Beranda Khazanah Gus Baha dan Cara Menghadapi Orang yang Menjengkelkan Agar Tidak Emosi

Gus Baha dan Cara Menghadapi Orang yang Menjengkelkan Agar Tidak Emosi

Harakah.id – Inilah tips dari Gus Baha dan cara menghadapi orang yang menjengkelkan agar tidak emosi. Gus Baha punya cara untuk menghadapi orang-orang yang menjengkelkan dan buruk di mata kita. Cara ini berfungsi agar kita tidak mudah emosi dan marah.

Kebaikan Allah itu tidak hanya terbatas bagi hamba-Nya yang beriman saja, bahkan hamba-Nya yang menyekutukan-Nya sekalipun tetap diperlakukan baik oleh Allah. Dibuktikan dengan tetap diberikannya berbagai kenikmatan yang tidak pernah terhenti. Berdasar uraian tersebut, cukup bagi kita untuk meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang selalu baik. Karena Allah adalah Zat yang Maha Baik, maka Allah sangat menyukai segala kebaikan.

Dalam suatu kesempatan, Gus Baha pernah ditanya oleh salah satu peserta pengajian yang beliau ampu. Apabila disingkat, pertanyaannya ialah, “bagaimana cara yang tepat untuk menghadapi orang yang menjengkelkan atau berbuat buruk kepada kita, supaya tidak meresponsnya dengan emosi?”

Baca Juga: Alasan Mengapa Kita Tidak Boleh Menceritakan Dosa kepada Orang Lain Menurut Gus Baha

Menanggapi pertanyaan tersebut, tidak seketika beliau mendikte ini dan itu kepada orang yang bertanya. Beliau hanya menyampaikan pesan yang begitu ringan kepada para audiens, yakni supaya jangan sampai merasa lelah untuk berbuat baik kepada semua orang. Termasuk kepada orang yang dianggap telah menjengkelkan dan berbuat buruk.

Gus Baha melanjutkan uraiannya bahwa, seorang mukmin itu seharusnya yang diperhatikan bukanlah perlakuan manusia kepadanya, tetapi ridha Allah Swt. Jadi, baik orang lain berbuat baik kepadanya maupun tidak, maka itu tidak penting baginya. Karena yang lebih ia butuhkan dan yang terpenting baginya ialah ridho Allah Swt.

Sebagai contoh, yaitu ketika seorang profesor dibuat jengkel oleh seorang yang tak lulus SD. Apabila seorang profesor membalas perlakuan buruk seseorang yang tak lulus SD, maka ia justru terpengaruh. Padahal kalau ia sadar, dalam dunia akademik, profesor tentu lebih memiliki otoritas dan yang sepantasnya memberikan pengaruh. Maka dari itu, profesor tadi hanya perlu membalasnya dengan perlakuan baik saja, dengan harapan orang yang berbuat buruk kepadanya bisa menjadi baik.

Kemudian, apabila kita memiliki teman yang berbuat buruk kepada kita, tetapi kita membalas perlakuannya dengan perlakuan buruk lagi, maka sama artinya kita terprovokasi oleh orang yang kelakuannya buruk. Apabila seperti itu, maka apa bedanya kita dengan mereka. Bukankah sama-sama menjadi buruk?

Baca Juga: Inilah Cara Mendidik Anak Ala Gus Baha, Biar Anak Tak Menjauhi Kita

Resep yang disampaikan oleh Gus Baha di atas tentunya bukanlah konsep yang beliau karang sendiri. Secara tegas, Gus Baha menyebutkan bahwa konsep tersebut beliau sarikan dari sabda Nabi Muhammad Saw.

صِلْ مَنْ قَطَعَكَ وَ أَحْسِنْ إِلَى مَنْ أَسَاءَ إِلَيْكَ وَقُلِ الْحَقَّ وَلَوْ عَلَى نَفْسِكَ

“Sambunglah orang yang telah memutus tali silaturrahim padamu, berbuat baiklah kepada orang yang telah berbuat buruk kepadamu dan katakanlah kebenaran meski terhadap dirimu sendiri.” (H.R. Muslim)

Berbuat baik kepada semua orang ini juga dicontohkan dengan sikap Imam Ahmad bin Hanbal, sebagaimana disebutkan dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Suatu hari Imam Ahmad diundang untuk datang ke rumah tetangganya, tetapi ketika datang, ternyata tidak ada keperluan apa-apa. Hingga pada undangan ketiga, Imam Ahmad tetap saja datang tanpa merasa dipermainkan, meski tanpa keperluan yang jelas dari tetangganya.

Setelah tejadi berulang-ulang, tetangga Imam Ahmad pun heran dengan beliau. Bagaimana bisa, beliau tetap memenuhi undangan, padahal tujuannya hanya dipermainkan. Dan, itu terjadi tak hanya sekali. Tetangga itu pun menanyakan kegelisahannya.

Baca Juga: Tidak Tahunya Ulama Itu Berkah, Penjelasan Gus Baha Soal Sikap Sok Tahu Segalanya dalam Berfatwa

Kemudian Imam Ahmad menjelaskan bahwa, beliau memang datang untuk memenuhi undangan tetangganya. Karena memenuhi undangan tetangga ialah salah satu hal yang diperintahkan Allah Swt. Jadi tidak ada pengaruhnya, baik diundang karena ada keperluan atau tidak, Imam Ahmad tetap bahagia dapat menjalankan perintah Allah Swt.

REKOMENDASI

Fatima Mernissi dan Sekelumit Problem Keperempuanan dalam Islam

Harakah.id - Fatima Mernissi adalah salah satu perempuan yang seringkali diacu dan dirujuk kala berbicara tentang peran perempuan dalam Islam. Dia...

Di Balik Keharamannya, Ini Sepuluh Efek Buruk Minum Khamr yang Mungkin Tidak Kamu Ketahui!

Harakah.id - Minum khamr melahirkan efek mabuk dan ngefly. Bagi sebagian orang, efek ini menjadi kenyamanan tersendiri karena dengan itu mereka...

Download Khutbah Jumat, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at

Harakah.id - Download Khutbah Jumat Juni, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at. Kutbah Pertama إِنّ...

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 97: Kehidupan yang Baik dan Imbalan Untuk Orang yang Beriman

Harakah.id - Tafsir Surah an-Nahl ayat 97 menjelaskan perkara soal kehidupan yang baik berikut imbalan untuk orang yang beriman. Berikut penjelasannya...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...