Dzulhijjah dan Bulan-Bulan Asyhurul Hurum

0
2000

Tak bisa kita sangsikan bahwa perputaran bulan dan matahari merupakan salah satu anugerah terbesar dan rahmat yang Allah swt. berikan kepada umat manusia. Melalui dua perputaran tersebut manusia mengenal waktu. Melalui dua perputaran tersebut manusia mampu memetakan musim, menata tahun dan mempersiapkan diri untuk beradaptasi dalam cuaca yang berubah-ubah. Dari perputaran matahari manusia bisa menangkap gambaran ruang angkasa dan menunjukkan betapa tempat yang kita namakan dunia ini begitu luas dan hampir tak terjangkau.

Dengan mengamati pergerakan bulan, ratusan abad yang lalu, para pelaut mampu menyusuri lautan dan menyingkap benua; mengais pulau-pulau sebagai tempat kehidupan di mana manusia melanjutkan tali generasi dan membangun peradaban. Melalui peredaran bulan para nelayan di pesisir pantai Indonesia mampu meramal dan menentukan waktu menangkap ikan, membuat suatu rumusan kapan mereka harus menangkap Teri dan kapan mereka akan menangkap Cumi.

“Waktu” yang bertumpu pada pergerakan bulan dan matahari secara tidak disadari telah mengambil tempat yang paling penting dalam pola kehidupan manusia di muka bumi. Dari waktu manusia melanjutkan kehidupannya, dari waktu manusia juga terus berupaya mengenal Tuhannya.

Allah SWT berfirman dalam Surat al-Taubah:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّماواتِ وَالْأَرْضَ مِنْها أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَما يُقاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (36)

Ketentuan 12 bulan dalam setahun sudah termaktub dalam al-Qur’an jauh sebelum manusia mengenal kalender dan penanggalan. Di antara 12 bulan dalam setahun, Allah swt. memuliakan beberapa bulan, yang oleh ayat Surat al-Taubah di atas disebut sebagai arba’atun hurum. Seluruh mufassir sepakat, seperti Ibn Katsir, al-Thabari dan al-Maraghi, bahwa yang dimaksud dengan arba’atun hurum adalah bulan Muharram, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Rajab. Keempat bulan ini juga dikenal dengan nama asyhuru-l-hurum.

Penafsiran ini didasarkan pada hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ ابْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ الزَّمَانُ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Sesungguhnya waktu telah bergerak sebagaimana adanya sejak Allah swt. menciptakan langit dan bumi. Setahun terdiri dari 12 bulan, 4 di antaranya adalah bulan-bulan yang dimuliakan; Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, al-Muharram dan Rajab yang terletak di antara bulan Jumada dan Sya’ban.