fbpx
Beranda Keislaman Muamalah Gaji Pegawai Bank, Riba? Masa Sih? Begini Penjelasannya dalam Fikih...

Gaji Pegawai Bank, Riba? Masa Sih? Begini Penjelasannya dalam Fikih…

Harakah.idGaji pegawai bank riba, mungkin adalah pertanyaan yang mungkin ada di benak banyak orang. Benarkah seperti itu? Begini penjelaannya…

- Advertisement -

Penjelasan gaji pegawai bank riba harus dimulai dari membedakan makna gaji dan riba. Pada dasarnya gaji berbeda dengan riba. Dalam istilah fiqh, gaji disebut juga sebagai ujrah (upah). Ia diberikan kepada seseorang karena telah melakukan suatu pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Imam Sulaiman bin Muhammad Al-Bujayrami dalam kitabnya Hasyiyah al-Bujayrami ‘ala al-Minhaj mengatakan bahwa ujrah adalah nilai yang diberikan sebagai hasil dari usaha yang telah dilakukan.

Ujrah atau gaji diberikan adakalanya sebagai hasil dari kontrak kerja atau dalam bentuk ju’alah (sayembara), sekalipun keduanya memiliki perbedaan di dalamnya. Adapun bagi para karyawan bank, maka gaji diberikan berdasarkan kontrak kerja, sehingga jika mereka telah berhasil melaksanakan kerja maka mereka juga berhak mendapatkan upah atau gaji yang telah ditentukan, sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

أجرك على قدر نصبك

“Upahmu sesuai kadar payahmu.” (HR. Bukhari-Muslim)

Hal ini tentunya berbeda dengan riba. Riba sendiri dalam fiqh berarti ziyadah yaitu kelebihan. Syekh Zakaria Al-Anshary dalam kitabnya Fathu al-Wahab menjelaskan bahwa riba terbagi menjadi tiga; Riba Fadl, yang terjadi akibat transaksi jual beli disertai kelebihan pada salah satu dari dua barang ribawi; Riba Yad, riba yang berasal dari jual beli dan terjadi akibat penundaan penerimaan; serta Riba Nasiah, yaitu riba yang terjadi akibat jual beli tempo/kredit. Selain itu ada juga riba yang berasal dari utang piutang, yang disebut Riba Qardl.

Dengan demikian gaji yang diterima oleh pegawai bank merupakan upah sebagai hasil kerja yang telah ia lakukan, bukan karena transaksi jual beli barang ribawi maupun utang piutang. Jadi gak benar kalau gaji pegawai bank riba. Karena gaji yang diterima pegawai bank sama sekali tidak termasuk jenis-jenis riba.

REKOMENDASI

Mbah Maimoen Zubair, Ulama Pakubumi yang Lahir Bersamaan Dengan Pekikan Sumpah Pemuda 1928

Harakah.id - Mbah Maimoen Zubair al-maghfurlah adalah salah seorang ulama pakubumi yang lahir bertepatan dengan Sumpah Pemuda. Selama hidupnya, Mbah Maimoen...

Bukan Untuk Diperdebatkan Haram-Halalnya, Maulid Nabi Adalah Momentum Meniru Keteladanan Muhammad

Harakah.id - Maulid Nabi sebenarnya adalah momentum berharga untuk meniru dan belajar dari keteladanan Nabi Muhammad. Maulid Nabi bukan justru waktu...

Kiai Abbas Di Pertempuran Surabaya 1945, Dari Membentuk Telik Sandi Sampai Menghancurkan Pesawat Dengan...

Harakah.id - Kiai Abbas di pertempuran Surabaya 1945 tidak hanya berperan sebagai pasukan, tapi juga komandan dan perumus strategi perlawanan. Selain...

Felix Siauw, Buku Muhammad Al-Fatih 1453 dan Kedaulatan Negara dalam Bayang-Bayang Bahaya Eks HTI

Harakah.id - Felix Siauw kembali membuat negeri ini heboh. Heboh sebab pembatalan surat edaran Dinas Pendidikan Bangka Belitung (Disdik Babel) yang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...