fbpx
Beranda Tokoh Gus Dur Sebagai Mufassir

Gus Dur Sebagai Mufassir [2]

- Advertisement -

Menyoal Pribumisasi Islam: Tinjauan Ayat al-Qur’an

Gus Dur dikenal sebagai pemikir yang sangat jarang menggunakan ayat al-Qur’an dan Hadis sebagai basis argumentasinya ketika membahas sesuatu. Tidak seperti Nurcholis Majid misalnya, yang selalu mengutip ayat al-Qur’an di setiap petikan premis-premisnya. Saya pun mencoba melacak keberadaan ayat-ayat al-Qur’an dalam artikel-artikel yang ditulis Gus Dur. Dari puluhan artikel yang saya lacak, hanya inilah ayat-ayat yang pernah Gus Dur gunakan;

NoAyat al-Qur’anPosisi Maksud Peletakan
1An-Nisa 3

 

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا

“Pribumisasi Islam” dalam Abdurrahman Wahid, Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan (Desantara 2001).Dan Surat an-Nisa ayat 3 juga tercantum dalam “Misteri Kata-Kata”, transkrip pengajian Ramadlan Gus Dur di Pesantren Ciganjur (2010)Mengembangkan Aplikasi Nash: Menimbang-nimbang kembali aturan tentang poligami dalam spektrum keadilan bagi perempuan.
2Al-Baqarah 177

 

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Menarik ayat al-Qur’an sebagai konsep teo-politik; bahwa negara yang adil adalah negara yang mampu merangkul dan menyejahterakan kaum lemah.
3Al-Ahzab 21

 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Pengembangan Islam bagi Pengembangan Budaya Indonesia” dalam Majalah Mimbar Ulama, No. 115. Th. IX.Manusia memiliki tugas bertauhid, melaksanakan syariah dan menegakkan kesejahteraan di muka bumi. Pernyataan ini ditampilkan untuk memperkuat konsep pribumisasi Islam.
4Al-Isra’ 70

 

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا

5At-Tin 4

 

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

6Al-Maidah 5

 

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Misteri Kata-Kata”, transkrip pengajian Ramadlan Gus Dur di Pesantren Ciganjur (2010)Bahwa dien yang dimaksud dalam ayat itu adalah agama secara prinsip, bukan aplikasi. Jadi Islam itu lentur dalam hal pengamalan.
7Al-Kafirun 6

 

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Tolerasi antara ummat beragama
8Ali Imran 85

 

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Kalau ketemu orang kafir harus dibunuh? Oh, tunggu dulu. Maksud kata lan yuqbala dalam ayat ini adalah tidak diberi pahala! Bukan tidak diterima. Jadi ya tidak sah saja, bukan tentang bunuh membunuh.Menguatkan dua ayat sebelumnya.
9Ali Imran 26

 

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Semuanya di tangan Allah kok. Jadi kemusliman dan kekafiran seseorang, itu mutlak urusan Tuhan bukan manusia. Jadi damai saja.
10Al-Maidah 44

 

إنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Konsep hukuman dalam Islam: ayat ini tidak bisa dipahami secara tekstual, karena berbahaya.Ayat ini mengandung dua unsur prinsip yang mesti ada: pertama menghukum (punishment) dan mencegah (prevention). Keduanya bisa dalam bentuk apapun tergantung dengan pertimbangan-pertimbangan yang ada.
11Al-Maidah 45

 

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

12Al-Maidah 47

 

وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الْإِنْجِيلِ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

13An-Nisa 1

 

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hak Asasi Manusia dalam al-Qur’an” dalam Abdurrahman Wahid, Kosmopolitanisme Islam (Wahid Institute 2007)Konsep mawaddah dan rahmah merupakan dua konsep yang ikatan sosiologis antara seorang suami dan istri.Bahwa kodrat manusia adalah bereproduksi. Namun, menanggalkan kodrat tersebut bukan berarti bisa diukur dengan hukum atau aturan umum. ada penyimpangan yang disebabkan oleh faktor “sakit” seperti Lesbi atau homo. Ya harus disikapi dengan cara lain.
14Ar-Rum 21

 

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Memahami Islam dengan Asyik

Pekih iku lek rupek, yo diokeh-okeh

____ KH. Abdul Wahab Chasbullah

Idza dlaqa ittasa’a, idza-t-tasa’a dlaqa

____Qawa’idu-l-Fiqhiyyah

Dalam berbagai kesempatan, Gus Dur baik dalam tulisan ataupun penyampaian lisannya selalu mengajak kaum muslimin untuk memahami Islam dan menjalaninya dengan asyik. Asyik bukan dalam artian mengamalkan ajaran agama seueenak udele dewe. Akan tetapi asyik untuk memahami Islam sesuai dengan tuntutan manusia zamannya. Untuk itu, kerja reinterpretasi dan kontekstualisasi harus dipancang sebagai agenda jangka panjang yang tidak akan selesai.

Islam dalam pandangan Gus Dur merupakan agama yang eksklusif. Karena itu shalihun likulli zaman wal makan. Banyak orang yang salah memahami pernyataan al-Qur’an yang menyebutkan bahwa Islam pasca wafatnya nabi, adalah agama yang sudah sempurna [al-ma’idah: 6]. Karena kesempurnaan itu mereka berkeyakinan bahwa segala hal yang ada dalam Islam, yang memiliki landasan qur’ani bersifat qath’i dan benar secara absolut.[i] Ketika dipahami seperi ini, Islam tak ubahnya agama perang yang banyak menyebutkan ayat jihad di dalamnya.

Lokalitas dan heterogenitas pun juga menjadi masalah. Pertanyaan yang sering muncul, seperti apakah Islam yang murni? Atau slogan “kembali kepada kemurnian ajaran Islam” juga merupakan permasalah kompleks dengan ambiguitas yang bahkan memungkinkan gerakan puritanisasi besar-besaran seperti yang ditunjukkan gerakan-gerakan khilafi-wahabi mendapatkan legitimasi teologisnya.[ii] Menoleh kepada sisi yang lian juga tak kalah dilematis, ketika Islam sudah banyak berkelibat dalam pergulatan kehidupan manusia yang warna-warni sepanjang zaman, akahkan Islam masih menyimpan sedikit tradisi yang menjadi identitasnya? Dari titik ini, Islam bagaikan telur di ujung pedang; kalau tidak jatuh lalu hancur di tanah, ia akan tertebas menjadi dua. Singkat cerita, kini Islam berada dala posisi antara memenuhi kebutuhan zamannya dan menjaga identitas dirinya.

Memahami Islam dari dua sisi di atas sama-sama tidak mengasyikkan. Perlu adanya “alternatif”, atau dalam bahasa Anthony Giddens “jalan ketiga” yang kiranya dapat membawa kaum muslimin keluar dari posisi dilematis semacam ini. Hubungan ini tentu ambivalen. Pada satu sisi Islam mengangguk “iya”, di sisi yang lain ia menggeleng “tidak”. Nah, Gus Dur menjadi penting karena kontribusi nyatanya untuk menunjukkan pada jalan tengah tersebut.

Untuk itu, Gus Dur terlebih dahulu berusaha menanamkan keyakinan bahwasanya Islam bukanlah agama yang sempurna dalam segenap tindak-tanduk yang bersifat prinsip ataupun teknis. Ketika al-Qur’an mengatakan “akmaltu lakum dinukum”, hal ini hanya berlaku dalam permalasahan prinsip saja. Al-Qur’an sebagai kitab pedoman berisikan prinsip-prinsip tersebut. Sebaliknya, untuk masalah tekhnis operasionalnya, ummat muslimlah yang menentukan. Dari sini, kreatifitas untuk terus mengolah prinsip yang ada menjadi mutlak ditanamkan dalam diri seorang muslim sejak dini. Ayat al-Quran tidak akan mengalami perubahan sampai kiamat nanti, ia adalah teks yang tidak bergerak. Sebaliknya, lika-liku kehidupan yang dialami manusia senantiasa berubah dari masa ke masa. Bagaimana teks yang mati itu bisa tetap relevan dengan perubahan sosial tanpa henti itulah yang menjadi pertanyaan dan misi abadi seorang muslim.

Setelah membedakan antara yang prinsip dan yang tekhnis, Gus Dur kemudian membedakan antara permasalahan ibadah dan mu’amalah.[iii] Ibadah dalam artian segenap aturan yang mengikat ketika seorang hamba ingin berkomunikasi secara vertikal dengan Tuhannya. Mu’amalah sebaliknya, adalah aturan sosial antara manusia dengan manusia lainnya. Dari pos ini, memahami Islam dengan asyik mendapatkan persetujuannya secara normatif.

Tentu kita masih ingat ketika Gus Dur dicerca oleh sebagian kelompok orang karena telah mengganti ucapan “assalamualaikum” dengan “selamat pagi”. Atau ketika Gus Dur dengan tegasnya tidak mempermasalahkan pengucapan “selamat natal”-nya orang muslim kepada komunitas kristiani. Tentu, pendapat ini bertentang dengan keputusan MUI waktu yang mengatakan haram mengucapkan “selamat natal”, dengan alasan ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang ma’shiat yang mensyirikkan Allah. ini contoh orang yang menurut Gus Dur tidak merasakan nikmatnya memahami Islam.

Pembahasan-pembahasan itu anehnya tidak hanya terjadi sekali. Bagaikan buah, ia juga mengalami siklus musiman. Ketika natal tiba, orang-orang mulai membicarakan tentang hukum mengucapkan natal. Ketika awal dan akhir ramadlan tiba, orang-orang muslim mulai ramai membicarakan dan memperdebatkan metode ru’yatu-l-hilal. Karena itu menurut Gus Dur, umat Islam tidak pernah sampai pada buah dan bijinya. Sepanjang hidup mereka, mereka hanya berputar dan mengais kulit luarnya saja.

Untuk masalah ibadah, Gus Dur tidak bisa berbuat apa-apa. ketentuannya sudah jelas. Shalat subuh 2 rakaat dan ashar 4 rakaat. Tidak akan ada yang bisa merubah, mujtahid mutlak sekalipun. Masalah mu’amalah beda lagi. Itu tergantung kebutuhan pasar dan tunturan situasi-kondisi yang ada.

Sebenarnya ulama salaf sudah memberikan petunjuk mengenai hal itu. Dalam qaidah fiqh kita mengenal dua qaidah “al-ashlu fi-l-ibadah tahrimuha illa idza dalla-a-dalil ‘ala tajwiziha” dan “al-ashlu fi-l-mu’amalah tajwizuha illa idza dalla-d-dalil ‘ala tahrimiha”. Dua qaidah ini mendudukkan secara eksplisit posisi ibadah dan mu’amalah dalam partisipasi bersama mewujudkan masyarakat yang taat beragama tanpa memancung daya kreatifitas sebagai poros utama pembentuk unsur-unsur kebudayaan manusia.

Jadi permasalahan remeh seperti arabisasi kata-kata yang sudah lumrah di kalangan masyarakat kita tidak lagi menjadi menakutkan sebagaimana ancaman teroris dan ISIS. Perubahan kata sembahyang dengan shalat, langgar dengan mushallah, selamat pagi dengan assalamualaikum adalah problem yang sama sekali tidak patut menjadi sumber perpecahan, apalagi sampai muncul kegiatan pengkafiran dan pembid’ahan.

Secara esensial, Gus Dur telah membentuk pemahaman akan Islam sebagai sebuah agama yang damai dan plural. Tidak mentang-mentang lain agama, lalu main bunuh-bunuhan tanpa dasar hukum yang jelas. Ada beberapa wilayah dalam interaksi yang dibangun antar manusia, yang agama hanya memiliki otoritas pada level individualitasnya saja, bukan untuk mengarahkan ke mana interaksi itu akan menghilir.[iv]

Oleh karena itu, pemosisian manusia sebagai mahluk yang mulia dan harus dihargai apapun agama yang dipeluknya, merupakan agenda utama dalam membentuk pola sosial yang multikultural.[v] Dengan membingkai ketiganya itulah, Islam mampu mewujudkan dirinnya sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.

Bersambung…

Baca Juga: Gus Dur Sebagai Mufassir [1]

Catatan Akhir:  

[i] Abdurrahman Wahid, Agama dan Tantangan Kebudayaan, dalam Abdurrahman Wahid, Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan (Jakarta: Desantara, 2001). Hal. 79-90.

[ii] Seperti yang sering dikampanyekan oleh Ahmad Wahib. Baca: Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam.

[iii] Abdurrahman Wahid, Agama dan Tantangan Kebudayaan, hal. 86-87.

[iv] Untuk itu Gus Dur selalu mengatakan agar Islam seyogyanya menghindari eksklusivisme dan lebih menekankan pada agenda nasional bagi kepentingan semua kelompok masyarakat, termasuk minoritas dan non-pribumi. Baca: Abdurrahman Wahid, Umat Islam Seyogyanya Hindari Eksklusivisme, dalam Abdurrahman Wahid, Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan (Jakarta: Desantara, 2001). Hal. 97-99.

[v]  Gus Dur mengurasi dan menyimpulan bahwa ada tiga nilai dasar ajaran agama Islam yang mesti menjadi poros bagi segenap aktifitas keberagamaan  secara teknis operasionalnya. Yaitu nilai-nilai yang mendasari kehidupan masyarakat dalam bingkai keadilan, persamaan dan demokrasi (syura). Prinsip dasar inilah yang menurut Gus Dur sudah terakomodir dalam qaidah “Tasharrufu-l-Imam ‘ala-r-ra’iyah manuthun bi-l-mashlahah”. Baca:  Abdurrahman Wahid, Pribumisasi Islam, dalam Abdurrahman Wahid, Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan (Jakarta: Desantara, 2001). Hal. 131.

REKOMENDASI

Muktamar NU 17 di Madiun, Upaya NU Membendung Pergerakan PKI Dan Agenda Pendirian Negara...

Harakah.id – Upaya NU membendung pergerakan PKI sudah jauh dilakukan sebelum pecahnya tragedi pemberontakan Madiun tahun 1948. Dengan melaksanakan Muktamar NU...

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...