Gambaran Seorang Fakih dalam Diwan al-Imam al-Syafi’i dan Profil Kefakihan Kiai Romzi

0
164
Gambaran Seorang Fakih dalam Diwan al-Imam al-Syafi'i dan Profil Kefakihan Kiai Romzi

Harakah.idKiai Romzi al-Amiri Mannan bukan saja fakih dari segi pemikiran dan tutur katanya. Beliau juga merupakan sosok yang fakih dalam tingkah laku dan segenap tindakan yang diperlihatkannya.

Kefakihan Kiai Romzi tampak bukan hanya dalam pemikiran dan tutur katanya, namun juga tingkah laku dan ahlaknya.

Kiai Romzi, itulah sapaan mesra nan populer baik di kalangan masyarakat umum maupun di komunitas kaum sarungan yang senantiasa bercengkrama bersama beliau dalam kesehariannya. Sebagai seorang Mudir Ma’had Aly Nurul Jadid, yang terdapat tiga tingkatan di dalamnya, yaitu Tamhidiyah, I’dadiyah dan Takhossus, beliau juga berstatus sebagai kepala rumah tangga yang harus menjalankan wadzifah ahliyyah (tugas-tugas kerumahtanggaan) bersama istri dan 6 orang anaknya. Menjalankan dua posisi sentral dalam lini yang berbeda mungkin bagi sebagian orang adalah sebuah hal yang berat, namun bagi beliau, dua amanah itu bisa dijalankan dengan baik, tanpa ada satu lini yang terbengkalai.

Beliau adalah orang yang sangat humoris dan saya yakin bahwa siapapun yang bermujalasah (duduk bercengkrama) dengan beliau akan berpendapat demikian. Di sisi lain, yang tak kalah penting bagi saya dan santri lainnya adalah ketekunan beliau dalam belajar dan memutalaah kitab kuning. Tatkala saya ataupun santri lainnya dipanggil dan disuruh masuk ke dhelem (sebutan untuk kediaman kiai dalam bahasa Madura), tak jarang kami jumpai kitab yang terbuka dan komputer dalam kondisi menyala yang biasa beliau gunakan mengarang dan menyusun kitab.

Alhasil, berkat ketekunan dan maunah (pertolongan) Allah Swt., 53 tahun usia beliau banyak dihabiskan dalam berdakwah, mengajar dan menulis kitab dengan jumlah yang tidak kurang dari 60 buku dan kitab dalam berbagai bidang keilmuan. Kebanyakan karya beliau itu ditulis dengan menggunakan bahasa Arab. Tak berlebihan rasanya ketika kami sedikit menyebut beliau sebagai Imam Nawawi di zaman ini, karena umur beliau dengan Imam Nawawi tidak terpaut jauh dengan selisih 8 tahun tapi sama-sama produktif dengan karya yang sangat banyak. Benarlah yang didawuhkan guru kami, K.H. Fadlurrahman Zaini yang menukil dawuh K.H. Abdul Wahid Hasyim:

إذا فاتني يوم ولم أصطنع يدا# ولم أكتسب علما فما ذاك من عمري

“Apabila hariku terlewat tanpa karya/kebaikan dan  pengetahuan, maka apakah arti umurku ini”

Cukuplah beberapa kalimat di atas sebagai bukti empirik bahwa beliau layak disebut sebagai seorang yang faqih bi fi’lihi, rois bi khuluqihi dan ghina bi halihi.

Dalam Diwan Imam asy-Syafi’i, terdapat sebuah syair yang menarik:

إِنَّ الفَقيهَ هُوَ الفَقيهُ بِفِعلِهِ # لَيسَ الفَقيهُ بِنُطقِهِ وَمَقالِهِ

وَكَذا الرَئيسُ هُوَ الرَئيسُ بِخُلقِهِ # لَيسَ الرَئيسُ بِقَومِهِ وَرِجالِهِ

وَكَذا الغَنِيُ هُوَ الغَنِيُ بِحالِهِ # لَيسَ الغَنيُّ بِمُلكِهِ وَبِمالِهِ

Sesungguhnya seorang faqih (ahli fikih) adalah yang faqih dengan lakunya, bukanlah seorang faqih adalah dengan pandai bicaranya

Demikian pemimpin adalah pemimpin dengan budi pekertinya, bukan dengan banyak kaumnya (pengikutnya)

Pun orang kaya adalah yang cukup dengan keadaannya bukan dengan harta dan kerajaannya.

Syaikhina Kiai Romzi—dalam pandangan kami—terlihat sama persis dengan apa yang terdapat dalam gubahan syair di atas. Kefakihan Kiai Romzi tidak hanya muncul dalam tutur katanya tapi juga tercermin pada tingkah lakunya. Salah satu cerminan kefakihan Kiai Romzi adalah tatkala beliau tekankan adalah salat berjamaah. Sudah tak asing di mata santri Ma’had Aly, bahwa beliau hampir tidak pernah meninggalkan salat berjamaah lima waktu, kecuali dalam kondisi songkan (sakit) atau bepergian menghadiri panggilan umat. Bahkan pada suatu kesempatan rapat terakhir sebelum beliau wafat bersama pengurus wilayah Al-Amiri (J)/ Ma’had Aly, beliau sempat dawuh: “Koduh ajama’ah kabbi santreh, ustadz, haddaman, Sopir” (Harus salat berjamaah semua santri, ustaz, haddam (sebutan untuk santri yang mengabdikan diri pada kiai) dan Sopir. Selain itu, bentuk fikih dalam lakunya adalah setiap kali akan salat, beliau selalu mengenakan serban dan bersiwak. Bukankah semua amaliah ini terdapat dalam kitab-kitab fikih bukan? Jawabannya sudah pasti.

Sebagai Mudir (pimpinan) Ma’had Aly Nurul Jadid dan Qudwatul Ummah (panutan Ummat) tidak serta merta menjadikan beliau bertindak sewenang-wenang, justru seringkali beliau memperlihatkan sifat kerakyatan beliau, sifat lazimnya orang biasa yang tak punya jabatan seperti menyapu halaman sendiri. Hal ini tentu menjadi pelajaran bagi mahasantri Ma’had Aly untuk senantiasa menjaga kebersihan. Hubungan beliau dengan mahasantri Ma’had Aly, bak hubungan seorang ayah dan anak-anaknya, tidak ada yang dibeda-bedakan. Bahkan beliau tidak akan segan untuk bertegur sapa dengan tukang bangunan, sopir, santri, haddam hingga petugas koperasi. Bukankah amaliah seperti ini berkait erat dengan budi pekerti bukan?

Kiai Romzi adalah sosok yang sangat bersahaja dan sederhana. Tidak ada sesuatu yang mencerminkan beliau itu senang dengan hal yang berlebih-lebihan, baik dalam makanan, harta dan lain sebagainya. Bahkan, ketika beliau memiliki makanan yang berlebih, tidak jarang beliau membagikannya kepada para ustaz dan sang sopir. Beliau sering dawuh “segala sesuatu—baik rumah, mobil dan harta lainnya—itu secukupnya, maka selebihnya itu yang akan kena hisab. Jikalau cukup satu mobil misalnya, kok beli lagi, maka selebihnya itu yang dihisab”.

Untuk menutup tulisan ini, saya hendak mengutip dawuh yang beliau sampaikan beberapa hari sebelum wafatnya, “Nilai uang paling sedikitpun yang kalian miliki pasti mencukupi jika digunakan untuk hidup, sebaliknya nilai uang sebanyak apapun yang kalian miliki tidak akan pernah cukup jika digunakan untuk gaya hidup”. Bukankah ini yang disebut kekayaan yang sesungguhnya? Merasa cukup dengan pepareng (pemberian) Allah Swt. dan kondisi yang ada.