Ghibah Memang Asik Guys, Tapi Bagaimanakah Penjelasan Hadisnya?

0
29

Harakah.idMengenai hal ghibah ini, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan di dalam hadis-hadisnya.

Sekarang ini kita berada dimana teknologi berkembang dengan sangat cepat, hal tersebut tentunya membuat manusia harus beradaptasi dengan teknologi yang ada sekarang. Dengan adanya media sosial yang merupakan salah satu contoh dari perkembangan teknologi tersebut. Media sosial menjadi tempat orang-orang untuk berkomunikasi, berpendapat, dan melakukan segala hal yang diinginkan. Dengan begitu media sosial dapat menjadi tempat yang sangat berpotensi untuk melakukan ghibah (membicarakan orang lain). 

Zaman sekarang bisa dikatakan ghibah itu merupakan hal yang biasa, karena ketika melakukan ghibah terkadang kita tidak sadar kalau kita sedang melakukan ghibah. Karena itu, sebaiknya kita tidak membicarakan orang lain agar terhindar dari perilaku ghibah yang dimana hal tersebut dilarang oleh Nabi dan melakukannya akan menyebabkan kita mendapat dosa.

Pengertian Ghibah

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gibah artinya kegiatan membicarakan keburukan orang lain. Bahan gunjingan tersebut mestilah sesuai dengan cela orang yang digunjingkan, jika dibuat-buat, maka bukan gibah lagi namanya, melainkan fitnah dan kebohongan.

Dalam bahasa Arab, gibah berasal dari kata غا بَ (ghaaba) atau ألغيبَة (al-ghaibah) yang artinya sesuatu yang terhalang dari pandangan. Dari sisi bahasa, gibah mengisyaratkan ketidakhadiran orang yang dibicarakan.

Berdasarkan dua pengertian di atas definisi ghibah berarti membicarakan keburukan sesorang, yang dimana orang tersebut tidak ada berada di tempat tersebut. Kemudian, pembicaraan yang dilakukan mengenai aib atau kejelekan dari orang tersebut.

Penjelasan Hadis

Mengenai hal ghibah ini, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan di dalam hadis-hadisnya. Berikut penjelasan hadis-hadis tentang ghibah ;

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Tahukah kalian apa itu ghibah?”, Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Yaitu engkau menceritakan tentang saudaramu yang membuatnya tidak suka.” Lalu ditanyakan kepada beliau, “Lalu bagaimana apabila pada diri saudara saya itu kenyataannya sebagaimana yang saya ungkapkan?” Maka beliau bersabda, “Apabila cerita yang engkau katakan itu sesuai dengan kenyataan maka engkau telah meng-ghibahinya. Dan apabila ternyata tidak sesuai dengan kenyataan dirinya maka engkau telah berdusta atas namanya (berbuat buhtan).” (HR. Muslim)

Berdasarkan teks hadis di atas bahwa ghibah merupakan perilaku menceritakan saudara kita sesama muslim, baik yang diceritakan itu benar ataupun tidak. Hal itu tetap saja dilarang di dalam Islam, karena beradasarkan teks hadis di atas jika ceritanya itu benar adanya maka pelaku itu dinamakan ghibah jika salah maka orang tersebut telah melakukan ghibah sekaligus berdusta dan itu merupakan perilaku yang berdosa.

Dari shahabat Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَرْبَى الرِّبَا الإِسْتِطَالةَ فِي عِرْضِ المُسْلِمِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَفِي رِوَايَة : مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ?

“Sesungguhnya termasuk riba yang paling besar (dalam riwayat lain: termasuk dari sebesar besarnya dosa besar) adalah memperpanjang dalam membeberkan aib saudaranya muslim tanpa alasan yang benar.” (H.R. Abu Dawud no. 4866-4967)

Bersarkan teks hadis di atas bahwa kita tidak boleh membicarakan aib saudara kita sesama muslim, karena hal itu termasuk riba yang paling besar. Sebaiknya Ketika kita tahu aib saudara kita sesama muslim kita tidak menyebarkannya karena menurut teks hadis di atas itu merupakan perbuatan dosa besar yang dimana dosanya paling besar.

Dari shahabat Ibnu Umar radhiyallahu’anhu, bahwa beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانَهِ وَلَمْ يَفْضِ الإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ لاَ تُؤْذُوا المُسْلِمِيْنَ وَلاَ تُعَيِّرُوا وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّبِعْ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَّبَعَ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبَعِ اللهُ يَفْضَحْهُ لَهُ وَلَو في جَوْفِ رَحْلِهِ

Artinya:“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya yang belum sampai ke dalam hatinya, janganlah kalian mengganggu kaum muslimin, janganlah kalian menjelek-jelekkannya, janganlah kalian mencari-cari aibnya. Barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim niscaya Allah akan mencari aibnya. Barang siapa yang Allah mencari aibnya niscaya Allah akan menyingkapnya walaupun di dalam rumahnya.” (H.R. At Tirmidzi dan lainnya)

Dalam penjelasan teks hadis di atas, bahwasannya kita harus menjaga lisan kita dari perkataan-perkataan buruk. Kemudian, kita dilarang untuk mencari aib saudara sesama muslim karena berdasarkan teks hadis di atas maka aib kita akan di buka sendiri oleh Allah. Wallahu ‘alam

Dari tiga hadis di atas dijelaskan bahwa ghibah merupakan hal yang dilarang dalam Islam, karena dengan kita melakukan ghibah kita sudah melakukan dosa besar yang sangat besar. Maka itu sebaiknya kita jangan melakukan ghibah dimanapun kita berada, termasuk di dalam menggunakan media sosial kita gunakan untuk hal-hal yang positif dan jauhkan dari hal-hal negatif termasuk ghibah.

Sebagai penutup, penulis berpesan bahwa dalam menggunakan media sosial dengan bijak, karena media sosial memiliki dampak positif dan dampak negatif. Ghibah termasuk hal yang negatif, karena itu jauhkan perilaku kita dari ghibah tersebut. Karena Islam telah mengatur setiap perilaku manusia, termasuk hadis membahas hal tersebut. Kemudian, kita sebagai muslim harus mentaati apa yang telah ditetapkan di dalam al-Qur’an dan Hadis.

Artikel berjudul “Ghibah Mmemang Asik Guys, Tapi Bagaimanakah Penjelasan Hadisnya?” adalah kiriman dari Ramadhani Pangestu, Mahasiswa Prodi Ilmu Hadis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta