Beranda Keislaman Muamalah Fenomena Kawin Lari, Bolehkah Menikah Tanpa Restu Orang Tua? Simak Penjelasannya

Fenomena Kawin Lari, Bolehkah Menikah Tanpa Restu Orang Tua? Simak Penjelasannya

Harakah.idMenikah tanpa restu orang tua memang satu persoalan yang hampir terjadi dalam banyak kasus pernikahan, termasuk di Indonesia. Lalu bagaimana hukumnya menikah tanpa restu orang tua?

Maraknya kasus beberapa selebritis yang menikah tanpa restu orang tua.  Orang tua yang melarang sedangkan anak sudah terpaut hati. Lalu, bagaimanakah hukum pernikahan jika terhalang restu orang tua? Seperti potongan lirik dari Mahalini yang akhir-akhir ini sering didengarkan muda-mudi “Selalu ku titipkan dalam doaku, tapi ku tak mampu melawan restu”.

Memang sangat sakit rasanya jika orang yang kita cintai dan ingin berkomitmen pada kita tidaklah mendapatkan restu dari keluarga. Hati dipenuhi rasa bimbang, karena takut akan restu orang tua, dan satu sisi takut kehilangan orang yang kita cintai.

Sebelumnya, haruslah kita kembali memahami lagi syarat-rukun nikah; adanya calon suami dan istri yang saling rela untuk menikah, lafal ijab Qabul, dan dua orang saksi yang adil, serta wali dari calon istri. Berbakti kepada orang tua (birrul walidain) ialah ajaran asasi dalam Islam.

Maka dari itu, semua anak wajib ekstra berhati-hati dalam menghadapi dan menyikapi orang tua mereka agar hati mereka tidak tersakiti. Banyaknya orang yang menagalami konflik restu orang tua saat ingin menikah, hingga memaksa kawin lari, dan putus hubungan dengan sesama keluarga. Sikap ini pastinya akan meghantui seumur hidup.

Jika kita kaitkan dengan pernikahan, dalam buku Fiqih Kontemporer Karya K.H. Ahmad Zahro (2016), dijelaskan secara fiqih formal (hukum), pilihan pasangan seorang anak yang berbeda dengan orang tuanya tidaklah berpengaruh apa-apa terhadap sahnya pernikahan, karean restu orang tua tidak terikat dengan syarat-rukun nikah. Dalam fiqih formal, ayah lebih dominan dibanding ibu dikarenakan ayah yang berhak menjadi wali bagi seorang anak perempuannya.

Namun, seccara fiqih moral (akhlak) dan fiqih sosial (kemasyarakatan), pernikahan yang tidak direstui orang tua akan bermasalah  bagi hubungan anak dan orang tua kelak. Pernikahan tanpa restu orang tua tidaklah berkah ketika menjalani biduk rumah tangga nantinya. Kunci semua itu ialah komunikasi kepada orang tua dan anak agar tidak terjadinya penolakan dan pertentangan. Kedua anak haruslah memberi penjelasan yang baik agar orang tua mereka mengerti.

Jika orang tua menolak pilihan sang anak hanya karena pertimbangan etnis atau tradisi, maka orang tua haruslah berfikir seribu kali untuk mempertanggungjawabkan dihadapan Allah nanti, karena dalam al-Quran Allah menjelaskan dalam QS. al-Hujurat:13 bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Bahkan Rasulullah saw juga telah menghilangkan sikap rasisme dalam Islam.

Penolakan seperti harta, tahta dan jabatan juga tidak dibenarkan bagi orang tua untuk menolak pilihan anaknya karena faktor tersebut. Alasan ini tidaklah menjadi halangan bagi orang tua untuk menolak pilihan anaknya. Namun, jika penolakan orang tua dikarenakan mengetahui bahwa sang anak telah cinta buta sehingga tidak dapat melihat kesalahan dan sifat buruk dari pasangannya yang mendurhakai Allah itu dibenarkan untuk melarang anak menikahi pilihannya.

Maka dari itu, hendaknya orang tua bersikap arif dan bijaksana dalam menghadapi anak-anaknya kelak jika sudah ingin menjalin hubungan pernikahan. Semoga orang tua saat ini tidak lagi bersikap otoriter tanpa adanya kompromi melarang pernikahan anak-anak mereka. Jangan jadikan alasan-alasan harta dan jabatan sebagai patokan sebuah kebahagiaan. Alangkah baiknya, kenali dahulu pasangan anak sebelum memberikan jawaban layak  atau tidak layak. Jika memaksa anak menikah dengan pilihan orang tua, dan anak tidak bahagia maka dosa bagi orang tua.

Namun, orang tua pastilah memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Begitu pula, seorang wanita dan laki-laki haruslah selektif dalam memilih pasangannya. Pernikahan yang direstui orang tua akan jauh lebih berkah dan bahagia, karena pernikahan itu menyatukan dua keluarga besar.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...