Beranda Kolom Gus Baha, Yaya Toure dan Para Kiai yang Menggandrungi Sepak Bola

Gus Baha, Yaya Toure dan Para Kiai yang Menggandrungi Sepak Bola

Harakah.idPara kiai yang menggandrungi sepak bola memang cukup banyak. Kita bisa menyebut beberapa nama, seperti Gus Dur, Gus Mus, Kiai Syukri dan Habib Quraish Shihab. Sepak bola di tangan para kiai tak menjadi sekedar hiburan, tapi sebuah pelajaran menghargai hidup dan media mendulang hikmah kebijaksanaan.

Ketika Gus Baha menyebut nama “Yaya Toure” di sebuah pengajiannya, saya agak takjub, seorang kiai yang fana’ seperti Gus Baha saja menyukai sepak bola. Meski memang tidak intens menonton pertandingan sepak bola tiap minggunya, pengetahuan Gus Baha kalau ada pemain bernama Yaya Toure menggambarkan kalau beliau sedikit banyak tahu soal sepak bola.

Hal yang sama tampak ketika Gus Baha menanyakan “apa klub sepak bola favorit?” kepada cucu Habib Quraish Shihab di sebuah acara ngobrol bareng Najwa Shihab. Dan tanpa saya duga, Gus Baha membuat sebuah joke, “tau gak negara mana yang sepak bolanya paling hebat?” “Ya Indonesia. buktinya gak pernah dikalahkan Brazil!” Joke segar sekaligus satir ini menyatakan kalau Indonesia gak pernah dikalahkan Brazil karena memang gak pernah tanding dengan Brazil. Artinya apa, ya prestasi sepak bola Indonesia begitu-begitu saja. Dan Gus Baha tahu itu! Hehehe…

Kedekatan para kiai dengan olahraga sepak bola memang bukan hal aneh. Nyatanya ada di antara para kiai yang menggandrungi sepak bola. Kesukaan pada sepak bola ditunjukkan dengan banyak hal; mengamati, bermain langsung atau hanya sekedar mengikuti satu dua kali pertandingan.

Di antara para kiai yang menggandrungi sepak bola adalah Gus Dur dan Gus Mus. Semasa kuliah di Mesir, keduanya seringkali bermain sepak bola bersama klub mahasiswa Indonesia. Gus Dur bahkan tercatat bukan hanya gemar dalam hal bermain, tapi juga jeli dalam mengamati, menganalisis dan mendeskripsikan hal-hal di sekitar sepak bola. Tidak sukar untuk menemukan tulisan-tulisan analisa sepak bola Gus Dur. Di berbagai media massa, artikel analisa sepak bola Gus Dur bertebaran dan memang enak dibaca.

nucare-qurban

Selain Gus Dur dan Gus Mus, Kiai Syukri Zarkasyi juga tampak gemar bermain si kulit bundar. Pengasuh Gontor yang wafat beberapa bulan yang lalu itu sering muncul dalam foto-foto lawas ketika dirinya – bersama para tokoh lain seperti Gus Dur, Gus Mus dan Habib Quraish Shihab – tampak berfoto layaknya seorang pemain sepak bola profesional. Banyak kalangan juga mengakui kalau putra Kiai Zarkasyi tersebut memang gemar dan suka bermain sepak bola.

Habib Quraish Shihab saya rasa adalah nama yang tidak boleh tidak disebut dalam jajaran para kiai yang menggandrungi sepak bola. Dalam sebuah foto lawas, Pak Quraish – sapaan Prof. Quraish Shihab – tampak berjongkok dan berpose dalam sebuah klub sepak bola. Di samping kanannya juga nampak KH. Mustofa Bisri yang berpose sama.

Dalam banyak video dan obrolan, Pak Qurasih seringkali memuji Mohamed Salah. Penyerang sayap Liverpool berkebangsaan Mesir yang beberapa menjadi top scorer dan pemain terbaik di Premier League Inggris. Menurut Pak Quraish, pengaruh Mohamed Salah sebagai pemain sepak bola lebih besar dari para pendakwah dalam mengentaskan islamophobia di Inggris, bahkan Eropa. Dengan skill mengolah bolanya, Salah mampu menjadi perwajahan Islam sehingga masyarakat Inggris mengalami perubahan kesan terkait Islam dan orang Muslim.

Maka kepada Najwa Shihab, Pak Quraish mengijinkan cucunya – putra Najwa Shihab – untuk fokus dan menjadi pemain sepak bola professional. Sewaktu berbincang dengan Gus Baha, dengan bangga Pak Quraish mengabarkan kalau cucunya itu sudah ikut camp pelatihan sepak bola sampai ke luar negeri.

Selain nama-nama tersebut, saya kira banyak sekali para kiai yang menggandrungi sepak bola. Tidak ada aturan rigid kalau ulama tidak boleh punya hobi, termasuk sepak bola.

Sepak bola sebagai sebuah olahraga dan produk kebudayaan mendapatkan makna lain ketika dimainkan dan digandrungi oleh para kiai. Ya selama tidak melanggar syariat, nonton atau main sepak bola memang tidak ada salahnya. Bahkan jika olahraga tersebut justru membawa kebaikan, seperti Mohamed Salah, ya justru mengucurkan pahala.

REKOMENDASI

Kapan Istilah Sufi dan Tasawuf Muncul Dalam Konteks Keilmuan Islam? Ini Sejarahnya…

Harakah.id - Sufi dan tasawuf, menurut Ibnu Khaldun, secara istilah memang belum dikenal secara luas di kalangan masyarakat Islam pada abad...

Islam Di Mata Barat; Media, Orientalisme dan Entitas Islam yang Termutilasi

Harakah.id - Orientalisme, Barat dan Islam adalah variabel kunci dari artikel yang Said tulis di tahun 1980 ini. Namun tampaknya apa...

Download Naskah Pidato Pengukuhan Dr [HC] KH. Afifuddin Muhajir; Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam...

Harakah.id - Pidato pengukuhan Doctor Honoris Causa KH. Afifuddin Muhajir ini penting untuk mengukuhkan posisi NKRI dalam timbangan syariat Islam.

Lewati 8 Kota di 7 Negara, Ini Rute Perjalanan Imam al-Bukhari Mencari Hadis

Harakah.id – Rute perjalanan Imam al-Bukhari mencari hadis bukan kaleng-kaleng. Delapan kota di tujuh negara dilewati oleh Imam al-Bukhari untuk mencari...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Para Ulama dan Habaib yang Berseberangan dengan Habib Rizieq

Harakah.id - Gerakan Habib Rizieq dan FPI-nya mendapat sorotan sejak lama. Para pemimpin Muslim di Indonesia tercatat pernah berseberangan dengannya. Inilah...