Beranda Khazanah Enam Kelemahan Film Jejak Khilafah di Nusantara Bikinan HTI

Enam Kelemahan Film Jejak Khilafah di Nusantara Bikinan HTI

Harakah.idEnam kelemahan Film Jejak Khilafah di Nusantara yang bisa sama-sama kita temukan. Kelemahan-kelemahan yang mayoritas muncul dari aspek data sejarah dan fakta historis terkait jejak khilafah di Nusantara. Setelah menonton full film tersebut, inilah catatan terkait kelemahan-kelemahan yang bisa ditemukan.

Pekan lalu elit dan syabab Hizbut Tahrir Indonesia merilis Film Dokumenter “Jejak khilafah di Nusantara” (JKDN). Muqaddimah film JKDN diawali presenter muda yang bersholawat kepada Nabi Muhammad saw. Uniknya, dia pakai awalan lafadz “Sayyidina”. Dengan gaya sholawat seperti itu, maknanya: pertama, film dokumenter ini ditujukan semua segmen khususnya ke warga NU. Kedua, presenter adalah syabab HTI yang berlatar NU.

Jelang pemutaran perdana JKDN pada 1 Muharram yang bertepatan dengan 20 Agustus 2020, Syabab HTI yang terlibat dalam pembuatan film sengaja memajang nama Prof. Peter Carey (ahli sejarah Pangeran diponegoro). Biar boombastis! dan bikin pengagum Pak Peter penasaran. Sayang ada klarifikasi dari beliau yang mementahkan jejak khilafah di Nusantara. Diperparah pemerintah blokir dua akun youtube mereka. Tambah penasaran lagi.

Tanpa berlama lama, langsung lompat ke menit 40. Mengapa saya lakukan hal itu, sebelum menit ke 40 isinya hanya dialog antara Jubir HTI, Ir. Ismail yusanto dan dua narasumber lain Yaitu Nicko pandawa dan Septian A.W. Film yang digarap cukup niat ini ternyata ada sejumlah kelemahan. Setidaknya ada enam kelemahan Film Jejak Khilafah di Nusantara yang bisa dicatat:

Baca Juga: Jejak Khilafah di Nusantara, Begini Pendapat Para Pakar Sejarah Soal Hubungan Jawa dan Turki Ottoman

1. Tak mengundang pakar manuskrip dan arkeologi. Di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ada pak Ayang utriza yakin P.hD (alumni Ecole des Hautes Etudes en Societes, Perancis) dan Dr. Oman Fathurrahman. Di luar NU, ada Irawan Djoko Nugroho (dosen UGM) dan Dr. Abimardha kurniawan (ahli filologi, alumnus Universitas Indonesia). Kalau yang dijadikan narasumber bukan pakar di bidangnya, maka hasilnya tak kredibel.

2. Memakai Nusantara, tapi Nusantara yang dimaksud hanya Indonesia. Padahal Nusantara itu luas sampai Tumasik (Singapura), Malaysia dan Brunei.

3. Sama sekali tidak menyinggung eksistensi kesultanan Cirebon. Padahal kesultanan ini ada kaitan dengan Sunan Gunung Jati.

4. Mengungkap temuan koin emas di gampong pande kota Banda Aceh. Tetapi tak menelusuri lebih jauh asal muasal koin ini. Siapakah yang membawanya? Lalu untuk upeti kepada raja atau transaksi dagang.

5. Film ini tak konsisten, memakai istilah Khilafah tetapi yang dibahas kerajaan Islam sudah berbentuk dinasti. Jika dinasti maka gelarnya Sultan. Bukan Khalifah.

6. Film jejak khilafah ini membahas pula Maulana Malik Ibrahim. Entah apa maksudnya. Harusnya jika menyinggung salah satu wali, maka harus menyuguhkan data valid relasi antara Walisongo dan Sultan Turki Usmani. Memang ada yang berpendapat  bahwa Walisongo merupakan utusan Sultan Turki Usmani. Pendapat lain ada yang bilang Walisongo dari Yaman (Hadramaut).

Baca Juga: Empat Alasan Mengapa Gerakan Pro-Khilafah Masih Eksis

Inilah enam kelemahan film Jejak Khilafah di Nusantara yang bisa dicatat. Namun, ada yang patut kita sayangkan dari syabab HTI, mengapa cara mereka mengusung atau mempromosikan Khilafah terkesan menghalalkan segala cara? Khilafah memang fakta sejarah tapi jika cara mewujudkannya seperti ini, maka bagaimana kelompok Islam diluar HTI akan bersimpati. Yang ada malah antipati.

Terakhir adalah ketika NU aktif mengcounter gerak langkah HTI di daerah-daerah, entah mengapa dari Sang surya, saudara tuanya adem ayem?? Malah saya amati dibiarkan saja. Buletin tetap beredar bebas di masjidnya bahkan saya dapat kabar ada guru Muhammadiyah berani memutar film JKDN di tempat ia mengajar. Tentang fenomena ini perlu penelitian lebih dalam. Faktor apa saja yang melatarbelakangi pembiaran ini.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...