Beranda Sejarah Fatwa Al-Ghazali untuk Pemimpin Negara Soal Bolehnya “Memerangi” Negara Islam Kecil yang...

Fatwa Al-Ghazali untuk Pemimpin Negara Soal Bolehnya “Memerangi” Negara Islam Kecil yang Menyebabkan Kehancuran Umat

Harakah.id – Fatwa Al-Ghazali soal apakah boleh bagi sebuah negara Islam yang kuat untuk menundukkan negara lain yang lebih kecil dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu?

Pada tahun 422 Hijriyah, kekuasaan Bani Umayyah atau Kekhalifahan Kordoba di Andalusia berakhir dan pecah menjadi 20 kerajaan kecil dan lemah yang dinamakan oleh para sejarawan dengan Muluk At-Thawaif. Disamping saling berseteru dengan sesamanya, negara-negara kecil ini juga membayar upeti kepada kerajaan-kerajaan Kristen di Andalusia seperti Kastilia dan Leon. Bahkan yang lebih parah, mereka meminta bantuan dari kerajaan Kristen untuk memerangi sesama kerajaan Islam.

Apa yang terjadi setelahnya? Melihat kerajaan-kerajaan Islam yang semakin melemah ini, kerajaan-kerajaan Kristen Andalusia kemudian mengambil sikap untuk memusnahkan kerajaan-kerajaan Islam bahkan mereka yang pernah berkoalisi dan membayar upeti. Satu persatu Muluk At-Thawaif jatuh ke tangan Alfonso VI of León and Castile.

Sebagian Para Raja Muluk At-Thawaif kemudian meminta bantuan Amirul Muslimin Yusuf Ibnu Tasyfin penguasa Almoravid empire (Daulah Al-Murabithun) di Maroko. Maka pada tahun 479 pasukan Al-Murabithun untuk pertamakalinya berlayar ke Spanyol dan terjadilah pertempuran Zallaqah yang terkenal yang dimenangkan oleh kaum muslimin.

Setelah pertempuran Zallaqah, Yusuf Ibnu Tasyfin pulang ke Maroko karena kematian anaknya. Para penguasa Muluk At-Thawaifpun kembali bersengketa sesamanya yang memberikan peluang kepada Alfonso IV penguasa kerajaan Kastilia dan Leon untuk kembali menyerang kerajaan-kerajaan Islam.

Yusuf Ibnu Tasyfin dan pasukannyapun kembali berlayar ke Spanyol untuk kali kedua pada tahun 481 Hijriyah demi berjihad membantu kerajaan Islam di Spanyol.

Perseteruan sesama Muluk At-Thawaif terjadi lagi setelah kepulangan Ibnu Tasyfin ke Maroko. Melihat kondisi umat Islam Andalusia yang kian mengkhawatirkan, untuk ketiga kalinya Ibnu Tasyfin berlayar ke Andalusia tahun 483 untuk menyerang kerajaan Kastilia Kristen. Sayangnya, tak seorangpun dari penguasa muslim di Spanyol yang mau membantu Yusuf Ibnu Tasyfin. Mereka menolak berjihad dibawah bendera Ibnu Tasyfin dengan alasan bahwa Ibnu Tasyfin bukan Khalifah dan bukan keturunan Quraisy. Maka tidak ada kewajiban jihad selain dibawah pimpinan Imam Quraisy atau penggantinya.

Yusuf Ibnu Tasyfinpun mengirim Al-Qadhi Abu Bakar Ibnul Arabi Al-Maliki dan ayahnya untuk meminta restu kepada Khalifah Al-Mustazhir Al-Abbasi di Baghdad agar ia dan Daulah Al-Murabithun diresmikan sebagai kepanjangan tangan Kekhalifahan Abbasiyah. Sekaligus meminta fatwa dari Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali tentang hukum memerangi Muluk At-Thawaif dan hukum harta dan tawanan mereka.

Yusuf Ibnu Tasyfinpun menaklukkan satu persatu kerajaan Islam Muluk At-Thawaif, mulai dari Granada, Malaga, Sevilla, Cordoba dan lain-lain. Setidaknya, dengan jasa Ibnu Tasyfin menaklukkan Muluk At-Thawaif, umat Islam di Spanyol bisa tetap bertahan sampai tiga abad setelahnya hingga perpecahan kembali terjadi serta terperosoknya umat Islam dalam kehidupan yang hedonis. Andalusia Islampun runtuh di Abad ke 9 Hijriyah dan yang tersisa adalah cerita tentang kejayaan dan akhir yang memilukan.

**
Al-Qadhi Ibnul Arabi mulai berangkat ke timur Islam sekitar tahun 482 Hijriyah, setelah menunaikan ibadah haji dan ke Baitul Maqdis, beliau bertemu dengan Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali pada tahun 490 di Ribath Abi Sa’id Madinatusssalam Baghdad sebagaimana yang beliau ceritakan sendiri dalam Al-Alwashim Wa Al-Qawashim. Al-Ghazali sendiri waktu itu telah menempuh jalan tasawuf sejak tahun 486 atau 488 sebagaimana terlacak dalam sebagian manuskrip Al-Munqidh Min Ad-Dhalal.

Setelah berguru dari Al-Ghazali selama kurang lebih dua tahun Ibnul Arabi kembali ke Afrika, sempat singgah di Alexandria Mesir pada tahun 492 dan berguru pada At-Turtusy untuk keduakalinya. Di Alexandria, Ibnul Arabi mendengar peristiwa pilu jatuhnya Baitul Maqdis ketangan tentara salib, beberapa waktu kemudian, sang ayah yang senantiasa menemani safarnya juga meninggal di Mesir.

Diantara fatwa Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali untuk Amirul Muslimin Yusuf Ibnu Tasyfin adalah wajibnya memerangi para Muluk At-Thawaif yang menolak untuk berjihad dan tunduk kepada Ibnu Tasyfin terlebih lagi sikap mereka yang meminta bantuan dari kerajaan Kristen untuk memerangi sesama Islam. Akan tetapi, zahir dari fatwa Al-Ghazali adalah bahwa beliau tidak mengkafirkan para Muluk At-Thawaif akan tetapi beliau menganggapnya sebagai Bughat/pemberontak.

Fatwa Al-Ghazali terhadap bolehnya bahkan wajib memerangi negara-negara kecil yang saling berselisih dan menjadi sebab kehancuran umat Islam sangat penting diteliti untuk kemudian dikomparasikan dengan realitas negara-negara Islam di abad ini yang hampir mirip dengan Muluk At-Thawaif. Apakah boleh bagi sebuah negara Islam yang kuat untuk menundukkan negara lain yang lebih kecil dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu? Wallahu a’lam bisshawab.

Sebagian dari teks jawaban Al-Ghazali terhadap pertanyaan Ibnul Arabi dalam manuskrip:

فأجاب رضوان الله عليه: لقد سمعت من لسانه و هو الموثوق
به الذي يستغنى عن شهادته عن غيره و عن طبقة عن ثقة المغرب الفقهاء و غيرهم من سيرة هذا الأمير -أكثر الله من الأمراء أمثاله- ما أوجب الدعاء لأمثاله. و لقد اصاب الحق في إظهار الشعار الإمامى المستظهرى، حرس الله على المستظهرين ظلاله، و هذا هو الواجب على كل ملك استولى على قطر من أقطار المسلمين فى مشارق الأرض و مغاربها، فعليهم تزيين منابرهم بالدعاء للامام الحق، و إن لم يكن قد بلغهم صريح التقليد من الإمام أو تأخر عنهم ذلك لعائق، و إذا نادى الملك المستولى بشعار الخلافة العباسية، وجب على كل الرعايا و الرؤساء الإذعان و الانقياد، و لزمهم السمع و الطاعة و عليهم أن يعتقدوا أن طاعة هي طاعة الإمام، و مخالفته مخالفة الإمام، و كل من تمرد و استعصى وسل يده عن الطاعة، فحكمه حكم الباغى، و قد قال الله تعالى: (و إن طائفتان من المؤمنين اقتتلوا فأصلحوا بينهما فان بغت إحداهما على الأخرى فقاتلوا التي تبغي حق تفيء إلى أمر الله)، و الفيئة إلى أمر الله، الرجوع إلى السلطان العادل المتمسك بولاء الإمام الحق المنتسب إلى الخلافة العباسية فكل متمرد على الحق، فإنه مردود بالسيف إلى الحق، فيجب على الأمير و أشياعه قتال هؤلاء المتمردة عن طاعته، لاسيما و قد استنجدوا بالنصارى المشركين أوليائهم، و هم أعداء الله فى مقابلة المسلمين الذين هم أولياء الله، فمن أعظم القربات قتالهم إلى أن يعودوا إلى طاعة الأمير العادل المتمسك بطاعة الخلافة العباسية.

و مهما تركوا المخالفة، وجب الكف عنهم، و إذا قاتلوا، لم يجز أن يتتبع مدبرهم، و لا أن يذفف على جريحهم بل مهما سقطت شوكتهم و انهزموا، وجب الكف عنهم أعني عن المسلمين منهم دون النصارى الذين لا يبقى لهم عهد مع التشاغل بقتال المسلمين. و أما ما يظفر به من أموالهم فمردود عليهم أو على و ريثهم، و ما يؤخذ من نسائهم و ذراريهم فى القتال مهدرة لا ضمان فيها، و حكمهم بالجملة فى البغي على الأمير المتمسك بطاعة الخلافة، المستولى على المنابر و البلاد بقوة الشوكة، حكم الباغي على نائب الإمام

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...