Beranda Headline Ebrahim Raisi dan Masa Depan Kesepakatan Nuklir Iran-Amerika Serikat

Ebrahim Raisi dan Masa Depan Kesepakatan Nuklir Iran-Amerika Serikat

Harakah.idEbrahim Raisi dan kesepakatan nuklir Iran-Amerika Serikat adalah sekuel kesekian yang patut mendapat perhatian lebih. Diakui atau tidak, ia sedikit banyak akan berpengaruh pada peta geopolitik Arab di masa depan.

Kini Iran memiliki presiden baru yakni Ebrahim Raisi, seorang tokoh ultrakonservatif yang akhirnya dilantik menjadi presiden baru pada Selasa kemarin (3/8/2021). Hal ini juga menjadi momentum bagaimana masa depan politik Iran akan dibawa kemana. Pasalnya, ia juga menyatakan terkait upaya dalam proses negosiasi kesepakatan nuklir Iran dan mencabut sanksi yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Tentu keputusan Ebrahim Raisi dalam isu nuklir akan menjadi salah satu hal penting yang akan menentukan masa depan kesepakatan nuklir Iran-Amerika Serikat.. 

Nampaknya Raisi juga akan melakukan berbagai manuver untuk memperbaiki situasi ekonomi dan bakal memperkuat hubungan ekonomi dengan negara-negara lain, seperti halnya Rusia dan China. Kesepakatan JCPOA yang telah disepakati antara Iran dan AS, serta China, Prancis, Jerman, Rusia, dan Inggris pada tahun 2015 akan dibahas kembali pada masa kepemimpinan Raisi. Sebelumnya, pada kesepakatan JCPOA disebutkan bahwa Iran akan melakukan pembatasan pada pengembangan nuklirnya dan mendapatkan pelonggaran sanksi ekonomi dari AS. Tetapi, di bawah kuasa Donald Trump, AS menarik diri dari kesepakatan tersebut dan tetap memberlakukan embargo ekonomi kepada Iran.

Sementara itu, di masa kepemimpinan Joe Biden kali ini, AS juga bakal memulai kembali untuk kesepakatan JCPOA yang sempat terputus di masa Trump. Dalam persoalan embargo ekonomi, Iran mengalami kesulitan, terutama terkait ekspor minyak yang menjadi sektor vital bagi Iran. Ekonomi Iran juga mengalami kontraksi lebih dari 6 persen pada 2018 dan 2019. Perekonomian Iran juga memburuk akibat pandemi Covid-19. Menurut data pemerintah Iran, korban akibat adanya pandemi Covid-19 di Iran sebanyak 90.000 orang dan hal tersebut juga membuat Iran berupaya untuk keluar dari permasalahan tersebut.

Kesepakatan Nuklir Iran-AS

Kesepakatan nuklir antara Iran dan AS akan menjadi salah satu momen dan dialog penting bagi kedua negara. Tidak hanya itu, jika Biden dan Raisi sepakat untuk kembali pada kesepakatan JCPOA, maka sanksi AS atas Iran juga akan dicabut. Namun, hal ini juga akan mempengaruhi hubungan kedua negara yang selama ini terjadi ketegangan akibat berbagai peristiwa, sehingga keduanya tidak akur dan sering terjadi perselisihan.

Akhir-akhir ini, ketegangan diplomatik justru membuat Iran tersudutkan. Dalam hal ini, Iran dinilai sebagai aktor di balik penyerangan atas kapal tanker di lepas pantai Ottoman, Kamis (29/7/2021). Namun, hal ini kebenarannya masih diragukan. Pihak AS dan Israel meminta agar Israel bertanggungjawab dalam persoalan tersebut. Sementara, Iran masih belum memberikan keterangan resmi terkait penyerangan kapal tanker tersebut.

Di lain pihak, dalam persoalan kesepakatan nuklir Iran-AS, Arab Saudi juga merespon dengan mendukung adanya negosiasi untuk kembali pada kesepakatan JCPOA. Bagi Saudi, urusan kesepakatan nuklir adalah hal krusial dan vital. Pasalnya, Iran adalah rivalnya di kawasan dan aktor di balik pemasok senjata ke kelompok Houthi di Yaman. Selain itu, Iran adalah satu-satunya negara yang mendukung Houthi dan itu artinya juga menjadi ancaman dan musuh bagi Arab Saudi.  

Kedepan, kesepakatan nuklir antara Iran-AS akan menentukan masa depan hubungan kedua negara. Pasalnya, isu nuklir menjadi isu sentral dalam konstelasi politik Timur Tengah. Siapapun negara yang berupaya membangun dan mengembangkan nuklir di kawasan, maka ia menjadi ancaman bagi stabilitas keamanan dan perimbangan kekuatan di kawasan. Untuk itu, kesepakatan JCPOA merupakan upaya dalam meredam isu nuklir yang menjadi ancaman bagi negara-negara di dunia. Jika hal ini tidak direspon dan diatasi, maka Iran akan menjadi satu-satunya negara yang memiliki kekuatan nuklir yang besar dibandingkan negara-negara lainnya.

Masa Depan Hubungan Iran-AS

Di masa kepemimpinan Raisi, tampaknya Iran akan mengalami beberapa perubahan yang berarti. Isu kesepakatan nuklir menjadi momentum baginya untuk menunjukkan bahwa Iran siap untuk menyepakati perjanjian JCPOA yang sempat terputus di masa Hassan Rouhani. Joe Biden juga nampaknya bersikap demikian, ia akan berencana memperbaiki kesepakatan nuklir antara AS-Iran, dan negara-negara lainnya, yakni China, Jerman, Rusia, dan Inggris. Kesepakatan nuklir juga akan menjadi titik balik hubungan antara Iran-AS.

Jika semua rencana kesepakatan nuklir antara Iran dan AS berjalan dengan baik. Maka dapat dipastikan, Iran akan mengajukan untuk mencabut sanksi ekonomi yang dilakukan AS dan keputusan ini akan memberikan posisi yang leluasa bagi Iran untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Meski begitu, Iran selama ini juga melakukan berbagai upaya untuk keluar dari jerat embargo ekonomi tersebut.

Masa depan hubungan antara Iran dan AS akan sangat ditentukan bagaimana kesepakatan nuklir nantinya. Apalagi Iran juga tengah kalang kabut menghadapi pandemi Covid-19, maka perbaikan pada sektor ekonomi adalah upaya yang mesti dilakukan agar ekonomi lekas membaik. Di tengah berbagai persoalan dan kepentingan masing-masing negara, baik Iran dan AS akan menjadi kunci penting di balik situasi dan konstelasi politik Timur Tengah kedepan. 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...