Beranda Gerakan Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.idAda beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok agama tersebut. Inilah empat kelompok Kristen radikal di Indonesia.

Negara-negara di dunia hari ini pada umumnya mengikuti pola Negara-negara Eropa yang memiliki kecenderungan memisahkan agama dan Negara. Pada abad-abad yang lebih kuno, Negara seringkali disatukan dengan agama. Hal ini dikaitkan dengan dengan perkembangan modernisasi yang melahirkan era Pencerahan. Dimana manusia pada akhirnya lebih percaya pada rasio daripada kepercayaan religious.

Agama kemudian menjadi ‘elemen sipil’ yang bergerak di luar Negara, seperti elemen sipil lainnya. Modernisme yang meminggirkan agama ini pada akhirnya mendapat respon kelompok agama. Kelompok agama bangkit dengan semangat ingin mengembalikan pengaruhnya di masyarakat.

Gerakan-gerakan fundamentalis agama bermunculan di berbagai kawasan. Di Negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, muncul kelompok fundamentalis radikal Islam seperti Al Qaeda, ISIS atau Daesh, Boko Haram, Abu Sayyaf, Jamaah Islamiyah, dan afiliasi kelompok-kelompok tersebut di berbagai Negara.

Di India, muncul kelompok fundamental Hindu yang melakukan serangan bom di Malegaon, Maharashtra dan di Modasa, Gujarat di India pada 29 September 2008 yang menewaskan 8 orang dan melukai lebih dari 80 orang yang mayoritas beragama Islam. Menurut otoritas setempat, aksi ini dilakukan oleh kelompok garis keras di India dengan latar belakang agama Hindu.

Di Myanmar, dimana sejumlah rahib beragama Buddha melakukan aksi kekerasan terhadap warga Rohingya yang beragama Islam, mulai dari tindakan diskriminasi hingga pengusiran paksa dari tempat tinggal mereka.

Di Amerika Serikat, muncul kelompok teroris dan radikal Kristen seperti Army of God dan Ku Klux Klan. Mereka kerap melakukan tindak kekerasan dan bahkan membunuh masyarakat yang dianggap berbeda dengan iman Kekristenan mereka. Kelompok radikal Kristen lainnya seperti The Lord’s Resistance Army (LRA) di Uganda, The National Liberation Front of Tripura di India.

Di Indonesia, ada yang menyebutkan kelompok radikal Kristen muncul ketika terjadi konflik antar agama pada akhir tahun 1990 di Poso dan Ambon, seperti Laskar Kristus dan Pasukan Kelelawar, dan di Papua belakangan ini.

Artikel pendek ini akan mengulas keberadaan kelompok Kristen radikal yang berkembang di Indonesia. Sumber artikel ini adalah penelitian yang ditulis oleh Angel Damayanti, seorang peneliti di Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta. Dalam artikel berjudul Radikalisme di Komunitas Non-Islam, ia menjelaskan bahwa setidaknya ada empat gerakan atau kelompok Kristen Radikal di Indonesia.

Kelompok Kelelawar Hitam atau Pasukan Merah

Penyebutan kelompok ini dengan nama Pasukan Kelelawar Hitam atau Pasukan Merah dikarenakan mereka menggunakan pakaian serba hitam, kalung salib dan ikat kepala merah dalam menjalankan aksinya.

Kelompok Kelelawar Hitam muncul di Poso dan mulai melakukan serangannya pada pertengahan tahun 2000 di bawah pemimpinnya yang bernama Ir. Advent Lindo Lateka. Lateka pada mulanya merupakan seorang pejabat pemerintahan di Departemen Pertanian. Ia mengundurkan diri karena merasa terpanggil untuk memperjuangkan keadilan bersama-sama dengan umat Kristen lainnya di Poso.

Menurut Lateka, umat Kristen di Poso telah mengalami ketidakadilan dan menjadi korban dalam berbagai kerusuhan yang terjadi di kawasan ini. Lateka mempunyai beberapa pendukung seperti Fabianus Tibo, Marinus Riwu, dan Dominggus Da Silva. Ketiga orang yang disebut terakhir dihukum mati oleh pemerintah Indonesia pada tahun 2006 dengan tuduhan menjadi dalang dalam kerusuhan di Poso. Lateka sendiri tewas terbunuh dalam kerusuhan yang terjadi pada tanggal 2 Juni 2000.

Kelompok Kelelawar Hitam tidak bertujuan untuk mengganti ideologi negara Indonesia dengan ajaran agamanya. Mereka juga tidak memaksa orang lain untuk berpindah agama menjadi Kristen. Tetapi, mereka merasa sedang berusaha melakukan tindakan balas dendam terhadap kelompok agama lain dengan menggunakan kekerasan, mulai dari membakar rumah warga dan mesjid hingga membunuh warga non-Kristen di Poso. Hal ini membuat kelompok Kelelawar Hitam dianggap sebagai kelompok teroris Kristen di kalangan sejumlah umat Islam.

Laskar Kristus

Laskar Kristus merupakan kelompok radikal yang tumbuh dalam peristiwa konflik Ambon pada akhir Desember 1998. Ketika terjadi konflik di Ambon pada akhir Desember 1998, sejumlah pemuda Kristen yang berasal dari daerah Kudamati mendatangi pusat konflik di daerah Batumerah.

Tujuan mereka adalah membantu warga Kristen yang menjadi korban kerusuhan. Namun dalam perjalanan menuju Batumerah untuk membantu saudara dan teman mereka yang beragama Kristen, kelompok pemuda ini melewati perkampungan warga Muslim. Mereka melakukan kekerasan terhadap warga Muslim.

Mereka merusak sejumlah motor dan rumah warga Muslim, sambil menyanyikan lagu gereja yang berjudul “Laskar Kristus Maju.” Karena itu, kelompok ini kemudian dinamakan Laskar Kristus.

Laskar Kristus merupakan jemaat gereja yang dipimpin oleh Pendeta Agus Wattimena. Tercatat, ia kerap menggunakan ayat-ayat Alkitab untuk memperoleh dukungan dari warga Kristen, mulai dari rekrutmen anggota hingga penyediaan logistik. Gerakan Wattimena mendapat dukungan dari kelompok Front Kedaulatan Maluku (FKM).

Kelompok ini pada era Orde Lama sempat dicap sebagai gerakan sparatis. FKM didirikan oleh Alex Manuputty pada 15 Juni 2000. Pendeta Wattimena merupakan salah satu pengurus organisasi ini. Pada desember 2000, Manuputty memanfaatkan situasi konflik untuk mendeklarasikan kemerdekaan Maluku.

Manuputty juga menuduh pemerintah Indonesia menciptakan rekayasa konflik untuk menguasai wilayah mereka. Dua hari setelah deklarasi FKM, Pendeta Wattimena tewas dalam sebuah serangan bersenjata.

Penjelasan ini menunjukkan bahwa tumbuhnya kelompok radikal Kristen yang ada di Maluku tidak dapat dilepaskan dari sejarah separatisme RMS dan upaya untuk memerdekakan diri dari pemerintah Indonesia yang sah. Dengan kata lain, kelompok FKM memanfaatkan konflik yang ada di Ambon untuk mendirikan kembali negara yang pernah diperjuangkan oleh Republik Maluku Selatan.

Di sini, meskipun konflik di Ambon telah berakhir dan kelompok Laskar Kristus tidak lagi beroperasi, namun potensi radikalisme yang didasari oleh semangat separatisme masih sangat mungkin terjadi di wilayah ini.

Birgade Manguni

Brigade Manguni (BM) adalah sebuah organisasi kemasyarakatan yang dibentuk di Manado, Sulawesi Utara pada tahun 1999. Pada mulanya, BM dibentuk untuk menjaga keamanan dan stabilitas di Sulawesi Utara ketika terjadi kerusuhan di Poso dan di Ambon. Kelompok ini bertujuan untuk mencegah agar konflik antar agama di Poso tidak meluas hingga ke Manado serta mencegah terjadinya konflik di wilayah mereka.

Dalam perkembangannya, BM kemudian membantu kelompok masyarakat Kristen di Poso dan Ambon pada saat konflik berlangsung. Bantuan yang diberikan berbentuk persediaan logistik seperti makanan dan obat-obatan, membantu proses evakuasi warga Kristen ke daerah-daerah sekitar yang lebih aman, serta memediasi kepentingan kelompok Kristen dengan aparat keamanan dan pemerintah.

Ketika konflik di Poso dan Ambon telah berakhir, BM masih melakukan aktivitas mereka terutama dalam menjaga keamanan di wilayah Manado. Dalam melakukan aktivitas tersebut, BM kemudian kerap dianggap sebagai kelompok radikal Kristen oleh kelompok-kelompok dari agama lainnya seperti yang terjadi di Bitung, Sulawesi Utara.

BM menolak kehadiran Front Pembela Islam (FPI) di wilayah Sulawesi Utara BM juga dituding melakukan kekerasan terhadap tempat ibadah dan umat Islam yang hendak mendirikan mesjid seperti Masjid Asy-Syuhada di Kompleks Aer Ujang, kelurahan Girian Permai, di daerah Bitung. Kelompok ini bahkan merusak mesjid dan rumah sejumlah tokoh agama serta warga yang beragama Islam.

Gereja-Gereja Evangelistik Fundamentalis

Pada bulan Juli tahun 2015, terjadi kerusuhan antara umat Kristen dan umat Islam di Tolikara Papua. Kerusuhan ini melibatkan Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Papua. Keterlibatan tersebut dikaitkan dengan adanya surat yang dikeluarkan oleh Badan Pekerja GIDI Wilayah Toli yang melarang umat Islam merayakan Idul Fitri di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, tepat pada hari raya Idul Fitri, 17 Juli 2015.

Serangan warga gereja terhadap umat Muslim yang sedang beribadah Sholat Ied dan merayakan Idul Fitri ini menyebabkan kekacauan dan menimbulkan ketakutan warga setempat. Akibat serangan tersebut, 1 orang meninggal, 11 orang luka-luka, sejumlah bangunan rusak dan hangus terbakar, termasuk sebuah mesjid.

Gereja Injili di Indonesia (GIDI) adalah salah satu denominasi dari gereja-gereja Kristen yang ada di Indonesia. Gereja ini mulai berdiri di Papua sejak tanggal 12 Februari 1962 setelah sebelumnya sejumlah misionaris dari Australia datang ke daerah Sentani, Papua pada tahun 1950an. GIDI bukan saja aktif di

bidang pelayanan kerohanian umat Kristen, tetapi juga melayani masyarakat setempat di bidang kesehatan dan pendidikan dengan mendirikan rumah sakit, klinik dan sekolah-sekolah mulai dari PAUD hingga, SMP, SMK dan Sekolah Theologia.

Gereja Injili di Indonesia di wilayah Tolikara ini juga dituding telah melarang didirikannya gereja lain di wilayah tersebut serta melarang umat Kristen yang ada di Tolikara untuk beribadah di gereja lain yang denominasinya berbeda dengan GIDI. Hal ini menunjukkan bahwa GIDI bukan saja bersikap intoleran dan militan terhadap umat yang berbeda agama, tetapi juga terhadap umat Kristen yang berasal dari gereja dengan denominasi yang berbeda.

Namun, satu hal yang peru dicatat, surat edaran yang melarang umat Islam beribadah pada hari Idul Fitri yang dikeluarkan oleh Badan Pekerja GIDI di Wilayah Toli pada tanggal 11 Juli 2015 dan melarang umat Kristen beribadah di gereja lain selain GIDI Tolikara dianggap tidak sah oleh Ketua Sinode GIDI Pusat karena dikeluarkan tanpa sepengetahuan dan seijin Pengurus Sinode Pusat GIDI.

Pandangan yang mirip GIDI Papua juga dimiliki oleh sejumlah gereja Kristen lainnya di Indonesia yang dianggap fundamental dan mendapatkan pengaruh dari para penginjil dari Amerika Serikat. Gereja-gereja ini mengikuti paham Kristen evangelistik yang fundamentalis.

Kristen evangelis berusaha melawan modernisme di Amerika Serikat tahun 1950-an. Sejumlah gereja di Indonesia mulai mengikuti trend yang sama pada tahun 1970-an. Berbeda dengan pandangan gereja mainstream yang dibawa oleh para misionaris Jerman dan Belanda ke Indonesia, gereja-gereja fundamentalis yang disemangati oleh paham evangelistik dari Amerika Serikat sangat mengedepankan pentingnya keselamatan dan kesucian hidup menurut versi yang mereka percayai.

Gerakan gereja sejenis ini memicu persoalan di kalangan masyarakat Indonesia, seperti munculnya isu kristenisasi yang sensitif dan isu “rebutan jemaat” gereja atau “rebutan domba” di antara sesama gereja-gereja Kristen di Indonesia.

Meskipun gereja-gereja dari berbagai aliran dan denominasi telah diwadahi oleh Persatuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), PGI tidak memiliki kewenangan untuk mengatur atau mengendalikan seluruh aktivitas yang dilakukan oleh gereja-gereja anggotanya. Bahkan, disebutkan bahwa sejumlah gereja fundamentalis banyak yang menolak untuk bergabung di bawah PGI dan membentuk asosiasi denominasi gereja mereka sendiri.

Penutup

Pemaparan di atas menjelaskan bahwa setidaknya terdapat tiga pola gerakan Kristen radikal. Pertama, kelompok dan gerakan yang tumbuh untuk merespon konflik lokal. Kelompok semacam ini seringkali bubar setelah konflik berakhir. Namun tidak jarang yang berubah menjadi gerakan intoleransi.

Kedua, gerakan yang tumbuh bersama dengan gerakan sparatis. Gerakan Kristen radikal jenis ini masih menunggu momentum yang dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan ideologi sparatisme. Ketiga, gerakan Kristen yang terpengaruh oleh gerakan misionaris dari Amerika Serikat dan Australia.

Dengan demikian, kelompok Kristen ini tergolong gerakan transnasional. Gerakan ini mengarah kepada sikap ekseklusif, bahkan terhadap sesama kelompok-kelompok Kristen yang berbeda denominasi. Sikap ekseklusif ini melahirkan fenomena intoleransi.

Sebagai catatan penting, seperti dalam komunitas Muslim dimana terdapat minoritas yang radikal, jumlah kelompok Kristen yang radikal adalah minoritas. Mayoritas umat Kristiani di Indonesia adalah moderat dan menerima konstitusi Indonesia. Demikian ulasan singkat tentang empat kelompok Kristen Radikal di Indonesia. Semoga dapat menambah wawasan.

REKOMENDASI

Surah Yang Dianjurkan dan Disunnahkan Dibaca Dalam Pelaksanaan Salat Idul Fitri

Harakah.id - Dalam pelaksanaan salat idul fitri, ada surah-surah yang sunnah dan dianjurkan untuk dibaca. Surah apa saja? Simak artikel di...

Mendamaikan [Kembali] Hisab dan Rukyat, Dua Metode Penentuan Awal-Akhir Bulan Dalam Penanggalan Hijriyah

Harakah.id - Hisab dan Rukyat adalah dua metode yang masyhur digunakan untuk menentukan awal dan akhir dalam penanggalan Hijriyah. Termasuk dalam...

Secercah Kisah Imam al-Bukhari dan Bapaknya; Catatan Singkat Sorogan Buku “Commentary of Forty Hadiths...

Harakah.id - Imam al-Bukhari adalah salah satu ulama yang kontribusinya tidak lagi bisa kita pertanyakan. Kitabnya, Sahih al-Bukhari, adalah kitab sahih...

Apakah Boleh Membayar Zakat Fitrah Menggunakan Uang Pinjaman Dari Rentenir?

Harakah.id - Apakah boleh membayar zakat dengan uang pinjaman dari rentenir, maka sebenarnya tak perlu ditanyakan, karena dia bukan tergolong orang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...