fbpx
Beranda Gerakan FATAH dan Gerakan Anak Muda Palestina yang Perjuangkan Kemerdekaan Palestina Melalui Jalur...

FATAH dan Gerakan Anak Muda Palestina yang Perjuangkan Kemerdekaan Palestina Melalui Jalur Diplomasi

Harakah.id FATAH dan gerakan anak muda Palestina punya kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Palestina. Dalam gerakannya, mereka selalu menyuarakan kemerdekaan dan pemenuhan hak-hak Palestina sebagai sebuah bangsa.

- Advertisement -

Mengkaji gerakan-gerakan rakyat Palestina, tentu saja tidak bisa terlepas dari pembicaraan bangsa Israel. Dengan kata lain bahwa kebanyakan munculnya gerakan rakyat Palestina, erat kaitannya dengan adanya konflik antar dua bangsa tersebut. Sebenarnya, jika mau menengok ke belakang, maka konflik ini telah megnalami sejarah yang begitu panjang. Sementara itu, yang ditekankan sebagaimana dikatan oleh Syekh Ibrahim Abu al-Haija bahwa perlawanan rakyat Palestina terhadap bangsa Israel seakan-akan sebagai suatu takdir bukan lagi suatu pilihan. 

Pergolakan dan perjuangan di wilayah yang disebut Palestina, telah berlangsung sejak zaman dahulu. Khalifah Umar bin Khattab telah menaklukkan Palestina pada tahun 15 Hijriyah dan menerima kuncinya dari Uskup Agung Saphranius. Mereka menyepakati perjanjian al-Umariyah, di antaranya adalah permintaan orang-orang Nasrani yang tinggal di sana – “tidak boleh satu pun orang Yahudi tinggal di wilayah Palestina.” Di Palestina pun telah terjadi perang antara pasukan Muslim dengan tentara salib pada perang Hiththin (583-1187 M) dan antara pasukan Muslim dengan Tatar pada perang ‘Ain Jalut (658-1260 M). kemudian, diikuti perang melawan Israel yang terjadi hingga sekarang.

Pada tanggal 14 Mei 1948, ketika kekuasaan mandate Inggris berakhir di Palestina, Jewish People’s Council mengumumkan proklamasi berdirinya negara Israel di Museum Tel Aviv. Negara tersebut mendapat pengakuan kedaulatan pada hari itu oleh Amerika Serikat dan tiga hari sesudahnya oleh Uni Soviet. Bagaimana pun, deklarasi Israel itu tidak menyurutkan penduduk wilayah Palestina untuk melakukan perjuangan. Perjuangan Palestina semakin menguat ketika Israel menduduki semua tanah Palestina pada 1967 bahkan telah menyebabkan munculnya berbagai gerakan.

Dengan kondisi Palestina yang terjajah oleh Israel, menyebabkan munculnya gerakan sosial dari beberapa kelompok masyarakat Palestina sebagai bentuk penolakan kehadiran negara Israel di tanah Palestina. Gerakan sosial sendiri merupakan jaringan interaksi informal antara sejumlah individu yang membentuk suatu kelompok berdasarkan identitas yang sama dan terlibat dalam sebuah konflik politik atau budaya.

Salah satu kelompok yang lahir karena kondisi penjajahan di Palestina itu adalah FATAH. FATAH muncul pada tahun 1965 di bawah kendali PLO. Organisasi FATAH sendiri didirikan oleh pemuda-pemuda Palestina yang di awal perjuangannya berorientasi pada Islam. Banyak di antara mereka ini dipengaruhi pemikiran pergerakan Ikhwanul Muslimin. Namun, karena suasana politik dan iming-iming kedudukan, kekuasaan, juga materi, garis perjuangan mereka berubah haluan menjadi sekuler. Tapi FATAH dan gerakan anak muda Palestina ini tetap punya peranan tersendiri dalam cerita perjuangan rakyat Palestina

Setelah Perang Enam Hari pada tahun 1967, Fatah muncul sebagai kekuatan yang dominan dalam dunia politik di Palestina. Dan akhir 1960-an Fatah bergabung dengan PLO, kemudian pada tahun 1969 Yasser Arafat—salah satu pendiri dari Fatah menjadi peminpin dalam PLO. Sebetulnya, selain Fatah, ada banyak faksi-faksi perjuangan yang dibiayai oleh negara-negara Arab. Sayangnya, tidak sedikit justru melakukan perlawanan dengan cara-cara yang melanggar garis perjuangan Islam. Karena target faksi-faksi itu didirikan untuk memperburuk citra jihad dan mujahid agar dijauhi dan dikecam dunia. 

Stategi pergerakan FATAH dan gerakan anak muda Palestina ini pada awalnya mengandalkan gencatan senjata, sama  halnya seperti Hamas. Namun, FATAH juga menempuh jalur diplomasi sebagai cara mereka untuk mempejuangkan Palestina. Fatah sendiri tidak sekeras Hamas yang sams sekali tidak mengakui adanya negara Israel, justru Fatah mengakui adanya negara Israel bahkan mereka sering melakukan perundingan.

Sebelum Organisasi FATAH mengambil jalur diplomasi, dulu Fatah juga aktif dalam gerakan militer bersenjata yang dinamai al-Asifah. Kelompok bersenjata ini mulai aktif bergerak pada tahun 1965, kelompok tersebut bermarkas di Tepi Barat, Gaza, dan di beberapa negara Arab lainnya. Al-Asifah mengawali perjuangan mereka dengan melawan kependudukan Israel dan terlibat dalam perang Arab-Israel 1967. Namun, gerakan kelompok al-Asifah ini mengalami kegagalan setelah mereka terusir dari Yordania dan Lebanon, kemudia mereka mengalami pengusiran lagi pada tahun 1970-an dan 1980-an. 

Dan baru-bari ini, gerakan Fatah Palestina mengkritik keras Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, yaitu Mike Pompeo. Hal ini disebabkan oleh seruan terbaru dari Pompeo untuk mengganti kepemimpinan Palestina. Kritikan keras ini sesuai dengan penolakan Palestina pada kesepakatan normalisasi antara negara-negara Arab dan Israel. Dilansir dari Internationalsindonews.com (04/10) bahwa Kepala Kantor Mobilisasi dan Organisasi Departemen Informasi Fatah, yaitu Munir Jaghoub yang merespons Pompeo melalui postingan di akun Facebook. Dia mengatakan bahwa kapan Pompeo menyadari jika rakyat Palestina selalu memilih pemimpin dari mereka dan memang Palestina merupakan negara yang sedang dalam penjajahan, tetapi negara Palestina bukanlah sebuah republik pisang yang dengan mudah diubrak-abrik untuk kepentingan negara lain. 

Munir Jaghoub juga menegaskan bahwa Mike Pompeo harus segera menyadari bahwa martabat, harga diri, dan kepercayaan pada masa depan adalah komoditas asli rakyat Palestina, seperti minyak zaitun, thyme, dan baju Kananit yang dibordir dengan cinta untuk tanah air Palestina. Tentu saja, kritik ini sebagai penegasan kembali terhadap penolakan Palestina pada semua rencana yang bertujuan untuk menghapus kepentingan Palestina pada abad ini.

REKOMENDASI

Mbah Maimoen Zubair, Ulama Pakubumi yang Lahir Bersamaan Dengan Pekikan Sumpah Pemuda 1928

Harakah.id - Mbah Maimoen Zubair al-maghfurlah adalah salah seorang ulama pakubumi yang lahir bertepatan dengan Sumpah Pemuda. Selama hidupnya, Mbah Maimoen...

Bukan Untuk Diperdebatkan Haram-Halalnya, Maulid Nabi Adalah Momentum Meniru Keteladanan Muhammad

Harakah.id - Maulid Nabi sebenarnya adalah momentum berharga untuk meniru dan belajar dari keteladanan Nabi Muhammad. Maulid Nabi bukan justru waktu...

Kiai Abbas Di Pertempuran Surabaya 1945, Dari Membentuk Telik Sandi Sampai Menghancurkan Pesawat Dengan...

Harakah.id - Kiai Abbas di pertempuran Surabaya 1945 tidak hanya berperan sebagai pasukan, tapi juga komandan dan perumus strategi perlawanan. Selain...

Felix Siauw, Buku Muhammad Al-Fatih 1453 dan Kedaulatan Negara dalam Bayang-Bayang Bahaya Eks HTI

Harakah.id - Felix Siauw kembali membuat negeri ini heboh. Heboh sebab pembatalan surat edaran Dinas Pendidikan Bangka Belitung (Disdik Babel) yang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...