Beranda Khazanah Gus Baha Ngobrolin Soal Sunni, Syi'ah, dan Wahabi, Inilah Intinya

Gus Baha Ngobrolin Soal Sunni, Syi’ah, dan Wahabi, Inilah Intinya

Harakah.idDi Timur Tengah terdapat tiga aliran besar; Sunni, Syi’ah dan Wahabi. Ketiga paham ini, tidak dapat dikesampingkan sebagai faktor yang penting dianalisis dalam konflik kawasan. Gus Baha pernah ngobrolin soal Sunni, Syi’ah dan Wahabi. Intinya, perkembangan corak keberagamaan suatu masyarakat tak dapat dipisahkan dari peran para penguasa. An-Nasu Ala Din Mulukihim. Perang dan damai tergantung penguasanya.

Perkembangan Islam di dunia, tidak pernah terlepas dari pengaruh sosial dan politik yang berkembang saat itu. Meskipun, sejak agama Islam pertama kali diperkenalkan di wilayah Arab yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, tidak secara langsung menampakkan profil politiknya.

Ini bisa dibuktikan ketika Nabi menguasai wilyah-wilayah Arab pada waktu itu dengan misi penyebaran Islam ke segenap penjuru dunia. Seperti yang kita juga tahu bahwa sebelum era imperialisme, umat Islam sudah memiliki pengalaman menyelenggarakan pemerintahan, bahkan sejak Rasulullah Saw berdomisili di Makkah. Setidaknya, kita dapat mencatat era Rasulullah Saw, Khulafa al-Rasyidin, era Dinasti Umayyah, era Dinasti Abbasiyyah, Usmani di Turki, Mughal di India, dan Syafawi di Persia. 

Tiga pemerintahan yang terakhir ini, dalam kurun waktunya berhimpit dengan era kaum imperialis yang tengah menjajah dunia Timur dan sebagian besar dari mereka adalah umat Islam. Bentuk negara dan sistem pemerintahan mana pun yang dipilih oleh aliran Muslim tertentu, akan selalu membutuhkan rujukan otentik dalam setiap penyelenggaraan negara Islam. Karena pada dasarnya, mendirikan suatu negara atau sistem pemerintahan untuk mengelola urusan rakyat merupakan kewajiban agama yang paling agung. Sebab, agama tidak mungkin tegak tanpa suatu pemerintahan.

Ukuran tegaknya suatu nilai-nilai agama, seperti keamanan, keadilan, dan keteraturan hanya mungkin dilakukan melalui sistem pemerintahan. Saya kini mengambil satu pandangan Ibnu Taimiyah, dia mengatakan bahwa umat manusia tidak akan mungkin mencakup segala kebutuhannya tanpa kerja sama dan saling membantu dalam kehidupan kelompok, dan setiap kehidupan kelompok memerlukan seorang kepala atau pemimpin.

Kehadiran seorang pemimpin dalam suatu masyarakat, kelompok, bangsa, dan negara merupakan suatu yang tidak terelakkan lagi. Sehingga, mampu mengemban tugas sebagaimana yang telah diperintahan agama untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. 

Selama Islam dikembangkan dengan sifat too politically and middle east oriented, dua hal tersebut membawa beberapa sisi kelemahan sejarah Islam. Orientasi politik ingin merekonstruksi kehidupan elit politik dan pola-pola perebutan kekuasaan, peperangan, dan pertumpahan darah yang akhirnya menegaskan citra Islam sebagai “agama warior” bukan sebagai agama rahmat.

Orientasi tersebut juga mengabaikan kesejarahan dan aspek-aspek kultural, seperti pendidikan, perekonomian, dan keberagamaan. Sementara orientasi Timur Tengah mereduksi pengetahuan kita dari perkembangan sejarah di belahan dunia Muslim lainnya, seolah-olah ia menjadi satu-satunya model sejarah Islam yang tunggal – yang akhir menegaskan bingkai sejarah Islam yang sempit; tidak mengenal keragaman.

Dalam Islam, ada tiga aliran yang begitu terkenal dengan pandangannya masing-masing, yaitu Sunni, Syi’ah, dan Wahabi. Pertama, saya akan menjelaskan bagaimana doktrin Sunni dan Syi’ah mengakar dalam Islam. Seperti yang kita tahu bahwa paham Sunni-Syi’ah berawal dari perselisihan soal kepemimpinan yang muncul setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw.

Sebagian pengikut yang meyakini bahwa penerusnya haruslah dipilih dari golongan Sahabat Nabi, melalui syura atau dewan penasihat yang harus diduduki sesepuh dan pemimpin suku. Sementara, sebagian yang lain meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib—sepupu dan menantu Nabi adalah orang yang telah dipilih langsung oleh Nabi berdasarkan wahyu Allah Swt sebagai penerus, posisi tersebut sudah bisa dikatakan layak diberikan kepada Ali. 

Kelompok pertama menang dan Ali harus menunggu tiga periode sebelum akhirnya diangkat menjadi Khalifah keempat. Namun, kedudukannya diusik oleh Muawiyah—pendiri Dinasti Umayyah. Perselisihan yang berawal dari perpecahan politik ini, lama-lama berubah menjadi perselisihan doktrin yang lebih mendalam.

Pengikut Sunni dan Syiah saat ini memiliki keyakinan inti yang sama mengenai tauhid. Muhammad Saw sebagai nabi terakhir dan Al-Qur’an sebagai kitab suci. Akan tetapi, terdapat sejumlah perbedaan mendasar, khususnya terkait konsep Imamah.

Menurut ajaran Syi’ah, setelah wafatnya Nabi Muhammad, umat Islam akan dipimpin oleh imam maksum – keturunan langsung yang menjadi sosok pilihan Allah Swt, yaitu Ali. Dan satu-satunya yang berhak menafsirkan ajaran Al-Qur’an, membuat keputusan untuk kaum Muslimin adalah seorang pemimpin yang demikian—yang memegang mandat politik maupun spiritual. Sedangkan, bagi pengikut Sunni, pemimpin adalah penjaga Islam, tetapi bukan penerus maksum dari Nabi Saw yang dapat secara langsung mengemukakan wahyu-wahyu Allah Swt.

Ada hal menarik yang dikatakan oleh Gus Baha, yaitu Wa al-Nasu ‘ala din mulukihim – dan manusia mana pun cara beragamanya pasti mengikuti imamnya. Dalam sejarah Islam, cara beragama masyarakatnya sangat tergantung siapa penguasanya. Paham apa yang diyakini para penguasanya. Jika Sunni, maka rakyatnya akan ikut Sunni. Jika Syi’ah maka rakyatnya akan mengikuti cara beragama Syiah.

Selain aliran dua yang telah saya sebutkan di atas, ada satu aliran yang juga dibahas oleh Gus Baha, yaitu aliran Wahabi. Aliran ini dibawa oleh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab, sosok yang memiliki perhatian besar terhadap masalah pemurnian akidah dan pembaruan dalam Islam. Di dunia Islam, pada abad pertengahan  (1250-1800 M), telah timbul ide-ide pembaruan dan upaya pemurnian akidah yang merupakan reaksi tehadap kondisi politik dan paham tauhid di kalangan umat Islam. 

Bila dilihat dari karya ilmiah yang ditulis oleh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab, dapat dikategorikan sosok ulama yang produktif. Tema dari karya-karyanya ini tampak terfokus pada misi pemurnian tauhid. Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab berpendapat bahwa yang boleh dan harus disembah hanyalah Tuhan, orang-orang yang menyembah selain Tuhan telah menjadi musyrik dan boleh dibunuh. Kemudian, kebanyakan orang Islam bukan lagi penganut paham tauhid yang sebenarnya, karena mereka meminta pertolongan bukan lagi kepada Tuhan, tetapi kepada para syaikh atau wali, juga kekuatan gaib. 

Menurutnya juga, siapa pun yang menyebut nama nabi, syaikh, malaikat sebagai perantaran dalam doa merupakan syirik. Meminta syafaat selain kepada Tuhan juga syirik, bernazar kepada selain Tuhan juga syirik, memperoleh pengetahun dari Al-Qur’an, hadis, dan kias merupakan kekufuran. Tidak percaya kepada qada dan qadar Tuhan merupakan kekufuran dan penafsiran Al-Qur’an dengan takwil adalah kufur. Rakyat Saudi hari ini mengikuti paham yang dikembangkan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab ini.

Tentunya, dari ketiga aliran ini, sangatlah berbeda paham di antara ketiganya. Bagi Syi’ah, kisah diskriminasi yang dialami oleh Ali bin Abi Thalib hingga tragedi Karbala, terbunuhnya Husein—cucu Rasulullah Saw, dan kisah kepedihan Ahlul Bait, menjadi ingatan sosial yang sangat menyakitkan.

Bagi Sunni, penghinaan, cacian, makian dan pengkafiran yang ditujukan kepada para Sahabat utama, Abubakar, Umar, Utsman dan Istri Rasulullah, Aisyah al-Kubra, menjadi sebab disharmonisasi hubungan antara Sunni dan Syiah dan hubungan antara negara-negara Timur Tengah hingga kini.

Sedangkan, gerakan pembaruan dari Wahabi yang kadang-kadang menempuh cara kaku, tak kenal kompromi sering juga dituduh sebagai kelompok pembangkang oleh pihak-pihak yang tidak sepaham dengan ajaran aliran ini. Wahabi ditolak oleh Sunni, tetapi juga dimusuhi oleh Syiah. Sayangnya, ketiganya memiliki negara sendiri-sendiri. An-Nasu Ala Dini Mulukihim. Rakyat mengikuti agama penguasanya. Ketika penguasanya saling damai, maka rakyatnya akan damai. Jika elitnya bertengkar, maka rakyatnya juga akan bertengkar. Inilah pola hubungan Sunni, Syi’ah dan Wahabi hari ini.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...