Beranda Gerakan Empat Prinsip Utama Doktrin Politik Aswaja

Empat Prinsip Utama Doktrin Politik Aswaja

Harakah.idPolitik Aswaja adalah Politik Level Tinggi yang menjunjung betul nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. Dalam doktrin politiknya, ada setidaknya empat prinsip yang harus dipenuhi.

Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) merupakan paham keagamaan yang menjadi pedoman warga NU. Aswaja dalam pandangan NU berarti keharusan mengikuti salah satu mazhab; baik dalam dimensi teologis, normatif maupun etis. Secara teologi, warga NU mengikuti rumusan keyakinan Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi.

Dalam dimensi normatif (aturan formal), warga NU berpegang kepada pandangan salah satu dari empat mazhab fikih; Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Dimensi etis warga NU mengikuti pandangan para ahli tasawuf terkemuka, Syekh Junaid al-Baghdadi dan Abu Hamid al-Ghazali. 

Cara mengikuti para ulama tersebut tidak hanya sekadar mengikuti padangan-pandangan mereka yang tertuang dalam kitab-kitab karya mereka. Tetapi didukung dengan jalur periwayatan dan silsilah keguruan lintas negara-zaman. Di sini, jaringan keguruan menjadi penting di samping pandangan dasar para imam di atas. Hal ini membuat pandangan warga NU menjadi semakin kompleks. Lahir pola keberagamaan yang khas, lokalistik sekaligus kosmopolik.

Lokalitas pandangan keagamaan warga NU dapat ditemukan dengan mudah. Misalnya, untuk menjelaskan tradisi keagamaan atau fenomena sosial tertentu, mereka lebih suka merujuk kepada cerita-cerita Walisongo, para sunan, atau para kiai sepuh kharismatik. Penggunaan bahasa lokal untuk menyebut ritual keagamaan Islam; seperti sembahyang untuk shalat, puasa untuk shaum, dan lain sebagainya.

Kosmopolitas warga NU dapat ditemukan dalam khazanah literasi pesantren dan jaringan penyebaran doa-doa. Literatur yang menyebar di pesantren-pesantren NU berasal dari pusat-pusat peradaban Islam di masa lalu. Afrika, Persia, India, dan Cina. Karya-karya itu mengalir ke Nusantara melalui jaringan keguruan yang komplek. Warga NU atau orang pesantren akrab dengan kitab Dalailul Khairat, Ihya’ Ulumuddin, Tabihul Ghafilin, Fathul Mu’in dan lain sebagainya. Doa-doa yang digunakan orang NU yang bersumber dari kitab-kitab mujarrabat banyak menggunakan kosa-kata bahasa Persia. 

Kehidupan orang NU dibimbing oleh nilai-nilai yang berkembang dalam tradisi keberagamaan di atas. Termasuk dalam kehidupan politik. Politik sebagai praktik berkuasa menyediakan habitatnya sendiri. Setiap kebudayaan melahirkan pola politiknya yang unik. Demikian pula kebudayaan NU yang berakar pada tradisi keagamaan yang khas.

Aswaja memberi seperangkat nilai yang membayangi pikiran warga NU dalam aktifitas politiknya. Jika mereka tidak memiliki dasar tradisinya, maka mereka akan merasa gelisah. Dalam konteks ini, Aswaja memiliki beberapa doktrin pokok tentang bagaimana menjalani kehidupan politik. Para ulama Aswaja telah menulis sejumlah kitab yang berisi nasihat untuk para penguasa.

Seperti Imam al-Ghazali yang menulis kitab At-Tibrul Masbuk fi Nasihatul Muluk, Al-Juwaini yang menulis Ghiyatsul Umam fit Tiyastil Zhulam, dan Al-Mawardi dalam Durarus Suluk fi Siyasatil Muluk. Kitab-kitab ini berisi tentang seni berkuasa yang dipadukan dengan nilai-nilai Islam. Kitab-kitab ini memang jarang atau bahkan tidak pernah dirujuk dalam tradisi politik warga NU secara langsung. Namun, intisarinya dapat ditemukan dengan mudah dalam praktik-praktik politik para ulama NU.

1. Keimanan

Al-Ghazali dalam Nasihatul Muluk menjelaskan prinsip keimanan yang harus dipegangi oleh seorang penguasa. Penguasa adalah seorang ahli dalam mengelola kekuasaan. Pengelola kekuasaan, sebelum dan ketika akan memegang kekuasaan harus memiliki dasar keimanan yang kuat. Keimanan yang benar adalah yang berdasarkan paham Aswaja.

Al-Ghazali menyebutkan sepuluh prinsip keimanan. Pertama, meyakini adanya pencipta (al-khaliq) dan seorang penguasa hanya ciptaan (al-makhluq). Kedua, sang pencipta adalah maha suci dan wajib disucikan (at-tanzih). Ketiga, sang pencipta adalah maha kuasa (al-qudrah). Keempat, sang pencipta adalah maha mengetahui (al-‘ilm). Kelima, sang pencipta adalah maha mendengar (as-sami’).

Keenam, sang pencipta adalah maha melihat (albashir). Ketujuh, sang pencipta adalah maha berbicara (al-kalam) yang firman-firmannya tidak dapat ditolak. Kedelapan, sang pencipta bertindak secara langsung (af’aluhu ta’ala). Segala yang terjadi di alam semesta adalah karena tindakannya. Kesembilan, adanya alam akhirat (‘alamul akhirah). Kesepuluh, kehadiran seorang rasul yang mendapat wahyu dari Allah dan bertugas menjelaskan jalan kebahagiaan yang hakiki.

Jika disederhanakan, nasihat al-Ghazali terdiri dari tiga hal; Tuhan, utusan-Nya dan akhirat. Ketiganya dijelaskan dalam kerangka teologi mazhab Asy’ari. Para ulama, kiai, dan politisi santri merupakan orang-orang yang berpegang kepada paham Ahlus Sunnah Wal Jamaah dengan mengikuti rumusan Syekh Abul Hasan al-Asy’ari.  

2. Keadilan

Al-Ghazali menjelaskan bahwa keadilan merupakan manifestasi keimanan kepada Allah (al-‘adlu far’ul iman). Seorang penguasa dan politisi harus bekerja dalam kerangka mewujudkan keadilan.

Al-Ghazali menyebutkan sembilan prinsip strategi mewujudkan keadilan. Pertama, menyadari jabatan adalah amanah. Sebagai amanah, ia mempunyai kemuliaan dan ancaman duniawi serta ukhrawi. Kedua, meminta pertimbangan ahli, ilmuan, dan ulama. Ketiga, senantiasa terlibat dalam upaya penegakan keadilan dalam semua kelas sosial. Terutama melalui kontrol terhadap aparatus yang berada di bawah kewenangannya. Tidak melepaskan diri dari isu-isu ketidak-adilan.

Keempat, selalu bersikap rendah hati. Hal ini karena sikap sombong akan mudah membuat orang mudah mengekspresikan kebenciannya. Kebencian akan membuat orang sulit mengendalikan diri. Kelima, selalu merasa sebagai rakyat biasa. Dan memandang publik sebagai pengusa sebenarnya yang dapat sewaktu-waktu mengambil kewenangannya.

Keenam, menghormati masyarakat yang memiliki hajat hidup dengan cara tidak menunda-nunda pelayanan terhadap mereka. Ketujuh, selama dapat menyelesaikan masalah dengan kesantunan, hendaknya dihindari penggunaan kekerasan. Kedelapan, berupaya keras agar rakyat mencintainya  dengan cara-cara yang sesuai hukum. Kesembilan, berambisi mencari dukungan masyarakat dengan cara yang bertentangan dengan hukum.

Bekerja dalam kerangka hukum adalah manifestasi keadilan. Para ulama, kiai, dan politisi santri dalam idealnya selalu memiliki dasar hukum, baik positif maupun syar’i, dalam pengambilan keputusan. Dalam sejarah perpolitikan kaum santri, banyak ditemukan fakta bahwa kebijakan yang diambil oleh para kiai dalam kebijakan politik mereka, tidak keluar dari batasan-batasan hukum syariat. Hal ini seperti yang akan diuraikan pada pembahasan tentang penerapan kaidah fikih dalam politik.  

3. Memprioritaskan Agenda Kerakyatan

Dalam mengimplementasikan keadilan publik, salah satu strateginya adalah selalu memprioritaskan agenda kerakyatan. Hal ini ditegaskan al-Ghazali dan al-Mawardi dalam karya-karya mereka.

Al-Mawardi misalnya mengembangkan konsep seperti tafaqqudul malik lir ra’iyyah (memperhatikan kebutuhan rakyat), muraqabatun nuqud wa amru jibatiha (mengawasi perkembangan ekonomi), al-ihtimam bi ambis subul wal masalik (memprioritas sektor keamanan) dan musawatul malik nafsihi lir ra’iyyah (menganggap dirinya setara rakyat/merakyat). Dalam kaidah fikih, hal ini dirumuskan para ulama dengan ungkapan, tasharruful imam ‘alar ra’iyyah manuthun bil mashlahah (kebijakan pemimpin harus berorientasi kemaslahatan rakyat).

Prinsip memprioritaskan rakyat, dalam praktiknya, melahirkan pandangan yang mengutamakan stabilitas. Dengan stabilitas, rakyat dapat bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya. Penerimaan NKRI, Pancasila, dan UUD 45 oleh Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 50-an dan 80-an tidak lain karena filosofi stabilitas ini.  

4. Harmonisasi Agama dan Kekuasaan

Prinsip stabilitas sosial yang dikembangkan ulama klasik berujung pada harmonisasi hubungan agama dan negara. Al-Mawardi dalam Durarus Suluk mengutip aporisma Persia Kuno,

innad dina wal mulka tau’amani la qiwama li ahadihima illa bi shahibihi li annad dina ussun wal mulka harisun wa la budda lil malik man assahu wa la budda lid dini man harasahu li anna ma la harisa lahu dha’iun wa ma la assa lahu munhadimun”

(Agama dan kekuasaan ibarat saudara kembar. Tidak akan bertahan kokoh salah satunya tanpa peran saudaranya. Agama ibarat pondasi. Sedangkan kekuasan ibarat penjaga. Seorang penguasa harus punya orang yang dapat memberinya pondasi kekuasaan. Dan bagi agama harus ada orang yang menjaga. Karena, perkara yang tidak dijaga, akan hilang. Dan perkara yang tidak punya pondasi akan runtuh).

Agama dan kekuasaan yang direpresentasikan oleh negara harus bersinergi, saling mengukuhkan. Tujuannya adalah, dengan kekohohan keduanya, masyarakat akan stabil dan agenda kerakyatan dapat dijalankan dengan baik.

Melalui prinsip harmonisasi agama-negara, warga NU menolak segala upaya pemberontakan, kudeta, dan pendirian negara baru, karena hanya akan menjadikan rakyat kebanyakan menderita. Jikalaupun sebuah revolusi tak bisa dihindari, maka NU akan mengupayakan langkah-langkah yang mempercepat stabilitas seperti yang pernah terjadi dalam perang kemerdekaan, sidang Konstituante, penerimaan UUD 45, dan lainnya. NU akan menolak segala upaya pemberontakan semampunya. Termasuk yang mengatasnamakan agama sekalipun seperti pernah terjadi pada era pemberontakan DI/TII.  

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...