Beranda Editorial Faktanya, Kultur Nusantara Tidak Pernah Mengenal Sejarah Pelecehan, Kekerasan Seksual dan Perlakuan...

Faktanya, Kultur Nusantara Tidak Pernah Mengenal Sejarah Pelecehan, Kekerasan Seksual dan Perlakuan Semena-Mena Terhadap Kaum Perempuan!

Harakah.idPelecehan seksual terhadap kaum perempuan bukanlah karakter kita. Mau diacu ke mana saja, baik sejarah Islam maupun sejarah Nusantara, kita tidak pernah punya sejarah kekerasan terhadap perempuan. Yang ada justru sebaliknya!

Kekerasan dan pelecehan seksual tidak pernah ada dalam memori sejarah kita!

“Orang takkan melihat adanya suami-isri berjalan-jalan bersama di siang hari. Namun wanita nampak di mana-mana, bekerja di bawah capil bambu anyaman, di pelataran rumah, di pinggir jalan, di pasar kota dan bandar sendiri. Mereka melakukan segala macam pekerjaan yang juga dikerjakan oleh pria. Dan mereka bekerja sambil berdendang. Juga mereka berkain batik seperti kaum pria.”

_____ Pramoedya Ananta Toer, Arus Balik.

Entah sejak dan kapan dan darimana sejarah pelecehan dan kekerasan seksual mulai terselenggara dalam sejarah kita memperlakukan kaum perempuan di Indonesia. Setahu saya, kultur Nusantara tidak pernah memiliki sejarah perlakuan yang semena-mena terhadap kaum perempuan. Sejak masa Kerajaan Majapahit, perempuan diperlakukan sama. Mereka bebas mengenakan apa, bekerja sebagai apa dan hidup dengan model yang bagaimana.

Hal itu sebagaimana yang dijelaskan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Arus Balik. Dalam penggambaran Pram, perempuan-perempuan di masa Majapahit justru hidup dan berlaku seperti layaknya laki-laki. Mereka bekerja sebagaimana laki-laki bekerja, bahkan mengenakan pakaian sebagaimana laki-laki mengenakan pakaian.

Dengan kata lain, di masa kerajaan Majapahit, perempuan memiliki beragam kedudukan dan peran, bukan hanya di ruang privat dan domestik seperti yang dianggapkan kini. Perempuan, dengan tetap setia pada genderitasnya, juga mampu menembus ruang-ruang publik yang ada. Maka tidak sulit misalnya menemukan perempuan yang berdagang, menjadi nelayan, prajurit, raja bahkan pemuka agama. Tidak ada pembedaan yang cukup demarkatif, yang membedakan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki bisa berada dalam posisi dan mengambil peran perempuan, sebaliknya, perempuan juga bisa berada dalam posisi laki-laki dan mengganti peran mereka. Apa yang digambarkan oleh Pramoedya merupakan realita historis kondisi dan situasi perempuan di Indonesia. Itu fakta yang terjadi!

Salah satu ruang yang sering diisi perempuan, tak tanggung-tanggung adalah segala sesuatu yang berbau perang, senjata dan keprajuritan. Ini ruang yang biasa diisi oleh laki-laki – atau mayoritas memang diisi oleh laki-laki–. Kalau hari ini kita mengenal sebuah korps khusus tentara perempuan atau polwan, sejak dulu pos-pos tersebut memang biasa diisi oleh perempuan. Tidak ada batas yang begitu jelas antara ruang yang boleh ditinggali perempuan dan laki-laki; keduanya melebur, saling melengkapi dengan kemampuan dan potensi masing-masing sekaligus saling bertukar peran.

Tidak hanya dilindungi secara kultural, perempuan juga dilindungi secara pidana oleh Kerajaan Majapahit. Dalam Perundang-Undangan Majapahit yang disusun Slamet Muljana, ada beberapa pasal pidana yang sangat kentara dengan isu kekerasan seksual dan pelecehan seksual terhadap kaum perempuan. Dan bila diamati lebih jauh, konsekuensi hukumnya tidak tanggung-tanggung. Ada yang berakibat pada hukuman mati bagi perlaku.

Ini misalnya yang tertera dalam Pasal 207; “Barang siapa memegang seorang gadis, kemudian gadis itu berteriak menangis, sedangkan banyak orang jang mengetahuinjam buatlah orang-orang itu saksi sebagai tanda bukti. Orang jang memegang itu kenakanlah pidana mati oleh radja jang berkuasa.” Jadi bisa dibayangkan, pelaku yang hanya melecehkan perempuan berpotensi dihukum mati jika jelas-jelas ada saksi dan hal itu terjadi di tempat umum.

Selain Pasal 207, pasal-pasal sebelum dan sesudahnya juga banyak berbicara soal kasus-kasus yang berujung pada pelecehan dan kekerasan seksual terhadap perempuan. Hukum pidananya pun beragam. Selain hukuman mati, ada juga pasal yang memberikan hukuman denda laksa atau diusir dari desa tempat tinggalnya karena dianggap menganggu stabilitas dan ketentraman umum.

Sejarah penghargaan terhadap kaum perempuan dan kontribusinya di berbagai bidang tidak hanya terjadi di Majapahit. Di masa Mangkunegara I, ada satu pasukan elit yang dikenal dengan Pasukan Estri. Pasukan yang terdiri dari perempuan-perempuan tangguh ini, dalam struktur pasukan Kesultanan Yogyakarta adalah pasukan pengawal khusus Sultan (format protokolnya mirip dengan paspampres saat ini). Tentu ini bukan tugas yang mudah. Menjaga kepala kerajaan dari usaha-usaha pembunuhan membutuhkan paket lengkap kemampuan seseorang sebagai prajurit; kemampuan bertarung, kepekaan mengindentifikasi, akurasi merepih informasi dan ketajaman insting. Cara kerja layaknya seorang intelejen profesional secara tidak langsung juga terpenuhi oleh perempuan-perempuan hebat ini.

Dalam naskah Babad Tutur karya Mangkunegara I, peran Pasukan Estri disebutkan dengan jelas dan lengkap. Kita mulai dengan tembang sinom bait II sampai VI:

II) Dene Pangeran Dipatya/ ngagem kampuh kang manggihi/ pilenggah aneng mandhapa/ Dipati Mangkunegari/ ngagem cara prajurit/ saprajurit estrinipun/ busana cara priya/ acuriga cara Bali/ wingking tunggak semi kandelan kancana//

[Adapun Pangeran Adipati/ memakai busana kampuh/ duduk dalam pendapa/ Pangeran Adipati Mangkunegara/ memakai busana keprajuritan/ begitu juga dengan Prajurit Estri (istri atau perempuan)/ memakai busana seperti pria/ berkeris cara Bali/ yang disalipkan tegak dan dilapisi emas]

Perhatikan narasi di bait yang pertama! Dari cara berbusana, Pasukan Estri yang diisi oleh kaum perempuan memakai pakaian layaknya kaum pria. Maskulinitas prajurit perempuan ini tampak sejak dalam cara mereka berbusana. Tak cukup sampai di situ, mereka juga memakai aksesoris dan senjata layaknya pria. Keris yang diselipkan pada ikatan di pinggang mereka, tutupnya disepuh emas dan menyilaukan siapa saja yang melihat. Hal itu bukan sekedar aksesoris pemanis semata. Mewahnya keris yang dipakai Pasukan Estri sebanding dengan kemampuan mereka memainkannya sebagai senjata pembunuh jarak dekat yang efektif.

IV – Nora mirip yen wnodya/ respati angagem karbin/ nulya Pangran adipatya/ angirid prajurit estri/ kandheg dipun abani/ paringgitan tata lungguh/ Pangeran Adipatya/ lan Upruk lenggah mandhapi/ sami lare anem Pangeran Dipatya//

[Tidak terlihat kalau itu perempuan/ membawa senjata karabin secara memikat/ lalu Pangeran Adipatya/ mengiringi prajurit wanita/ lalu berhenti memberikan aba-aba/ untuk istirahat duduk di bangsal paringgitan/ Pangeran Adipati/ dan Upruk (Pejabat Kompeni) duduk di pendapa/ beserta Adipati Anom]

Bait-bait senandung dalam Babad Tutur ini menceritakan ketika Pasukan Estri menunjukkan kebolehan dan kecakapannya di depan para pemimpin kesultanan dan pejabat kolonial Belanda. Pertunjukan semacam itu lumrah dilaksanakan ketika keraton sedang menerima tamu penting. Selain dijamu dengan berbagai macam hidangan, mereka juga dijamu dengan pertunjukan pasukan seperti yang diperagakan oleh Pasukan Estri; pasukan elit kesultanan.

VI – Cingak eram kang murat/ kebat acukat tarampil/ gawok katemben kang mulat/ miwah upruk wong kumpeni/ gedheg-gedheg ningali/ estri lir prajurit kakung/ tanah Jawi tan ana/kang dadi Pangran Dipati/ sasampune sadaya sampun umangkat// VIII) Pangeran Dipati asring angajar-ajar/ Ingkang prajurit estri/ Tur ngagem sanjata/ Munggeng luhuring kuda/ Ingunguncalan saking nginggil/ Pan tidadhahan/ Angandhap munggeng turanggi//

[VI – Tercengang mereka yang melihatnya/ lincah, cekatan dan terampil/ semakin terheran-heran yang melihatnya/ tak terkecuali para pejabat Kompeni/ sampai geleng-geleng kepala/ Pasukan Estri seperti pasukan pria/ di seluruh tanah Jawa tidak ada/ [prajurit perempuan seperti] binaan Pangeran Adipati] [VIII – Pengeran Adipati seringkali ngajar/ kepada Prajurit Estri/ untuk membawa senjata/ naik di atas kuda/ melontarkan senjata itu/ kemudian ditangkap/ prajurit yang ada di bawah kuda]

Petunjukan diisi dengan kebolehan yang dilakukan anggota korps Prajurit Estri. Ketangkasan, kelincahan, keterampilan mengolah senjata dan menunggang kuda membuat para penonton berdecak kagum, tak terkecuali para pembesar kesultanan dan pejabat kolonial yang hadir. Kemampuan ini tentu tak seberapa karena hanya menampilkan sisi-sisi atraktif Prajurit Estri. Di arena perang, mereka tidak akan menampilkan diri seindah dan semenarik ketika pertunjukan. Kecantikan perempuan Jawa yang memancar dari wajah mereka akan menuai horor dan percik ketakutan di hati musuh dalam laga pertempuran.

Pertunjukan kekuatan pasukan di depan pejabat kolonial tidak hanya diperuntukkan sebagai sajian penyambutan semata, ia juga ditujukan untuk maksud yang sangat ideologis. Di masa itu, Gubernur Jenderal beserta seluruh residen kolonial diharuskan datang ke keraton sebagai simbol kerjasama dan pengakuan pemerintah kolonial terhadap kuasa kesultanan. Hubungan semacam ini berjalan cukup lama. Melalui pertunjukan semacam itu, Kesultanan secara tidak langsung memperlihatkan kekuatan mereka di depan kuasa kolonial. “Ini lho kekuatan kami! Jangan main-main kowe!” Dan hebatnya, di masa Mangkunegara I, yang dijadikan alat nakut-nakuti kolonial adalah Prajurit Estri. Pejabat kolonial yang hadir tentu berpikir, kalau perempuan-perempuannya saja seperti ini, bagaimana laki-lakinya?

Tak hanya oleh Mangkunegara I, di sisi dinasti yang lain, Hamengku Buwono I juga memiliki korps Pasukan Estri sebanyak 114 orang. Pembentukan korps ini kemungkinan mengambil inspirasi dari Mangkunegara I. Sebagaimana Mangkunegara, Sultan Hamengku Bowono atau Mangkubumi juga mencari perempuan-perempuan desa dan melatihnya secara militer. Di tahun 1809, sewaktu Daendels mengunjungi Kesultanan Yogyakarta untuk menampilkan diri sebagai penguasa Jawa, dia takjub dengan keterampilan Pasukan Estri tersebut.

Istri Sultan Hamengku Buwono I, Ratu Ageng, adalah komandan korps pasukan elit tersebut. Dengan memimpin korps Pasukan Estri, dia mengawal suaminya sepanjang Perang Giyanti tahun 1746-1755. Ketika para prajurit suaminya berkemah di lereng-lereng Gunung Sundoro di Kedu, Ratu Ageng melahirkan Raden Mas Sundoro, calon Hamengku Buwono II yang kelak akan menggantikan ayahnya. Hamil tidak menjadi hambatan bagi Ratu Ageng untuk menunaikan tugasnya mengawal sang Sultan. Bisa dibayangkan di mana batas ketahanan tubuh dan mental yang dimiliki Ratu Ageng kala mengawal sang suami dalam keadaan hamil? Tak hanya itu, ketangguhan dan kemampuannya dalam bertarung tidak usah dipertanyakan lagi. Dari tangan Ratu Agenglah Pangeran Diponegoro ditempa dan embrio Perang Jawa 1825-1830 diwujudkan.

Ada banyak sekali data sejarah yang bisa kita pakai untuk menunjukkan betapa perempuan memiliki posisi dan peran yang tidak kalah besar dibanding kaum laki-laki. Sejarah Nusantara mengafirmasi hal itu dengan munculnya banyak perempuan tangguh yang tampil membawa perubahan. So, melecehkan, melakukan tindak kekerasan dan merendahkan perempuan bukanlah kultur kita!

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...