fbpx
Beranda Khazanah Gerakan Percetakan Kitab di Lebanon dan Kontribusinya Dalam Kekayaan Khazanah Literatur Islam

Gerakan Percetakan Kitab di Lebanon dan Kontribusinya Dalam Kekayaan Khazanah Literatur Islam

Harakah.id Bagi para pegiat bacaan literatur keislaman berbahasa Arab, jika cukup teliti untuk melihat informasi dan identitas buku seperti kota terbit, nama penerbit dan tahun penerbitan, maka kita akan cukup sering menemukan cetakan-cetakan kitab yang diterbitkan di Lebanon, khususnya kota Beirut. Lalu bagaimana sejarah awal perkembangan gerakan percetakan kitab di Lebanon? Berikut ulasan singkatnya.

- Advertisement -

Spirit dan pengabdian pada literatur tentu tidak terjadi begitu saja, hal ini pada mulanya dipicu oleh kebangkitan kesusasteraan, ilmu pengetahuan dan filsafat. Lebanon pada penghujung abad kedelapanbelas hingga paruh pertama abad kesembilanbelas juga mengalami kebangkitan tersebut, hal ini secara langsung maupun tidak juga berhubungan dengan dinamika politik yang terjadi dimana pengaruh Turki Ottoman yang semakin merosot dan masuknya pengaruh Prancis ke Lebanon.

Lebanon pada kurun tersebut juga menjanjikan kebebasan berpendapat yang menghidupkan ledakan pemikiran. Gairah diskusi dan pemikiran di berbagai bidang yang berbeda secara berantai memicu kemunculan banyak percetakan. Diskursus dan wacana yang telah berlaku tentu perlu didokumentasikan dalam media-media tertulis.

Dalam Taqrir Harakatun Nasyr fi ‘Alamil ‘Araby, terbitan Arab’s Publisher Association (halaman 47) disebutkan bahwa Lebanon juga menjadi negara pertama dalam kawasan timur tengah yang memiliki akses terhadap mesin cetak, tepatnya pada tahun 1580. Bandingkan dengan beberapa daerah lain seperti Iraq (1818), Suriah (1878), Arab Saudi (1909) dan Jordan (1938). Adapun asosiasi perserikatan penerbit di Lebanon telah terbentuk sejak tahun 1972.

Kota Khencharah (30 km ke arah timur laut dari kota Beirut) merupakan kota tempat berdirinya percetakan pertama di timur tengah. Percetakan pertama di kota tersebut lahir pada tahun 1733. Buku bertulisan Arab pertama yang dicetak kala itu adalah Mizanuz Zaman, sebuah terjemahan dari karya teologis seorang rahib Kristen berkebangsaan Spanyol bernama Juan Eusebio Nieremberg.

Pada masa awal, percetakan buku yang dihasilkan saat itu memang didominasi oleh buku-buku terjemahan dari bahasa asing ke bahasa Arab. Buku-buku terjemahan tersebut kebanyakan berasal dari bahasa Inggris, Prancis, jerman, Itali dan Spanyol.

Hingga dekade pertama di millennium kedua, Lebanon menyumbang hingga 30% dari seluruh buku dan terbitan yang beredar di kawasan jazirah Arab. Beberapa penerbit kitab yang terbesar dan paling berpengaruh di Lebanon adalah Dar Shadir, Dar Ibnu Hazm, Dar Al-Farabi, Dar Ibn Katsir, Dar Al-‘Arabiyah lil ‘Ulum Wan Nasyr, dan masih banyak lagi.

Gairah penerbitan buku di Lebanon masih tetap berlangsung hingga beberapa tahun ke belakang. Misalnya pada tahun 2011 tercatat ada 3000 judul buku dan majalah yang diproduksi. Namun, capaian Lebanon tidak lagi menjadi yang terdepan, karena pada tahun yang sama beberapa negara seperti Iraq dan Saudi memiliki catatan produktivitas yang lebih tinggi. Pada tahun tersebut, cetakan-cetakan buku atau kitab didominasi oleh literatur seputar keagamaan.

REKOMENDASI

Muktamar NU 17 di Madiun, Upaya NU Membendung Pergerakan PKI Dan Agenda Pendirian Negara...

Harakah.id – Upaya NU membendung pergerakan PKI sudah jauh dilakukan sebelum pecahnya tragedi pemberontakan Madiun tahun 1948. Dengan melaksanakan Muktamar NU...

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...