Fragmen Sejarah Perang Uhud: Strategi Nabi dan Ingkar Komando yang Berujung Maut [4]

0

Lanjut cerita, setelah mendapatkan kepastian informasi keberangkatan pasukan Quraisy dari Abbas bin Abdul Muthalib yang masih bermukim di Mekkah beberapa hari sebelum meletusnya perang, Nabi dan Sahabat pun mulai mengumpulkan pasukan dan mengatur siasat perang. Senjata mulai diasah, baju zirah dibersihkan, kuda dan unta dipersiapkan dan strategi mulai disusun. Dalam rapat perang muncul dua pandangan terkait rencana peperangan. Awalnya Nabi mengusulkan strategi defensif dengan berdiam di balik benteng Madinah dan disetujui Ibn Salul, namun anak-anak muda dan beberapa veteran Badar mengusulkan strategi perang gerilya. Setelah diskusi yang cukup alot, akhirnya pilihan kedua yang disepakati.

Strategi perang gerilya Uhud adalah strategi perang semi ofensif. Dengan memanfaatkan pengalaman dan pengetahuan atas jalan-jalan kecil serta kondisi alam di Uhud, para sahabat menganggap pasukan mereka akan lebih mampu memanfaatkannya untuk mengalahkan musuh. Menyergap dan memberikan gertak serangan dadakan adalah beberapa strategi untuk mengurai jumlah pasukan. Strategi gerilya adalah strategi perang yang mempermainkan pikiran lawan dengan memanfaatkan situasi medan pertempuran. Dalam perang gerilya, jumlah tidak lagi menjadi masalah. Dengan strategi ini, Rasulullah SAW juga bisa memanfaatkan karakter geografis medan pertempuran untuk dijadikan keuntungan strategis bagi kemenangan pasukan kaum Muslimin.

Dengan mengamati bentuk, alam dan kontur geografis calon medan pertempuran, Rasulullah akhirnya memutuskan untuk membentuk kompi pemanah yang terdiri dari 50 pasukan. Kompi ini dibutuhkan sebagai garis serangan dan pertahanan sekaligus, mengingat ada gumuk atau gundukan bukit di area peperangan yang bisa dijadikan kunci kemenangan.

Peran kompi pemanah mungkin mirip dengan peran center back dan full back dalam taktik sepakbola modern yang menganut aliran total football. Center back seperti Virgil Van Dijk (Liverpool/Belanda), Mathjis De Light (Ajax/Belanda), Eder Militao (Real Madrid/Brazil) dan lain sebagainya adalah deffender modern yang selain kokoh, juga aktif mencetak gol dan memiliki akurasi umpan di atas rata-rata. Bahkan tak jarang para pemain bertahan modern ini memiliki kemampuan dribbling bola layaknya seorang playmaker. Fungsi center back akan semakin sempurna jika didukung oleh full back atau wing back lincah seperti Trent Alexander Arnold (Liverpool/Inggris), Andrew Robertson (Liverpool/Skotlandia) atau Trippier/Rose di Tottenham Hospurs. Selain memiliki kecepatan untuk menyisir sektor sayap dan mendukung wing-forward, para pemain wing back tersebut tak jarang juga menjadi opsi permainan umpan kecil yang dimotori pemain gelandang.

 

“انضح الخيل عنا بالنبل لا يأتونا من خلفنا، إن كانت لنا أو علينا. فاثبت مكانك لا نؤتين من قبلك.”

[Gunakan panah kalian untuk menjaga jarak pasukan kavaleri musuh tetap jauh dari pasukan kita dan jangan biarkan mereka datang dari garis belakang meskipun pertempuran milik kita ataupun justru mereka menunjukkan perlawanan. Jagalah pos kalian sehingga kita tidak bisa diserang dari arah kalian!]

 

Seandainya pasukan Ibn Salul tidak mundur sesaat sebelum pertempuran, mungkin saja Nabi Muhammad SAW menambah porsi pasukan dalam kompi pemanah. Kompi inilah yang akan membuat perbedaan dalam pertempuran kali ini mengingat Abu Sufyan tidak membentuk kompi pemanah dalam pasukan Quraisy. Apa yang dibayangkan oleh Abu Sufyan adalah model pertempuran total offensive. Abu Sufyan mungkin tidak menyadari kondisi lokasi peperangan yang akan ditujunya. Sepenuhnya ia bergantung pada agregat jumlah pasukan dan yakin bahwa hal itu akan mengantarkannya kepada kemenangan. Dengan 3000 pasukan, apalah arti pasukan Nabi yang tak menyentuh sepertiganya itu?

Agar lebih memahami jalannya taktik Nabi, mungkin ilustrasi posisi dan medan pertempuran di bawah ini akan membantu;

 

Gambar 01: ilustrasi lokasi pertempuran Uhud. Tampak dalam gambar posisi pasukan Muslim dan pasukan Quraisy. Tampak juga sejenis gumuk atau bukit yang dimanfaatkan dengan memposisikan 50 pasukan pemanah.

 

Gambar 02: ilustrasi lokasi pertempuran dari sudut yang berbeda. Areal berpohon adalah kebun kurma yang dilewati oleh Nabi dan pasukan Muslim untuk mencapai posisi strategis yang sejak awal direncanakan.

 

Gambaran posisi kompi pemanah dalam dua gambar di atas adalah alasan mengapa Rasulullah betul-betul mewanti-wanti mereka untuk menjaga pos apapun yang terjadi di medan pertempuran utama. Dengan merebut posisi yang lebih tinggi dari musuh, Rasulullah sebenarnya sudah memenangkan pertempuran sebelum peperangan dimulai. Posisi pemanah tampak sangat strategis. Mereka bisa mengamati dengan jelas apa yang terjadi di bawah. Dengan keuntungan posisinya, pasukan pemanah juga bisa memilih musuh dan mengunyahnya satu-satu. Pasukan pemanah juga memiliki sudut amatan yang lebih luas untuk mengamati posisi Nabi dan Sahabat. Mereka bisa mengambil satu tembakan jitu jika ditemukan hal-hal yang mengancam dan lepas dari fokus Nabi maupun para Sahabat. Posisi para pemanah di tempat yang lebih tinggi tak ayal lagi adalah strategi second striker yang jitu.

Tapi dalam kutipan pesan Nabi di atas, pos kompi pemanah sebenarnya dibuat untuk menjaga sirkulasi pertempuran yang Nabi yakini akan dimenangkan oleh pasukan Muslim ketika tidak ada dukungan kavaleri musuh. Pasukan pemanahlah yang diberi tugas untuk menjaga jarak pasukan kavaleri yang memiliki daya tempuh dan kecepatan untuk merusak formasi pasukan kaum Muslimin. Selain itu, Nabi juga memerintahkan pasukan pemanah untuk menjaga posnya apapun yang terjadi. Sedari awal Nabi tahu gumuk di tengah medan pertempuran itu akan dimanfaatkan sebagai jalan tikus untuk merebut posisi belakang pasukan Muslim dan mengepungnya di dua arah sekaligus. Keberadaan pasukan pemanah menjadi penghalang sehingga pasukan Quraisy tidak bisa memutar balik dan memanfaatkan gumuk Uhud tersebut. Inilah mengapa saya mengatakan bahwa Rasul telah memenangkan peperangan bahkan sebelum pertempuran dimulai berkat strategi merebut dan menguasai gumuk Uhud tersebut.

Ketika posisi menguntungkan semacam ini dijaga, maka hasil peperangan bisa dipastikan. Tapi ada satu faktor yang lupa dipertimbangkan; emosi pasukan muda dan veteran Badar yang masih menyimpan euforia dan kesaksian atas satu kejadian yang mustahil terjadi! Kontur emosi semacam ini terawat selama setahun terakhir pasca Badar. Ada kebanggaan yang dibumbui dengan ketidakpercayaan. Memenangkan perang dari musuh dengan jumlah pasukan 3x lipat lebih besar bukanlah sesuatu yang biasa dirasakan dan dicecap pengalaman seseorang setiap hari. Euforia semacam ini yang kemudian menggetarkan hati pasukan pemanah yang menduduki posisi strategis untuk memenangkan peperangan.

Dari atas gumuk, pasukan pemanah melihat bahwa kemenangan sudah hampir bisa dipastikan menjadi miliki pasukan Rasulullah SAW ketika batalyon pertama dan kedua pasukan Quraisy mulai terdesak mundur dari garis parameter. Bersamaan dengan mundurnya pasukan musuh, banyak sekali barang yang mereka tinggalkan di tengah medan pertempuran dan lokasi perkemahan. Sinar matahari yang memantul dari gelas-gelas perak melesat menembus hati dan pikiran pasukan pemanah di atas gumuk Uhud yang sedari tadi mengamati dan mulai mempertimbangkan untuk turun ke tengah medan pertempuran. Rantai komando mulai retak dan perintah Rasulullah mulai diabaikan.

Setidaknya 40 pasukan pemanah pun turun untuk mengambil jatah rampasan perang. Sorak kegirangan pasukan pemahan Rasul ketika menuruni gumuk terdengar Khalid bin Walid. Dengan hanya meninggalkan 10 atau mungkin belasan pemanah di atas gumuk, parameter penjagaan tak lagi sekokoh di awal. Kegagalan strategi ini kemudian terbaca oleh insting perang Khalid bin Walid yang tertempa di puluhan atau bahkan ratusan perang yang pernah diikutinya. Dengan mengarak pasukan menyelinap memutari gumuk Uhud, dengan seketika Khalid bin Walid dan pasukannya telah berada di garis belakang pertahanan pasukan Rasulullah. Mereka berhadap-hadapan dengan punggung para sahabat yang mulai terurai dari formasi perang.

Tak menunggu waktu lama, serbuan Khalid bin Walid menjadi cemeti maut yang menerbangkan banyak nyawa pasukan kaum Muslim. Insiden ini juga mendorong Rasulullah ke sebuah posisi yang tidak menguntungkan. Serangan bertubi-tubi dialami Rasulullah. Sayatan pedang, goresan batu dan lebam hantaman diterima tubuh Nabi karena ingkar komando pasukan pemanah. Para sahabat pun membuat brigade badan untuk melindungi panglima tertinggi pasukan Muslimin. Beberapa sahabat gugur karena badannya dijadikan tameng. Puncak kerugian pasukan umat Muslim sebab ingkar komando pemanah adalah gugurnya Hamzah bin Abdul Muthalib. Dari kejauhan, Wahsyi bin Harb merayakan kejayaannya karena telah membunuh sesosok Singa Allah yang ditakui Quraisy Mekkah selama ini. Kemerdekaan yang didapatkannya dari Hindun bin ‘Utbah setelah sekian lama menjadi budak Jubair bin Muth’im ia rasakan telah terbayar.

Meskipun pada akhirnya bisa mempertahankan posisi dan merengkuh kemenangan, pasukan Muslim harus membayar mahal “pengkhianatan komando” yang telah terjadi. Sekitar 70 – 80 sahabat gugur terbunuh di medan peperangan. Beberapa di antaranya gugur dalam kondisi yang mengenaskan karena mengerahkan dirinya sebagai brigade tameng Rasul yang langsung berhadap-hadapan dengan senjata musuh. Insiden ini akan terus diingat oleh umat Muslim selama mereka masih memiliki ingatan.