diperdebatkan muncul dari mana, yang mampu membuat manusia lari tunggang-langgang.

Pandemi juga memaksa manusia kembali ke ritus-ritus pertapaan. Mereka dipaksa diam di rumah, meninggalkan keramaian dan pergi menjauh dari manusia-manusia lainnya. Pandemi menghadirkan ambiguitas dan membelah eksistensi manusia; fisiknya hidup di masa modern dan tinggal dalam peradaban gedung beton, tapi jiwanya kembali masuk ke jaman pra sejarah dan hidup dalam gua-gua batu yang dingin dan gelap.

Tapi mungkin hanya dengan cara itu manusia bisa kembali memperhitungkan asal muasalnya. Genetika petapa yang selama ini hangus dan menguap dalam kebisingan, lahir kembali dalam wujud penolakan dan keragu-raguan akan yang modern dan universal. Bersamaan dengan itu, ekses-ekses “yang lokal” merembes keluar, masuk ke dalam kapsul-kapsul kesadaran dan pada akhirnya tertelan lalu bereaksi menimbulkan sabab-sabab bagi aktifnya muatan intuisi yang secara organik lahir dari makna diri yang selama ini tertindih halusinasi cangkokan. Pandemi menuntun manusia menemukan dirinya sendiri.

Dari keputusasaan dan jalan buntu peradaban yang luluh lantak karena pandemi semacam itu, Bu Murni menemukan Wonogirinya. Tanpa perlu berpikir panjang, sego berkat, yang selama dekat dan lekat dalam nyawa Wonogirinya, ia hidupkan dengan mempertaruhkan sedikit nominal dalam tabungan. Sebagaimana sosok Ibu yang selamanya tidak akan pernah mengecewakan anaknya, “yang lokal” dan makna diri asali juga tidak akan pernah mengecewakan kala ia dijadikan sandaran. Tidak hanya menemukan makna diri dan menjadi media ekspresi subyek, sego berkat Bu Murni ternyata mampu mengisi kembali kantong-kantong, bukan hanya miliknya sendiri, tapi warga sekitar dan tetangganya yang juga sudah kosong sejak lama.

Bu Murni secara simbolik juga muncul dalam indikator lain yang lebih makro, yang untuk kesekian kalinya menandai satu fase keruntuhan logika modernitas yang selama ini mengisi makna “bekerja”. Kita tahu, sejak kota-kota beton berdiri dan ayat-ayat modernitas ditagah sebagai representasi kehidupan yang ideal, para pemuda desa berbondong-bondong eksodus ke kota. Sawah-sawah mereka tinggalkan hanya untuk meraih impian kerja kantoran. Industrialisasi tidak hanya menawarkan sejumlah angka, tapi juga menawarkan kesan yang cukup keren sehingga manusia bisa punya waktu ngasih makan egonya.

Sejak pandemi, rezim industri dan perkantoran runtuh. Data pertumbuhan ekonomi lapangan usaha pada triwulan kedua Agustus 2020 menunjukkan realitas kontras. Sektor pertanian berada di angka +16.24, sedangkan sektor industri tersungkur di angka -6.49 berikut sektor lainnya yang mengandalkan logika kantoran turut teringkus di level minus. Apa yang selama ini dianggap ideal dan dielu-elukan ternyata memang rentan. Pandemi memaksa orang untuk kembali bertani. Dan manusia mulai sadar, dalam kondisi chaos karena dihantam virus, manusia hanya bisa bertahan kala ia menanam sesuatu.

Kita tentu tidak bisa menganggap kalau pandemi mendatangkan berkah. Akibat dari pandemi yang dianggap positif sejatinya adalah kondisi kebudayaan pertama sebelum manusia belum benar-benar memukulinya hingga lebam dan berdarah. Sungai-sungai, laut dan udara aslinya memang bersih. Pandemi datang untuk mengingatkan kalau manusialah yang membuatnya bernanah. Demikian juga, upaya pemaknaan atas diri dan khutbah eksistensialisme sebenarnya tidak perlu ada atau menunggu pandemi jikalau manusia sedari awal hidup dengan tanahnya.

Ketika pandemi berhasil membuktikan betapa rapuhnya peradaban universal dan modern yang kita upayakan; betapa lambannya ayat-ayat kecepatan yang selama ini kita tuhankan; dan betapa sepinya keramaian yang selama ini kita ciptakan, lalu bukti apalagi yang manusia butuhkan agar ia benar-benar belajar dan kembali ke sudut ruang tempat asal ia lahir dan tinggal? Ketika manusia tidak sungguh-sungguh belajar dan mengubah baktinya pada alam, suatu saat mungkin kita akan kembali diingatkan dengan pandemi yang jauh lebih parah.  

Ketika “yang lokal” merembes keluar, sudah saatnya manusia memperhatikan rambu dan berputar balik untuk menghargai asal-usul alamiahnya.

REKOMENDASI

Saking Beratnya Dosa Korupsi, Sampai-Sampai Rasulullah Enggan Menyalati Jenazah Koruptor

Harakah.id - Rasulullah enggan menyalati jenazah koruptor. Ini Fakta. Bukan berarti jenazah koruptor tidak boleh disalati, tapi hal itu menunjukkan kalau...

Menilik Kembali Misi “Revolusi Ahlak” yang Diusung Habib Rizieq Shihab

Harakah.id - Revolusi ahlak adalah satu adagium yang baru-baru ini diperkenalkan dan sepertinya akan menjadi arah baru perjuangan HRS, FPI dan...

Harlah, Natal dan Maulid

Harakah.id – “Harlah, Natal dan Maulid” adalah artikel yang ditulis Gus Dur pada tahun 2003. Meski sudah berusia 17 tahun, namun...

Tidak Seperti Manusia Pada Umumnya, Benarkah Rasulullah Tidak Dilahirkan Dari Lubang Kemaluan? Begini Penjelasannya

Harakah.id – Rasulullah tidak dilahirkan dari lubang kemaluan. Ada keyakinan di kalangan para ulama, bahwa baik Nabi Muhammad maupun Nabi-Nabi yang...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...