Fragmen Sejarah Perang Uhud: Kondisi Madinah Pra-Peperangan [3]

0
1002

Setelah Perang Badar, pamor Nabi Muhammad SAW dan kekuatan kaum Muslimin menimbulkan kedengkian dari orang-orang Yahudi Madinah. Meskipun terikat kesepakatan konstitusional dalam Piagam Madinah, beberapa klan Yahudi tetap tidak suka kaum Muslim Madinah bertambah kuat dan stabil. Bagaimanapun mereka adalah rival. Kekuatan serta kekuasaan adalah sesuatu yang tidak bisa ditolerir. Suatu saat keduanya diyakini mampu menghilangkan jejak mereka sebagai penduduk asli Madinah.

Di tengah euforia kemenangan atas pasukan Quraisy, Rasululah SAW dan para sahabat mengalami beberapa kali perang dalam rentang waktu Perang Badar ke Perang Uhud. Setidaknya ada 5 insiden perselisihan dan pertempuran kecil yang dicatat oleh sejarah. Di bulan Syawal 2 H/ April 624 M, mereka mengalami Perang Bani Qaynuqa’. Perang terjadi karena Bani Qaynuqa’ melanggar perjanjian konstitusi sebagaimana yang tertera dalam Piagam Madinah.

Di bulan yang sama, Nabi dan Sahabat juga mengalami insiden Perang Bani Sulaym, salah satu klan Kabilah Ghatafan. Di Bulan Dzulhijjah 2 H/ Juni 624 M, upaya Abu Sufyan membunuh Nabi diam-diam dengan menyusup ke Madinah membuat gempar. Dalam insiden yang dinamakan Perang Bani Sawwiq, Abu Sufyan berhasil melarikan diri setelah gelagatnya dicium langsung oleh Nabi.

Di Bulan Rabi’ul Awwal 2 H/ Agustus 624 M, Kabilah Tsa’labah dan Kabilah Muharib berencana menyerang Madinah. Rencana tersebut tercium oleh Nabi sebelum keduanya berhasil menyerang. Tidak terjadi kontak senjata karena keduanya melarikan diri terlebih dahulu. Terakhir, di Bulan Jumadil Awwal 2 H/ Oktober 624 M, Bani Sulaim kembali membuat ulah. Ketika hendak dihajar oleh pasukan Muslim, Bani Sulaim melarikan diri sebelum terjadi kontak senjata. Insiden ini dinamai Perang Buhran.

Seluruh insiden perselisihan yang dialami oleh Nabi dan para Sahabat pasca Perang Badar dan menjelang Perang Uhud didominasi perselisihan yang terjadi dengan klan-klan Yahudi Madinah. Hal ini menunjukkan bahwa kemenangan dan posisi umat Muslim pasca Badar memberikan mereka satu kekuatan politis-ekonomis yang tidak disukai kaum Yahudi. Meskipun disimpan serapat mungkin, ketidaksukaan dan kedengkian itu diam-diam berubah menjadi sikap opisisi yang melahirkan pertentangan-pertentangan dan pelanggaran atas kesepakatan konstitusi yang mereka buat di awal.

Dari saking jelasnya, kebencian kaum Yahudi Madinah tersebut mampu dicium oleh Abu Sufyan. Sebelum merencanakan Perang Uhud, bersama 200 orang Abu Sufyan pergi dan menyusup ke Madinah atas bantuan Salam bin Misykam, salah seorang pimpinan Bani Nadhir. Untung saja rencana busuk ini tercium oleh Nabi sebelum Abu Sufyan berhasil menyelundupkan 200 pasukan yang sudah disiapkannya 12 mil dari Madinah. Upaya Abu Sufyan menyusup ke Madinah terealisasi berkat kerjasamanya dengan pimpinan klan Bani Nadhir. Meskipun tidak berhasil membunuh Nabi diam-diam, insiden ini menjadi pelajaran bagi kaum Muslimin, khususnya Nabi dan para pembesar Sahabat, akan ancaman yang datang dari dalam Madinah.

Mereka menyadari bahwa ancaman ini satu saat akan menguap dan menemukan titik kulminasinya. Insiden Bani Sawwiq juga merupakan pertanda akan datangnya satu serangan yang lebih besar dari Mekkah. Meskipun tidak tahu pasti jumlah pasukan dan strategi apa yang akan digunakan musuh, Nabi merasakan bahwa peperangan besar selanjutnya akan segera datang. Maka hari-hari menjelang Perang Uhud juga merupakan hari-hari ketatnya pengawasan terhadap beberapa klan Yahudi Madinah sekaligus pos penjagaan gerbang Madinah.

Mengapa ancaman-ancaman seperti ini harus disikapi serius? Pertama, faktor kemenangan Badar membuka peluang bagi Madinah untuk menjadi kota metropolitan baru dengan menggeser Mekkah meskipun tidak total. Posisi sentra Madinah sebagai pusat kekuatan baru harus ditunjukkan melalui geliat perekonomian dan kehidupan masyarakatnya yang stabil. Stabilitas kehidupan bernegara hanya bisa dicapai dengan menegakkan konstitusi. Kedua, kondisi wilayah yang aman dan stabil adalah modal awal bagi Nabi untuk menciptakan satu keserasian dengan agenda peperangan yang cukup intens. Semakin besar dan stabil, semakin banyak dan besar musuhnya; maka semakin sering peperangan dan invansi dilakukan. Nah ketika Madinah kuat dan kompak, maka Nabi dengan mudah dan tenang meninggalkannya menuju medan perang.