Fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah tentang Maulid Nabi Muhammad

0
721
Fatwa Majlis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah tentang Maulid Nabi Muhammad

Harakah.id Dalam keputusan Fatwa Majelis Tarjid dan Tajdid Muhammadiyah tentang Maulid Nabi Muhammad menegaskan bahwa ini adalah masalah ijtihadiyah.

Peringatan Maulid Nabi masih dipermasalahkan sebagian umat Islam. Polemik pun terus terjadi setiap tahunnya. Dari 16 dewan fatwa negara mayoritas Muslim, hanya satu lembaga fatwa yang menyebut peringatan maulid sebagai bid’ah munkarah, yang artinya haram dilakukan.

Mayoritas dewan fatwa negara mayoritas Muslim membolehkan dan bahkan menganjurkan peringatan Maulid Nabi. Di Indonesia, Muhammadiyah dan Nadlatul Ulama (NU) dua organisasi masyarakat Islam terbesar juga memilih membolehkan.

Tidak seperti NU yang dikenal lama sebagai organisasi masyarakat yang akrab dengan tradisi Maulid Nabi, Muhammadiyah pernah dikesankan sebagai organisasi yang ‘menolak’. Tetapi kesan ini tidak benar karena dalam keputusan Fatwa Majelis Tarjid dan Tajdid-nya, Muhammadiyah menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi adalah masalah ijtihadiyah; tidak wajib dan tidak dilarang.

Majelis Tarjih kemudian memberikan jalan tengah, peringatan Maulid Nabi boleh selama tidak mengandung kegiatan yang bertentangan dengan ajaran agama. Berikut adalah kutipan fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah tentang peringatan Maulid Nabi, sebagaimana disebutkan dalam website resminya.  

Secara umum tidak ada dalil asal yang melarang atau memerintahkan penyelenggaraan peringatan Maulid Nabi. Perayaan peringatan Maulid Nabi tergolong perkara ijtihadiyah,  sehingga tidak ada dalil kewajiban maupun larangan untuk melaksanakannya.

Tetapi ada hal-hal yang perlu diperhatikan, di antaranya bahwa dalam peringatan Maulid Nabi tersebut jangan sampai melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang yang dapat merusak inti dari perayaan tersebut yaitu semata-mata untuk memuliakan Nabi Muhammad saw.

Perbuatan yang dilarang tersebut antara lain perbuatan-perbutan bid’ah dan mengandung unsur syirik serta memuja-muja Nabi Muhammad saw secara berlebihan, seperti membaca wirid-wirid atau bacaan-bacaan sejenis yang tidak jelas sumber dan dalilnya. Nabi Muhammad saw sendiri telah menyatakan dalam sebuah hadis:

“Diriwayatkan dari Umar ra., ia berkata, aku mendengar Nabi saw bersabda, ‘janganlah kamu memberi penghormatan (memuji/memuliakan) kepada saya secara berlebihan sebagaimana orang Nasrani yang telah memberi penghormatan (memuji/memuliakan) kepada Isa putra Maryam. Saya hanya seorang hamba Allah, maka katakan saja hamba Allah dan Rasul-Nya.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw juga sebaiknya harus mengandung manfaat untuk kepentingan dakwah Islam, meningkatkan iman dan taqwa serta mencintai dan meneladani sifat, perilaku, kepemimpinan dan perjuangan Nabi Muhammad saw, sebagaimana ditegaskan Allah dalam Firman-Nya,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [QS. Al-Ahzab (33): 21]

Dengan demikian,  perayaan Maulid Nabi adalah suatu hal yang mubah. Namun kemubahan ini bisa menjadi Sunnah yang sangat dianjurkan ketika di dalamnya berisi kegiatan-kegiatan untuk meneladani Rasulullah saw. Namun di sisi lain, perayaan tersebut bisa menjadi makruh bahkan haram jika terdapat kemungkaran di dalamnya serta melalaikan kewajiban-kewajiban yang lain.