Fenomena Haji Pengabdi Setan, Siapa Mereka? Menengok Kembali Gagasan Kiai Ali Mustafa Yaqub

0
21041
Fenomena Haji Pengabdi Setan, Siapa Mereka? Menengok Kembali Gagasan Kiai Ali Mustafa Yaqub

Harakah.idHaji Pengabdi Setan adalah istilah yang muncul dari Kiai Ali Mustafa Yaqub. Istilah itu adalah kiasan untuk menggambarkan sebuah fenomena keagamaan yang terjadi, bahkan sampai hari ini.

Dapat dikatakan bahwa pencetus istilah ‘haji pengabdi setan’ adalah (alm) Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA, di dalam bukunya berjudul Haji Pengabdi Setan. Istilah tersebut disematkan kepada orang-orang yang senantiasa melakukan ibadah Haji berulang-ulang sampai lalai akan kewajiban agama yang lain, terutama kewajiban yang berkaitan dengan sosial seperti menyantuni yatim-piatu dan memberi makan fakir miskin.

Kritikan kiai Ali tersebut merupakan sebuah respon terhadap fenomena masyarakat Indonesia yang gemar berhaji –bahkan ada yang setiap tahun. Sampai beliau mempertanyakan motif mereka yang gemar berhaji berulang-ulang: “apakah haji kita itu mengikuti Nabi Saw? Kapan Nabi memberi teladan atau perintah seperti itu? Atau sejatinya kita mengikuti bisikan setan melalui hawa nafsu agar di mata orang awam kita disebut luhur? Apabila motivasi ini yang mendorong kita, maka berarti kita beribadah haji bukan karena Allah, melainkan karena setan.”

Karena menurut sejarah, Nabi Muhammad Saw melaksanakan ibadah haji hanya sekali seumur hidup. Meskipun ibadah haji telah diperintahkan sejak tahun 8 Hijrah, namun akibat banyak faktor sosial yang merintang sehingga Nabi baru berkesempatan mengerjakannya pada tahun 10 Hijrah. Oleh karena itu, wajar jika kiai Ali selaku ulama pakar Hadis mempertanyakan mereka yang kerap berhaji berkali-kali.

Pengataman beliau terhadap fakta sejarah tersebut, kemudian dibandingkan dengan fenomena umat Islam, khususnya di Indonesia, menjadikan beliau ‘risih’ dan menilai hal tersebut sebagai sebuah perbedaan yang cukup jauh dengan apa yang telah dicontohkan oleh Nabi.

Maka, jika kita berhaji hanya lantaran ingin memuaskan hawa nafsu seperti ingin dipuji, dianggap rajin mengerjakan perintah agama, dsb., maka hal tersebut sudah melenceng dari tuntunan agama itu sendiri, dan haji kita bukan malah menjadi pengabdi ajaran agama, tapi pengabdi setan/ hawa nafsu. Apalagi masih banyak ajaran agama yang lain yang belum dipenuhi, terutama yang berhubungan dengan sesama mahluk.

Maka dari itu, kiai Ali cenderung kepada memprioritaskan ibadah sosial ketimbang melaksanakan haji dengan motif seperti tadi. Karena pada dasarnya, kewajiban haji hanya berlaku sekali seumur hidup. Selebihnya, sudah berubah menjadi sunnah. Sedangkan kewajiban ibadah sosial senantiasa menjadi tanggungan selama memiliki kelebihan harta. Oleh karena itu, tuntutan agama yang bersifat wajib harus lebih didahulukan dan diprioritaskan ketimbang yang bersifat sunnah.