Beranda Gerakan Gerakan Neo Tradisionalisme Islam di Dunia Global Kontemporer

Gerakan Neo Tradisionalisme Islam di Dunia Global Kontemporer

Harakah.id Sekalipun mempromosikan otoritas tradisional seperti mazhab, kalam dan tasawuf, tetapi para sarjana yang meneliti fenomena ini tidak menyebut mereka sebagai kelompok tradisional. Mereka menyebut ada nuansa baru sehingga mereka lebih pantas disebut kelompok neo-tradisional.

Neo Tradisionalisme Islam. Sejak awal abad 20, dunia Islam mengalami goncangan. Berawal dari kolonialisme yang mendorong proses modernisasi budaya keagamaan umat Islam hingga munculnya kelompok-kelompok yang berhasrat memodernisasi diri. Fenomena modernis Muslim berpuncak pada lahirnya sekularisme di dunia Islam. Akibatnya, otoritas keagamaan tradisional Muslim yang diwarisi berabad-abad menjadi sasaran kritik dan cemooh.

Otoritas keagamaan tradisional yang dimaksud di sini adalah cara beragama yang berpedoman kepada mazhab-mazhab yang popular di dunia Islam. Dalam bidang hukum Islam, umat Islam mengikuti salah satu dari empat mazhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Dalam teologi Islam, umat Islam menganut mazhab Asy’ari, Maturidi atau Atsari. Dalam etika Islam, umat Islam mengakui tasawuf sebagai sumber penting. Ketika modernisasi datang, tradisi keberagamaan tersebut dicap sebagai irasional, taqlid, khurafat, takhayul, kolot, fanatik dan berbagai julukan yang menyudutkan lainnya.   

Berangkat dari Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan para pendukungnya; ide Muslim modernis islami menyebar ke seluruh dunia dalam bendera gerakan Salafiyyah yang cenderung anti-mazhab. Al-Azhar, sebagai rumah otoritas keagamaan tradisional yang mengembangkan pemikiran mazhab mendapat jatah modernisasi ketika Muhammad Abduh menjadi pemimpinnya. Haramain, yang pada berabad-abad lamanya mengakomodasi empat mazhab, ketika Dinasti Saudi menguasai kawasan ini secara bertahap mengubahnya menjadi pusat Salafisme yang juga cenderung anti-mazhab.

Namun, abad 21 memberikan peluang yang cukup besar bagi kemunculan kembali otoritas keagamaan tradisional dengan munculnya sejumlah tokoh penting. Baik di Timur Tengah maupun di dunia Barat. Syekh Said Ramadhan al-Buthi (Suriah), Syekh Ahmad Thayyib (Mesir), Syekh Ali Jum’ah (Mesir), Habib Umar bin Hafizh (Yaman), Syekh Abdullah bin Bayyah (Uni Emirat Arab), Abdullah Al-Harari (Lebanon) adalah tokoh-tokoh yang disebut berada dalam golongan yang mempromosikan otoritas tradisional di Timur Tengah. Sedangkan di Barat, muncul nama Hamza Yusuf (Amerika) dan Timothy Winter (Inggris).

Sekalipun mempromosikan otoritas tradisional seperti mazhab, kalam dan tasawuf, tetapi para sarjana yang meneliti fenomena ini tidak menyebut mereka sebagai kelompok tradisional. Mereka menyebut ada nuansa baru sehingga mereka lebih pantas disebut kelompok neo-tradisional.

Apa Itu Neo-Tradisionalisme Islam?

Usaama al-Azami menulis dalam artikel berjudul “Neo-Traditionalist Sufis And Arab Politics” sebagai berikut:

“Neo-traditionalist scholars self-identify as Sunnis. However, their ‘denomination’ of Sunnism, which I refer to as ‘Neo-traditionalism’, valorises Sufism more than other Islamic denominations of comparable significance. Neo traditionalism, broadly speaking, emphasises respect for and adherence to one of the four schools of law, the Ashʿari or Maturidi schools of theology, and any of a number of Sufi orders. All Neo-traditionalists thus valorise Sufism, but not all Sufis necessarily espouse the tripartite Neo-traditionalist understanding of Islam.”

“Cendekiawan neo-tradisionalis mengidentifikasi diri sebagai Sunni. Namun, ‘denominasi’ Sunni mereka, yang saya sebut sebagai ‘Neo-tradisionalisme’, lebih menghargai tasawuf daripada denominasi Islam lainnya yang memiliki signifikansi yang sebanding. Neotradisionalisme, secara umum, menekankan penghormatan dan kepatuhan pada salah satu dari empat mazhab hukum, mazhab Asyari atau Maturidi, dan sejumlah tarekat sufi. Semua Neo-tradisionalis dengan demikian menghargai Sufisme, tetapi tidak semua Sufi harus mendukung pemahaman tripartit Neo-tradisionalis tentang Islam.”

Neo tradisionalisme Islam telah menjadi gerakan global memperkuat kembali jaringan Islam tradisional dengan perspektif baru. Menggabungkan unsur kepatuhan tertentu kepada mazhab fiqih klasik, kalam Asy’ari dan sufisme. Fenomena ini menarik perhatian para sarjana. Usaama al-Azami (Inggris), Brendan Peter Newlon (Amerika), Mark Sedgwick (Inggris) dan Ahmad Fauzi Abdul Hamid (Malaysia).

Berdasarkan Mark Sedgwick dapat dikatakan bahwa Neo Tradisionalisme Islam mendapatkan pengaruh modern dalam melihat tradisi. Berbeda dengan modernis yang mengacuhkan tradisi keagamaan tradisional, Neo Tradisionalisme justru menerima dan mengembangkannya dengan sejumlah perubahan yang dinilai mendesak. Namun, demikian tingkat penerimaan Neo Tradisionalisme terhadap tradisi tidak secara total. Ada elemen tradisionalisme yang ditolak, seperti penutupan pintu ijtihad. Ahmad Fauzi Abdul Hamid, seorang profesor di Malaysia, menyatakan;

“Bertentangan dengan gambaran stereotip tradisionalis, yang berpegang teguh pada ‘penutupan gerbang ijtihad (penalaran independen)’, neo-tradisionalis tidak menyangkal perlunya dan kebijaksanaan untuk mengeluarkan taqlid (peniruan buta) ketika kondisi mengisyaratkan dan matang untuk itu. Neo-tradisionalis menerima kekurangan tradisionalisme yang telah menyebabkan kepasifan dan stagnasi, dan mengakui bahwa para sufi zaman akhir menderita defisit persepsi di antara populasi Muslim yang lebih besar karena tidak cukup membumi untuk mempermasalahkan malaise batin ummah.”

Demikian gerakan Neo Tradisionalisme Islam di dunia global kontemporer. Semoga dapat menambah wawasan kita bersama.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...