Beranda Headline Fragmen Sejarah Perang Uhud: Dampak Langsung dan Tak Langsung

Fragmen Sejarah Perang Uhud: Dampak Langsung dan Tak Langsung [5-habis]

Dilihat dari begitu krusialnya Perang Uhud, maka dampak yang terjadi pasca perang juga berpengaruh besar pada fase-fase berikutnya di seluruh lini kehidupan umat Muslim Madinah. Beberapa dampak yang bisa saya simpulkan adalah:

Pertama, soliditas kaum muslimin meningkat. Insiden tidak mengenakkan di Perang Uhud menjadi alasan utama di balik meningkatnya militansi dan kesetiaan para sahabat kepada perintah Rasulullah SAW. Soliditas dan kekompakan semacam Ini menjadi modal utama bagi pondasi negara Madinah yang lebih modern di masa-masa yang akan mendatang. Dengan menegaskan posisi komando tertinggi Rasulullah SAW, umat Islam berada dalam satu struktur sosial yang rapi dan stabil. Selain alasan-alasan dogmatis, struktur tersebut juga dibangun di atas alasan-alasan politis dan ekonomi.

Kedua, posisi umat Islam semakin mendapatkan tempat dalam percaturan politik sektarian internal bangsa Arab. Kabilan-kabilan dan klan Arab berbondong-bondong untuk masuk Islam dan menyatakan kesetiaan kepada Rasulullah SAW. Sebagai penguasa rute perdagangan yang baru, Rasulullah SAW, Islam dan Madinah kin menjadi tiga variabel utama bertahannya sebuah kabilan Arab. Dengan bergantung hidup pada geliat perdagangan, memiliki ikatan perjanjian dengan pemilik rute tentu merupakan sebuah keniscayaan.

Ketiga, pengalaman perang di Badar dan Uhud menambah wawasan kaum Muslimin terkait strategi perang. Mau diakui atau tidak, pemilihan strategi di Perang Uhud telah menjadi kunci kemenangan pasukan Muslimin andaikan tidak terjadi ingkar komando. Pengalaman dan wawasan tersebut kemudian melahirkan variasi-variasi sekaligus keberanian untuk menerapkan strategi perang modifikatif.

Angkatan perang Madinah tidak lagi tunduk pada gaya perang ortodoks yang selama ini selalu menjadi acuan perang di Arab. Buktinya, di kemudian hari, angkatan perang Rasulullah SAW memperkenalkan penerapan parit dalam Perang Khandak. Strategi perang defensif dengan mengandalkan benteng dan parit tidak pernah dikenal sebelumnya oleh bangsa Arab karena bisa dipastikan akan berujung kekalahan. Bani Qaynuqa’ adalah salah satu korbannya.

Strategi perang defensif dengan benteng tinggi-kokoh dan parit biasanya dilakukan oleh kerajaan-kerajaan di sebuah kondisi geografis yang tropis. Strategi semacam ini membutuhkan pasokan makanan dan air yang begitu besar untuk menghidupi manusia-manusia di dalam benteng selama proses pengepungan. Strategi semacam ini yang berkali-kali dimanfaatkan oleh Konstatinopel untuk mematahkan kekuatan pasukan Muhammad al-Fatih. Strategi tersebut mengalah musuh dengan perlahan. Musuh dibiarkan mengepung selama mungkin. Musuh dibiarkan hidup di tenda-tenda dengan kondisi alam yang tak menentu dan ransum makanan yang terbatas. Pastinya, kondisi geografis bangsa Arab tidak ramah terhadap strategi perang semacam ini.

Keempat, hasil akhir di Uhud secara tidak langsung memberikan kaum Muslimin kuasa tunggal atas jalur perdagangan. Konsekuensinya, Madinah menjadi kota metropolitan baru dan memiliki posisi sentra dalam percaturan politik internasional. Melalui konfigurasi sistem kenegaraan modern yang diciptakan oleh Rasulullah SAW, Madinah merevisi karakter nomaden yang selama ini menjadi ciri khas kehidupan orang-orang Arab.

Konsekuensinya, Rasulullah SAW dan kaum Muslimin, dengan media negara baru bernama Madinah, mulai menjalin hubungan bilateral dengan kerajaan-kerajaan tetangga. Hal ini bisa kita lihat dalam banyak riwayat yang mengabarkan bahwa Nabi sering menerima upeti dan hadiah. Beriringan dengan hal itu, Rasulullah SAW juga mulai memetakan garis teritorial dengan cara melakukan invansi yang cukup intens ke beberapa wilayah perbatasan. Invansi teritorial ini di kemudian hari akan menyentuh daratan Eropa.

Keenam, pada akhirnya Rasulullah SAW dan umat Islam pun terlibat dalam jaringan geo-politik internasional dengan meletakkan pengaruhn di jalur perdagangan international. Satu riwayat yang saya kira bisa menjadi pijakan untuk menegaskan asumsi ini. Dalam salah satu riwayat yang terdapat dalam al-Mustadrak lil Hakim bab al-Ath’imah, Sahabat Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan:

 

أهدى ملك الهند الى رسول الله صلى الله عليه وسلم جرة فيها زنجبيل فأطعم أصحابه قطعة قطعة وأطعمني منها قطعة

 

Ada beberapa data yang menarik dalam riwayat di atas. Pertama tentu kalimat “Malik al-Hind”. Para sejarawan memang masih berbeda pendapat soal siapa Malik al-Hind yang dimaksud Abu Sa’id. Apakah Malik al-Hind Raja India atau Raja di Nusantara? Al-Hind memiliki arah pemaknaan kepada dua hal tersebut. Namun saya pribadi menyakini bahwa yang dimaksud al-Hind tersebut adalah Nusantara. Asumsi ini didasarkan kepada beberapa hal berikut:

Dalam sebuah artikel berjudul “Inilah Pedang Nabi Muhammad yang Berasal dari Nusantara”, Kholili Kholil membahas sebuah pedang milik Rasulullah SAW bernama Pedang al-Qala’i. Sebagai data yang disebutkan al-Thabari dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk, al-Qana’i adalah pedang yang Rasulullah SAW dapatkan ketika Perang Bani Qaynuqa’. Pedang ini masyhur sampai digunakan sebagai tamsil untuk menunjukkan sesuatu yang sangat berkualitas. Hingga akhirnya Nuwairi dalam Nihayatul Irbi membuat sebuah sya’ir “inna-s-sayfa mata qulli’a bil-Hind wa thubi’a bil-Yaman fanahika bihi”. Ternyata Pedang al-Qala’i made in Hind. Lalu dimanakan Hind itu? Qazwini dalam Atsar al-Bilad kemudian menjelaskan asal muasal Pedang al-Qala’i yang menurutnya berasal dari kota bernama Kalah yang kini bernama Klang di Malaysia. Maka al-Qala’i sebenarnya arabisasi dan nisbat kepada kota Kalah yang produksi timahnya memang juara 1. Dalam sebuah riwayat di Sahih al-Bukhari, para sahabat juga dikenal sering menggunakan jenis tombal bernama “anuk” yang ditafsiri oleh Ibn al-Jauzi sebagai “min al-rashash al-qala’i” tombak timah yang berasal dari Kota Kalah.

Berdasarkan data ini, hubungan perdagangan Madinah-Nusantara memang sudah terbentuk sejak pasca Badar. Dari sini, kata “al-Hind” yang sering dipakai oleh para sahabat secara tidak langsung merujuk kepada makna Nusantara. Hal ini kemudian bisa saya pertegas dengan data berupa “jarrah” dan “zanjabil” yang merupakan hadiah yang diterima Rasulullah SAW dalam riwayat di atas. “Jarrah” bisa dimaknai guci atau tembikar, sedangkan “zanjabil” adalah sejenis rempah (dalam korpus berbahasa Inggris kalimat ini dimaknai gringer atau jahe). Maka bisa kita perkirakan bahwa hadiah tersebut datang bukan dari rute pelayaran India – Yaman, tapi rute pelayaran berikutnya yang melewati Yaman – Nusantara – Cina. Tapi tentu saja asumsi ini masih bisa diperdebatkan.

Kesimpulannya, keterlibatan kaum Muslim di jalur pelayaran internasional sudah terbentuk bahkan sebelum Perang Uhud pecah (kalau kita menerima asumsi Pedang al-Qala’i di atas). Dengan kata lain, Rasulullah SAW sudah dikenal dan memiliki posisi sentra di kancah eko-politik dunia. Pasca Perang Uhud, tentu saja ikatan dan jalinan tersebut menjadi semakin kuat. Selain apa yang telah saya tulis di atas, dampak-dampak positif lainnya mungkin masih banyak yang belum disebutkan. Tapi yang harus diingat, konsekuensi negatif juga terus mengintai dan tidak sedikit.[]

Wallahu a’lam bis-shawab…

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...