fbpx
Beranda Keislaman Akhlak Guru Belajar Kepada Muridnya, Kenapa Tidak? Itu Tandanya Kealiman Seseorang Sudah Menjinakkan...

Guru Belajar Kepada Muridnya, Kenapa Tidak? Itu Tandanya Kealiman Seseorang Sudah Menjinakkan Ego Dalam Dirinya

Harakah.idGuru belajar kepada muridnya, kenapa tidak? Banyak kok contohnya. Seperti Kiai Kholil Bangkalan yang mengaji kepada Kiai Hasyim Asy’ari, muridnya. Dan Imam al-Syafi’i yang belajar kepada muridnya, Imam Humaidi. Orang yang alim adalah orang yang sudah mampu menjinakkan egonya. Dia akan terus belajar dan mengambil hikmah, walaupun orang tersebut adalah muridnya sendiri.

- Advertisement -

Ada sebuah kisah populer, tentang Syaikhona Kholil Bangkalan dan Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari. Hadratussyeikh adalah murid Syikhona Kholil. Suatu hari di Bulan Ramadhan, konon katanya, Syaikhona Kholil pernah mengikuti pengajian Sahih al-Bukhari yang dipimpin oleh Hadratussyeikh Hasyim Asyari, muridnya. Hal ini lumrah terjadi. Hubungan guru dan murid tidak menjadi batasan siapa harus belajar kepada siapa.

Baca Juga: Inilah Cara Mendidik Anak Ala Gus Baha, Biar Anak Tak Menjauhi Kita

Hubungan guru-murid adalah hubungan yang tidak rigid. Ia tidak seperti hubungan antara majikan dan budak, antara atasan dan bawahan atau antara mandor dan buruh. Hubungan guru-murid adalah hubungan yang elastis, yang bisa bertukar posisi dan berpindah tempat. Di suatu waktu dan di sebuah materi, si A menjadi guru dari si B, tapi di tempat yang lain dan di materi yang lain, si B justru menjadi guru si A. Saling bertukar posisi seperti ini lumrah dan menjadi fenomena yang tidak asing.

Artinya apa? Ketika seseorang masih memiliki kesadaran untuk terus belajar kepada siapapun itu asalkan kompeten, maka kesempatan untuk menambah dan mempertajam ilmu pengetahuannya masih terbuka lebar. Maka tidak ada kata akhir dalam belajar. Ulama adalah orang yang mengabdikan dirinya untuk itu dan menghabiskan usianya untuk itu. Tidak peduli kepada siapa dia mengambil ilmu, kepada murid yang pernah diajarinya dulu atau orang lain. Ketika seorang guru belajar kepada muridnya, kenapa tidak?

Dalam Adab al-Alim wal Muta’allim, Hadratussyeikh Hasyim Asyari juga menyuguhkan kisah terkait tradisi ini. Di sebuah kesempatan, Imam al-Humaidi pernah menemani gurunya, Imam as-Syafi’I bepergian dari Mekkah ke Mesir. Selama perjalanan itu, Imam al-Humaidi sebagai murid banyak belajar dan mengambil faidah keilmuan terkait masalah-masalah fiqih dan hukum syari’at kepada Imam as-Syafi’i. Sebaliknya, Imam as-Syafi’I juga belajar dan mengambil faidah keilmuan hadis dari muridnya itu.

Baca Juga: Syarat Jadi Wali Itu Harus Berilmu, Rekaman Dialog Quraish Shihab Ft. Gus Baha’

Kisah seperti Imam as-Syafi’I dan Imam al-Humaidi banyak sekali ditemukan dalam sejarah etika keilmuan kita. Tidak ada masalah ketika seorang guru harus belajar kepada sang murid. Sebagaimana yang juga dituturkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, salah seorang murid jempolan Imam as-Syafi’i. beliau bercerita, “suatu hari guruku, Imam as-Syafi’I berkata kepadaku: kamu lebih alim soal hadis dibanding saya. Jika kamu memiliki hadis yang sahih, katakanlah agar saya bisa mengambilnya [meriwayatkannya] darimu!”   

Lagi-lagi, ketika seorang guru belajar kepada muridnya, hal itu bukanlah sesuatu yang aneh dan mampu menurunkan derajat sang guru. Sebagaimaa yang telah ditunjukkan oleh ulama-ulama kita, tradisi itu biasa saja. Oleh karena itu, belajarlah tanpa melihat siapa orangnya! Belajarlah karena sadar kita bodoh dan akan menambalnya dengan ilmu pengetahuan., meskipun dari murid kita sendiri.

Baca Juga: Ketika Gus Mus Ngaji Ihya Kepada Gus Ulil, Inilah Pelajaran Pentingnya

REKOMENDASI

Muktamar NU 17 di Madiun, Upaya NU Membendung Pergerakan PKI Dan Agenda Pendirian Negara...

Harakah.id – Upaya NU membendung pergerakan PKI sudah jauh dilakukan sebelum pecahnya tragedi pemberontakan Madiun tahun 1948. Dengan melaksanakan Muktamar NU...

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...