Empat Tawaran Ekonomi Islam Untuk Penanganan Krisis Ekonomi di Masa Pandemi

0
40
Empat Tawaran Ekonomi Islam Untuk Penanganan Krisis Ekonomi di Masa Pandemi

Harakah.id Ekonomi Islam sebenarnya sudah meletakkan dasar-dasar prinsip dan praktik mualamah yang tangguh di segala kondisi. Di masa pandemi, ketika ekonomi mengalami krisis, tidak salah kiranya untuk mencoba kembali dan membangkitkan tawaran ekonomi dalam Islam.

Dalam pandangan tauhid, manusia sebagai pelaku ekonomi hanyalah sekadar struktur trustee (pemegang amanah). Oleh sebab itu, manusia harus mengikuti ketentuan Allah dalam segala aktivitasnya, termasuk aktivitas ekonomi.

Ada tiga aspek yang sangat mendasar dalam Islam, yaitu aspek aqidah (tauhid), hukum (syariah), dan akhlak. Ketika seseorang memahami tentang ekonomi Islam secara keseluruhan. Maka ia harus mengerti ekonomi Islam dalam ketiga aspek tersebut. Ekonomi Islam dalam dimensi aqidahnya mencakup atas dua hal: 1) pemahaman tentang ekonomi Islam yang bersifat ilahiyah; 2) pemahaman tentang ekonomi Islam yang bersifat rabbaniyah.

Segala pembahasan yang berkaitan dengan ekonomi Islam sebagai ekonomi ilahiyah, berpijak pada ajaran tauhid uluhiyah. Ketika seseorang mengesakan dan menyembah Allah, dikarenakan kapasitas Allah sebagai dzat yang wajib di sembah dan juga tidak menyekutukan-Nya (Q.S. Al-an’am: 102 dan Q.s  Adz-Dzariyat: 56).

Hal ini berimplikasi pada adanya niat yang tulus, bahwa segala pekerjaan yang dikerjakan oleh manusia adalah dalam rangka beribadah kepada Allah, sebagai satu bentuk penyembahan kepada-Nya. Termasuk ketika seseorang melakukan kegiatan ekonomi dalam kesehariannya.

Di masa pandemi seperti sekarang ini, ada beberapa solusi yang dapat ditawarkan dalam kerangka konsep dan sistem Ekonomi Islam untuk meminimalisir dampak dari krisis ekonomi. Yaitu:

Pertama, Penyaluran bantuan langsung tunai yang berasal dari zakat, infak dan sedekah, baik yang berasal dari unit-unit pengumpul zakat maupun dari masyarakat. Menghadapi situasi seperti saat ini, bukan hanya pemerintah yang bergerak, masyarakat pun diharapkan dapat berkontribusi sesuai dengan kemampuan dan kondisinya masing-masing.

Dalam konteks ini, diperlukan pengorbanan dari orang kaya dan kesabaran dari orang miskin yang terdampak wabah, atas dasar cinta yang diwujudkan dalam bentuk solidaritas sesama manusia, di mana orang yang lebih beruntung membantu mereka yang kurang beruntung . Salah satu bentuk nya, di tengah pandemi Covid-19, adalah dengan menunaikan zakat, infak, dan sedekah. Khusus untuk zakat yang ditunaikan, penyalurannya dapat difokuskan kepada orang miskin yang terdampak Covid-19 secara langsung, sebagai salah satu yang berhak menerimanya (mustahik).

Kedua, Penguatan wakaf uang baik dengan skema wakaf tunai, wakaf produktif maupun waqaf linked sukuk perlu ditingkatkan. Badan Wakaf Indonesia (BWI) perlu bekerja sama dengan lembaga keuangan syariah untuk mempromosikan skema wakaf ini, yang pada akhirnya dapat digunakan untuk pembangunan berbagai infrastruktur berbasis wakaf seperti Rumah Sakit Wakaf (RSW) khusus korban Covid-19, Alat Pelindung Diri (APD) wakaf, masker wakaf, poliklinik wakaf, Rumah Isolasi Wakaf (RIW), pengadaan ventilator wakaf, universitas wakaf dan lainnya.

Manajemen wakaf harus dilakukan secara profesional, sehingga wakaf dapat dimanfaatkan secara produktif dan berkelanjutan, sehingga tidak bermanfaat secara maksimal. Bahkan, dengan perkembangan saat ini, wakaf dapat saja berbentuk benda apa saja yang bernilai ekonomi, antara lain paten sebagai wakaf produktif. Jika saatnya nanti vaksin untuk Covid-19 ditemukan, diharapkan patennya dapat diwakafkan, sehingga dapat digunakan untuk seluruh masyarakat dunia. Oleh karena itu, penting untuk mengampanyekan pentingnya wakaf saat wabah pandemi Covid-19 kepada masyarakat termasuk kepada ilmuwan.

Ketiga, Bantuan modal usaha unggulan saat krisis. Di tengah-tengah krisis, tidak sedikit sektor usaha atau Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang berjuang agar tetap eksis. Usaha ini seringkali sulit bertahan karena keterbatasan permodalan. Keberadaan UMKM sebagai kelompok non-muzakki adalah kelompok yang sangat rentan untuk jatuh ke dalam jurang kemiskinan dan kebangkrutan karena guncangan atau hantaman ekonomi. Sehingga jumlah mustahik dapat meningkat dengan sangat tajam, sementara jumlah muzakki dapat terus menurun secara signifikan.

Keempat, Permodalan usaha di atas juga dapat diikuti dengan dengan pinjaman qardhul hasan. Dalam terminologi ekonomi/keuangan syariah, qardhul hasan adalah pinjaman yang tidak mengambil manfaat (keuntungan) apa pun namun tetap ditekankan untuk dibayarkan kembali. Produk/skema ini merupakan salah satu produk/skema sistem keuangan syariah yang sangat penting dalam mendukung pemulihan atau menopang perekonomian. 

Sebagai umat islam sebaiknya kita bersama mewujudkan keislaman dalam segala aspek kehidupan, termasuk kehidupan ekonomi. Karena sesungguhnya, umat Islam telah memiliki sistem ekonomi tersendiri di mana garis besarnya telah digambarkan secara utuh dalam Al-Quran dan As-Sunnah.

Haruslah diakui perkembangan peradaban hingga saat ini sangatlah luar biasa, dengan demikian pola kehidupan sangatlah kompleks, sehingga memiliki permasalahan yang mencakup global seperti salah satunya adalah saat ini masa pandemi Covid-19. Maka dari itu sebagai umat Islam dan ilmuwan muslim pada khususnya perlu sangat untuk proaktif dalam upaya melakukan pengaplikasian konsep-konsep muamalah, melalui penggalian nilai – nilai yang bersumber Al-Quran dan As-Sunnah.