Fenomena Korupsi Di Zaman Rasulullah dan Bagaimana Beliau Mengatasinya

0
96

Harakah.idPraktik korupsi di zaman Nabi saw hingga sekarang terus ada. Semakin bertambah mungkin. Ada hukuman atau ancaman bagi mereka yang melakukannya, bukan hanya di dunia tetapi di akhirat juga.

Korupsi berasal dari kata bahasa Inggris (Corruption) yang berarti menyuap (Corruppere) dan merusak. Bahasa Belanda (Corruptive) berarti kecurangan atau perbuatan yang menyimpang atau penyelewengan atau penggelapan uang negara atau perusahaan dan sebagainya untuk kepentingan pribadi atau orang lain. Menurut KBBI korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara, perusahaan, organisasi, yayasan, dan sebagainya untuk kepentingan dan keuntungan pribadi atau orang lain.

Korupsi menurut Islam adalah ghulul (penggelapan). Artinya berkhianat dalam pembagian harta rampasan perang. Sejatinya, pihak yang berhak membagikan adalah pemimpin perang, tidak boleh yang lainnya.

Dalam kitab Al-Zawajir dijelaskan ghulul adalah harta rampasan perang dari lawan. Seorang tentara, prajurit ataupun pimpinan unit memisahkan bagiannya terlebih dahulu, tanpa menyerahkannya kepada pemimpin tertinggi untuk dibagi menjadi lima bagian, walaupun harta yang digelapkan hanya sedikit.

Dari definisi di atas, tindak korupsi adalah perbuatan yang tercela, hanya untuk memuaskan hawa nafsu yang sifatnya sementara. Mereka tidak memikirkan dampak yang dilakukannya dan bahwasannya akan ada balasannya di dunia maupun diakhirat.

Korupsi adalah salah satu perbuatan yang dilarang di dalam al-Qur’an dan hadis Nabi SAW. Karena, korupsi karena dapat merugikan diri sendiri dan orang banyak. Fenomena Korupsi Di Zaman Rasulullah dan Bagaimana Beliau Mengatasinya. Praktik korupsi sudah ada pada zaman Nabi saw sebagaimana terekam dalam hadis berikut ini :

عن أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى خَيْبَرَ ، فَفَتَحَ اللَّهُ عَلَيْنَا فَلَمْ نَغْنَمْ ذَهَبًا وَلَا وَرِقًا ، غَنِمْنَا الْمَتَاعَ وَالطَّعَامَ وَالثِّيَابَ ، ثُمَّ انْطَلَقْنَا إِلَى الْوَادِي ، وَمَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَبْدٌ لَهُ ، وَهَبَهُ لَهُ رَجُلٌ مِنْ جُذَامٍ يُدْعَى رِفَاعَةَ بْنَ زَيْدٍ مِنْ بَنِي الضُّبَيْبِ ، فَلَمَّا نَزَلْنَا الْوَادِيَ ، قَامَ عَبْدُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحُلُّ رَحْلَهُ ، فَرُمِيَ بِسَهْمٍ ، فَكَانَ فِيهِ حَتْفُهُ ، فَقُلْنَا : هَنِيئًا لَهُ الشَّهَادَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كَلَّا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ ، إِنَّ الشِّمْلَةَ لَتَلْتَهِبُ عَلَيْهِ نَارًا أَخَذَهَا مِنَ الْغَنَائِمِ يَوْمَ خَيْبَرَ لَمْ تُصِبْهَا الْمَقَاسِمُ ، قَالَ : فَفَزِعَ النَّاسُ ، فَجَاءَ رَجُلٌ بِشِرَاكٍ أَوْ شِرَاكَيْنِ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَصَبْتُ يَوْمَ خَيْبَرَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : شِرَاكٌ مِنْ نَارٍ أَوْ شِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ.

Dari Abu Hurairah yang berkata, “Kami pergi ke Khaibar bersama Rasul () dan Allah memberi kami kemenangan. Kami tidak menjarah emas atau perak tetapi meletakkan tangan kami di atas barang-barang, jagung dan pakaian, dan kemudian membelokkan pemberhentian kami ke sebuah lembah; bersama Rasulullah () ada seorang budak yang dipersembahkan oleh seorang Rifa’a bin Zaid dari keluarga Judham, suku Dubayb. Ketika kami turun ke lembah, budak Rasulullah berdiri dan mulai membongkar tas pelana dan tiba-tiba terkena panah (nyasar) yang berakibat fatal. Kami berkata: Ada salam untuknya, Rasulullah, karena dia mati syahid. Atas hal ini Rasulullah () berkata: Tidak, tidak demikian. Demi Dzat yang nyawa Muhammad berada di tangan-Nya, pakaian kecil yang dia curi dari barang rampasan pada hari Khaibar tetapi tidak (secara sah) jatuh ke bagiannya, terbakar seperti Api (Neraka) di atasnya. Orang-orang sangat gelisah (mendengar ini). Seseorang datang ke sana dengan satu atau dua tali dan berkata: Ya Rasulullah, saya menemukan (mereka) pada hari Khaibar. Dia (Nabi Suci) berkomentar: Ini adalah renda api atau dua tali api.” (HR. Muslim)

Dari hadis di atas, dapat disimpulkan bahwa pada zaman Nabi saw seseorang yang mengambil harta rampasan walaupun sedikit atau sekecil apapun sudah dianggap korupsi (ghulul). Karena, harta rampasan tersebut bukan hanya hak milik satu orang akan tetapi hak milik para pengikutnya juga dan akan dibagi rata oleh pimpinannya. Nabi saw tidak akan berkhianat dalam hal ghanimah. Beliau bukan orang yang tamak harta dan tahta sedikitpun. Beliau hanya memikirkan ummatnya. Dalam sebuah hadis, diriwayatkan:

أن رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ

Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “hadiah bagi para pejabat adalah ghulul (korupsi) (HR. Ahmad)

Dari hadis kedua di atas sangat jelas bahwasannya Nabi tidak membenarkan tindak korupsi (ghulul). Walaupun dalam hadis tersebut, Nabi saw tidak menuliskan kata larangan untuk melakukan hal tersebut. Akan tetapi dalam hadis tersebut menjelaskan orang yang mengambil harta rampasan sebagian harta seperti terbakar oleh api neraka.

عَنْ عَدِيِّ ابْنِ عَمِيرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمَنَا مَخِيطًا فَهُوَ غُلٌّ يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ آدَمُ طُوَالٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَقَالَ لَا حَاجَةَ لِي فِي عَمَلِكَ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَ قَالَ إِنِّي سَمِعْتُكَ آنِفًا تَقُولُ قَالَ فَأَنَا أَقُولُ الْآنَ مَنْ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَلْيَأْتِ بِقَلِيلِهِ وَكَثِيرِهِ فَإِنْ أُتِيَ بِشَيْءٍ أَخَذَهُ وَإِنْ نُهِيَ عَنْهُ 

Dari Adi bin Amirah dari Rasulullah saw yang bersabda: “Siapa pun dari kalian yang kami pekerjakan untuk melakukan sesuatu kemudian ia menyembunyikan sesuatu meskipun seutas benang, maka itu merupakan pengkhianatan yang akan kelak pada hari kiamat.”seorang laki-laki Anshar berkulit sawo matang dengan postur tubuh yang tinggi berdiri seraya berkata,”saya tidak berminat sedikit pun terhadap tawaran pekerjaanmu.”maka Rasulullah saw bersabda kepadanya: “kenapa? Laki-laki itu menjawab, “saya telah mendengar apa yang tuan katakan. “beliau berkata: “jika demikian maka saya katakan, bahwa barangsiapa dari kalian yang kami pekerjakan atas suatu amalan, hendaklah ia datang dengan hasilnya, baik sedikit atau banyaknya. Jika diberi sesuatu hendaklah ia ambil, jika dilarang dari sesuatu maka hendaklah ia tinggalkan. (HR. Ahmad)

Hadis di atas menjelaskan bahwa Nabi saw melarang orang yang beliau pekerjakannya (dijadikan pejabat) untuk mengambil sedikit dari hasil bekerjanya. Jika melanggar, maka dia dianggap telah berkhianat dan dituntut pada hari kiamat kelak. Hadis di atas disebutkan dalam sejumlah kitab hadis seperti Shahih al-Bukhari, Muwatha’,  Sunan Abi Dawud, Shahih Ibnu Hibban dan Sunan al-Kubra.

Dengan demikian, praktik korupsi di zaman Nabi saw hingga sekarang terus ada. Semakin bertambah mungkin. Ada hukuman atau ancaman bagi mereka yang melakukannya, bukan hanya di dunia tetapi di akhirat juga. Demikian ulasan tenatng Fenomena Korupsi Di Zaman Rasulullah dan Bagaimana Beliau Mengatasinya. Semoga kita dijauhkan dari praktik korupsi.

Artikel berjudul “Fenomena Korupsi Di Zaman Rasulullah dan Bagaimana Beliau Mengatasinya” ini adalah kiriman Milda Widiawati, Mahasiswi Prodi Ilmu Hadis UIN Jakarta.