Beranda Khazanah Gus Baha Ngomong Problem Dikotomi Ilmu; Ilmu Umum dan Ilmu Agama Itu...

Gus Baha Ngomong Problem Dikotomi Ilmu; Ilmu Umum dan Ilmu Agama Itu Sebenarnya Gak Ada Bedanya!

Harakah.id – Gus Baha ngomong problem dikotomi ilmu pengetahuan. Menurut Gus Baha, Ilmu umum dan Ilmu agama itu gak ada bedanya. Dikotomi yang muncul, yang kemudian mengelompokkan ilmu agama dan ilmu umum nyatanya juga berdasar pada logika yang lemah.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, tercetuslah berbagai cabang ilmu baru, yang tidak lain merupakan pecahan atau pengkategorian secara lebih rinci dari cabang ilmu lain. Bahkan tak sedikit juga yang membagi-bagi (baca: mendikotomi) menjadi ilmu agama dan ilmu umum. Karena dalam beberapa aspek, keduanya seakan saling bertentangan.

Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesa (KBBI), dikotomi adalah pembagian atas dua kelompok yang saling bententangan. Berdasar pengertian tersebut, dapat dimengerti bahwasanya dikotomi ilmu pengetahuan ialah suatu pembagian ilmu pengetahuan yang seakan tidak saling berkaitan, bahkan dianggap saling bertentangan. Dalam hal ini, pada akhirnya ada yang dikelompokkan sebagai ilmu agama dan ilmu umum.

Baca Juga: Tips dari Gus Baha Supaya Anak Kita Menjadi Anak yang Saleh

Di beberapa kali kesempatan, Gus Baha ngomong problem dikotomi ilmu. Ketika membahas tentang pembedaan ilmu pengetahuan, secara ringkas, Gus Baha menyatakan bahwa semua yang ada di alam raya ini tidak bisa untuk dipisah-pisahkan. Karena semua yang ada di dunia tentu saling berhubungan. “Sebenarnya dikotomi (ilmu pengetahuan) itu memang tidak pernah ada,” tegas Gus Baha.

Apabila merujuk Al-Qur’an dan hadis, tidak ada yang bisa mendukung perilaku mendikotomi ilmu pengetahuan. Artinya, tidak ada yang disebut dengan ilmu agama saja dan ilmu umum saja. Karena baik ilmu yang disebut dengan ilmu umum sekali pun, sebenarnya juga telah dibahas dalam Al-Qur’an. Meski penjelasannya dalam Al-Qur’an tidak secara mendetail.

Ketika Gus Baha ngomong problem dikotomi ilmu, untuk menguatkan argumen tentang tidak adanya dikotomi ilmu pengetahuan dalam Al-Qur’an, Gus Baha memberikan sekian contoh terkait hal tersebut. Di antaranya ialah menyangkut ilmu astronomi, yang apabila di pesantren lebih dikenal dengan ilmu falak.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Yunus [10] ayat 5,

هُوَ ٱلَّذِی جَعَلَ ٱلشَّمۡسَ ضِیَاۤءࣰ وَٱلۡقَمَرَ نُورࣰا وَقَدَّرَهُۥ مَنَازِلَ لِتَعۡلَمُوا۟ عَدَدَ ٱلسِّنِینَ وَٱلۡحِسَابَ

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, supaya kalian mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu).” [Q.S. Yunus (10): 5]

Baca Juga: Penjelasan Gus Baha Tentang Khilafah Yang Perlu Direnungkan

Apabila diperhatikan, ayat di atas secara jelas berbicara tentang matahari dan bulan, yang mana dapat digunakan sebagai petunjuk untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Di dunia akademik, ilmu yang mempelajari tentang hal itu disebut sebagai ilmu astronomi, sebagaimana di Barat. Akan tetapi di pesantren, ilmu itu disebut sebagai ilmu falak. Bahkan tidkk sedikit kiai pesantren yang masyhur sebagai ilmu falak, sebut saja seperti K.H. Turaican Adjhuri dari Kudus.

Apakah kedua ilmu tersebut bertentangan? Tentu tidak bertentangan. Lantas mengapa jika ilmu falak dapat dikategorikan sebagai ilmu agama, tetapi ilmu astronomi hanya disebut sebagai ilmu umum? Padahal Allah sudah jelas-jelas menyebutkannya di dalam Al-Qur’an.

“Artinya, kalau yang dikatakan Al-Qur’an pasti itu ilmu agama dong. Tetapi dalam disiplin ini (dikotomi), hanya disebut sebagai ilmu umum,” tutur Gus Baha.

Selain contoh di atas, Gus Baha juga memberikan contoh lain, yaitu pembahasan tentang konstruksi bumi. Allah Swt. berfirman dalam surah Ar-Ra’d [13] ayat 4,

وَفِی ٱلۡأَرۡضِ قِطَعࣱ مُّتَجَاوِرَاتࣱ

“Dan di bumi terdapat lempengan-lempengan yang saling berdampingan.” [Q.S. Ar-Ra’d (13): 4]

Melalui ayat di atas, Al-Qur’an sebenarnya sudah menyebutkan bahwa bumi itu tersusun atas lempengan-lempengan yang saling berdampingan. Sebagaimana diketahui, bahwasanya bumi itu diciptakan tidak berupa satu elemen saja, tetapi terdiri dari lempengan-lempengan. Oleh karenanya, ketika terjadi pergeseran lempeng bumi, maka dapat menjadi pemicu terjadinya gempa bumi.

Menurut Gus Baha, dikotomi ilmu pengetahuan menjadi ilmu agama dan ilmu umum itu sebenarnya berasal dari pengidentikan pada keduanya. Yaitu ketika ilmu agama hanya diidentikkan dengan ilmu-ilmu menyangkut shalat, zakat dan lain sebagainya. Sedangkan sisanya, yang berkaitan dengan alam, hanya diidentikkan sebagai ilmu umum. Sehingga ketika dikatakan ilmu umum, maka tidak termasuk ilmu agama. Ketika dikatakan ilmu agama, maka tidak bisa disebut sebagai ilmu umum.

Baca Juga: Gus Baha dan Cara Menghadapi Orang yang Menjengkelkan Agar Tidak Emosi

Contoh selanjutnya yang disebutkan oleh Gus Baha ialah terkait ilmu pemerintahan. Ketika ada politisi menyatakan bahwa, seorang kepala negara itu harus mementingkan rakyatnya. Dalam dunia pesantren, teori tersebut juga sejalan dengan kaidah fikih yang sangat masyhur terkait hal itu.

ﺗَﺼَﺮَّﻑُ ﺍﻻِﻣَﺎﻡِ ﻋَﻠﻰ ﺍﻟﺮَّﻋِﻴَّﺔِ ﻣﻨُﻮْﻁٌ ﺑِﺎﻟﻤَﺼْﻠَﺤَﺔِ.

“Tindakan (tasharruf) pemimpin terhadap rakyat itu harus dihubungkan dengan kemaslahatan”.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dimengerti bahwasanya Al-Qur’an itu juga membicarakan berbagai kejadian yang ada di alam semesta. Sehingga–tanpa menimbang manfaat dan bahayanya–, pendikotomian ilmu pengetahuan menjadi ilmu agama dan ilmu umum bukanlah perilaku yang disyaratkan dalam Al-Qur’an. Jadi itulah uraian ringkas ketika Gus Baha ngomong problem dikotomi ilmu.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...