fbpx
Beranda Tokoh Gus Dur Sebagai Mufassir

Gus Dur Sebagai Mufassir [3 – Habis]

Harakah.id – Inilah pribumisasi. Bentuk nyata dari semangat kiai dan santri untuk membangun negeri.

- Advertisement -

Menyoal Pribumisasi Islam: Tinjauan Hadis

حدثنا عثمان بن الهيثم حدثنا عوف عن الحسن عن أبي بكرة قال لقد نفعني الله بكلمة سمعتها من رسول الله صلى الله عليه وسلم أيام الجمل بعد ما كدت أن ألحق بأصحاب الجمل فأقاتل معهم قال لما بلغ رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أهل فارس قد ملكوا عليهم بنت كسرى قال لن يفلح قوم ولوا أمرهم امرأة

Diriwayatkan dari Abi Bakrah. Ia berkata semasa peperangan Jamal, setelah dirinya hampir ikut serta dengan para sahabat di peperangan itu, “sungguh Allah telah memanfaatkan aku dengan sebuah kalimat yang aku dengar dari Rasulullah Saw.” Ia berkata, “setelah Rasulullah mendengar kabar bahwa Persia dipimpin oleh seorang putri Kisra, Rasulullah bersabda, “suatu kaum tidak akan berbahagia jika perkara-perkara mereka dipimpin oleh seorang perempuan”.”[i]

Hadis di atas merupakan hadis riwayat Imam al-Bukhari. Hadis serupa juga diriwayatkan oleh beberapa imam hadis semisal: Imam an-Nasa’i (hadis 5388), al-Hakim (hadis 4608), Imam at-Tirmidzi (hadis 2262) dan al-Baihaki (hadis 5332).

Semua riwayat yang ada memiliki redaksi hadis yang sama. Kecuali mungkin ada beberapa perbedaan dalam konteks kejadian yang diceritakan dalam hadis. Misalnya riwayat Imam at-Tirmidzi dan Imam an-Nasa’i ada tambahan konteksnya yakni pertanyaan nabi terkait pergantian kekuasaan Persia dari Raja Kisra ke tangan puterinya. Konteks ini tidak disebutkan dalam riwayat Imam al-Bukhari ataupun al-Baihaki. Begitu juga dengan konteks perawinya; Abu Bakrah yang sedang dalam konteks masa peperangan Jamal. Hal tersebut tidak disebutkan dalam riwayat Imam at-Tirmidzi dan an-Nasa’i.

Ini contoh riwayat Imam at-Tirmidzi[ii]:

حدثنا محمد بن المثنى قال حدثنا خالد بن الحارث قال حدثنا حميد الطويل عن الحسن عن أبي بكرة قال عصمني الله بشيء سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم لما هلك كسرى قال من استخلفوا ؟ قالوا ابنته فقال النبي صلى الله عليه وسلم لن يفلح قوم ولوا أمرهم امرأة قال فلما قدمت عائشة يعني البصرة ذكرت قول رسول الله صلى الله عليه وسلم فعصمني الله به.

Secara umum hadis di atas tergolong hadis yang sahih. Tidak ada daftar periwayat lemah di dalam rantai periwayatannya. Dan tidak ada pula keterputusan yang terjadi dalam rantai periwayatannya. Seluruhnya bersambung dan dapat dipertanggungjawabkan. Yang menjadi menarik dari hadis ini adalah soal pemahamannya dan di sinilah Gus Dur masuk untuk memberikan satu pemahaman yang lebih progresif terkait peran dan kontribusi perempuan di seluruh lini kebudayaan.

Menurut jumhur ulama, perempuan secara mutlak –berdasarkan hadis ini- tidak boleh menjadi pemimpin politik yang mengurusi masalah imarah dan keqadlian.[iii] Pendapat ini kemudian diperkuat dengan adaya hadis lain yang menunjukkan bahwa perempuan tidak layak untuk menjadi seorang pemimpin; pertama karena dia nuqshan fi al-aql dan kedua nuqshan fi ad-din. Oleh karena itu, dari sebab pertama persaksian perempuan memiliki kadar setengah dari persaksian laki-laki. Dan faktor kedua disebabkan oleh rutinitas haid sehingga ibadah perempuan tidak sekomplit ibadah laki-laki. Pertanyaannya, bagaimana jika kemudian ada perempuan potensial yang bahkan mengalahkan kadar laki-laki? Apakah ia boleh jadi pemimpin?

Sebelum  menjawab ada baiknya kita meninjau konteks historisnya terlebih dahulu. Pertama dari sisi hubungan internasional yang dibangun oleh Nabi. Sebagaimana yang kita ketahui, Rasulullah sudah membangun hubungan yang memungkinkan Raja Kisra untuk masuk memeluk Islam. Akan tetapi setelah digantikan anak putrinya, kemungkinan ini tentu menjadi hilang.[iv]

Kedua dari tinjauan geo-politik. Kehidupan Arab yang keras, yang bersuku-suku tentu bertumpu pada kepemimpinan sosok laki-laki tangguh nan keras. Tidak mungkin suatu suku misalnya mau dipimpin oleh perempuan. Karena memang konteks geografi dan sosiologisnya tidak mendukung. Ini kemudian yang menjadi sebab mengapa orang Arab merasa terhina ketika melahirkan anak perempuan dan lalu menguburnya hidup-hidup. Karena perempuan pada masa itu tidak bisa diharapkan menjadi apa-apa kecuali mungkin pemuas nafsu belaka.

Nah, bila konteksnya zaman sekarang, tentu berbeda lagi. Gus Dur pernah mengomentari hadis ini dan tergolong ulama yang setuju bila seorang perempuan menjadi pemimpin politik. Asalkan, kata beliau, dia harus memiliki kharakter dan kemampuan yang memungkinkan dirinya menjadi pemimpin yang bijak dan berpikir jauh ke depan.[v]

Subaltern Can Speak!

“…If, in the context of colonial production, the subaltern has no history and cannot speak, the subaltern as female is even more deeply in shadow...”

___ Gayatri Chakravorty Spivak [1988][vi]

Tesis akhir dari Gayatri C. Spivak dalam salah satu tulisannya “Can Subaltern Speak?” adalah bahwa kaum subaltern tidak pernah [sungguh-sungguh] bisa bicara. Dengan menimbang beberapa langkah yang telah ditempuh dan dibahas pada sub sebelumnya, Gus Dur secara tidak langsung menegaskan bahwa subaltern sangat dimungkinkan untuk berbicara.

Sebutan pembela kaum minoritas menunjukkan bahwa Gus Dur sadar dengan adanya hirarki sosial yang berlanjut pada hirarki pewacanaan. Indonesia sebagai negara yang demokratis, dalam kenyataannya tidaklah seindah yang dikisahkan. Masih banyak cerita-cerita penindasan yang berwarnakan darah. Berita penggusuran di sana-sini layaknya bubur ayam yang disantap orang-orang setiap pagi. Pembunuhan dan penyerangan kaum minoritas menjelma cerita bersambung yang tidak akan pernah hatam, walaupun didongengkan selama seribu malam.

Di sinilah muncul pesimisme, selamanya kaum minoritas akan ditindas. Selamanya, suara-suara ringkih nan samar akan dengan mudah ditepis dan dilupakan. Dekonstruksi, seperti kata Derrida merupakan pekerjaan rumit. Ia harus sigap memberantas pemknaan dominan. Dari saking ketatnya Derrida mengamalkan ajaran dekontruksinya, banyak pihak kemudian mengatakan bahwa dekonstruksi adalah kerja nihilis. Para dekonstruksionis merupakan para intelektual yang bekerja dengan bayang-bayang dan tipu muslihat.[vii]

Sepertinya pesimisme turunan inilah yang diwariskan dalam benak Gayatri Spivak. Tapi hal itu tidak terjadi dalam diri seorang Abdurrahman Wahid. Optimisme selalu menjadi kharakter kuat yang membedakannya bahkan dengan teoritikus poskolonial sekaliber Gayatri. Dikenal sebagai orang yang tidak kenal takut, Gus Dur semasa hidupnya selalu memperjuangkan persamaan hak-hak kaum minoritas. Optimisme ini pada akhirnya membuahkan hasil ketika beliau mengesahkan konghucu sebagai salah satu agama resmi di Indonesia. Kaum subaltern konghucu pun kini dapat berbicara. Orang-orang keturunan tionghoa itu kini merasakan hal yang sama dengan orang asli Indonesia.

Hal itu juga terjadi ketika Gus Dur mendongkrak pesantren untuk turut eksis dalam pewacanaan yang ada. Beliau membuktikan bahwasanya santri bukan hanya orang yang diciptakan hanya untuk menjadi imam atau memimpin tahlil semata. Dengan konsumsi buku-buku kiri sejak kecilnya, Gus Dur kemudian mempunyai pandangan khas yang tidak dimiliki tokoh-tokoh lainnya. Kharakter inilah yang turut menjadikan beliau sebagai presiden pertama Indonesia yang lahir dan besar di pesantren.

Selain berbicara tentang agama, kebudayaan dan negara, Gus Dur juga sering menjadikan pesantren sebagai fokus pengamatannya.[viii] Bahkan, dengan berani beliau mengkritik ketika pesantren menganut pandangan konservatif yang memandang negatif pada segenap bentuk pembaharuan. Dengan posisinya sebagai kiai, santri, pejabat pemerintahan dan budayawan, Gus Dur menampilkan pesantren dalam semua kursi yang didudukinya. Dalam kebudayaan misalnya, Gus Dur mencontohkan santri jawa sebagai agen kebudayaan yang dengan cerdik menemukan jalan alternatif ketika agama bertubrukan dengan kebudayaan yang ada. Atau ketika Gus Dur sering menggambarkan bagaimana para sunan mengawal dan mengolah hibridasi kebudayaan dengan kreatif. Sehingga dalam pesantren dikenal tradisi pewayangan dan adat-adat jawa lainnya.

Lain halnya dengan permasalahan perempuan, Gus Dur memulainya dengan menegaskan bahwa perempuan boleh menjadi pemimpin. Berulang kali Gus Dur memaparkan alasan diperbolehkannya perempuan duduk bahkan dalam kursi kepresidenan. Gus Dur meninjaunya dari dua arah: historis dan sosio-antropologis. Sebagai seorang kiai, Gus Dur juga akrab dengan dalil ayat dan hadis yang menerangkan ketidakbolehan perempuan menjadi pemimpin. Menurut pandangan beliau, dua dalil di atas memiliki konteksnya tersendiri. Disamping, perempuan sekarang sudah memiliki akses yang memungkinkan mereka untuk berpotensi sebagaimana laki-laki.[ix]

Beberapa kasus di atas, di tangan ajaib Gus Dur, menjadi satu contoh bagaimana kaum minoritas juga patut dihargai dan diberikan kedudukan yang sama. Tidak ada lagi alasan bagi segala macam pembungkaman, segalam macam dominasi yang menghegemoni.

Dari Pribumisasi Islam Menuju Islam Nusantara

Dengan begitu pribumisasi Islam merupakan misi kebudayaan yang berbeda dengan misi-misi kebudayaan serupa lainnya.[x] Pribumisasi Islam mengandaikan keterbukaan ruang hibridasi dan memungkinkan pertarungan-pertarungan wacana terjadi. Dengan semangat menjaga tradisi dan keterbukaannya terhadap budaya lainnya, primbumisasi Islam memberikan satu trik untuk sama-sama menjaga keduanya secara porposional. Secara ringkas, Gus Dur dengan pribumisasi Islam-nya hanya berusaha mengaktualisasikan konsep “al-muhafadzatu ‘ala qadimi-s-shalih, wa-l-akhdzu bi-l-jadidi-l-ashlah” secara nyata.

Untuk menakar sejauh mana konsep primbumisasi Islam bersinergi dengan semangat poskolonial, terlebih dahulu akan diberikan gambaran beberapa kasus yang sering ditunjukkan Gus Dur dalam berbagai tulisan yang ada.

Pertama adalah tradisi ludruk yang berkembang pesat di daerah Jawa Timur.[xi] Banyak pihak yang mempertanyakan, bagaimana bisa ludruk sebagai tradisi yang kental dengan sarat erotisme dan kejorokannya dapat muncul dan berkembang di daerah agamis yang mayoritas penduduknya adalah santri seperti Jawa Timur. Untuk kasus ini Gus Dur menjelaskan secara historis bagaimana primbumisasi terjadi antara kebudayaan jawa yang masih ada dengan tata nilai yang dipegang teguh oleh penduduk santri Jawa Timur. Dalam konteks poskolonial, kasus ini dinamakan hibriditas kebudayaan.[xii] Hubungan di antara keduanya putus-putus, menandakan suatu hubungan yang ambivalen.[xiii] Dengan garis putus-putus itu pula negoisasi dimungkinkan terjadi secara dekontruktif.[xiv]

Hal ini dimulai dari kedatangan Islam di Jawa Tengah. Saat itu, pusat peradaban jawabisa dikatakan berada di daerah ini, ditunjukkan dengan dua kekratonan besar; Yogyakarta dan Surakarta. Otomatis, Islam kemudian mengambil sebagian adat jawa untuk menjadi sarana bagi proses Islamisasi. Arsitektur bangunan jawa yang masih dipengaruhi budaya Hindu-Budha dan seni pewayangan adalah dua hal yang banyak menjadi fokus garapan walisongo. Para kiai waktu itu tetap menikmati pertunjukan wayang walaupun dalam dirinya terdapat pertarungan ideologis yang cukup dilematis. Dengan “pura-pura” berpartisipasi, para tokoh agama turut menikmati hal tersebut.

Akan tetapi hal ini tidak terjadi di Jawa Timur yang secara geografis cukup jauh dari pusat peradaban jawa di Jawa Tengah. Ditambah dengan kultur kesantrian yang mengental karena dibangun oleh beberapa pesantren besar seperti Tebuireng asuhan Kiai Hasyim Asy’ari. Dari ketegangan budaya inilah kemudian para santri membentuk satu kesenian anternatif dengan pemain laki-laki untuk menggantikan pemain perempuan dalam aturan permainan asli karena sisi “haram” dalam ideologi mereka sebagai seorang pelajar agama. Karena dirasa kurang menarik, muncu alterntif lainnya sebagai bentuk kelanjutan proses primbumisasi, yaitu pewajahan perempuan atas para pemain laki-laki. Dari sini, ludruk muncul dan mulai dikenal.

Dari contoh kasus ini terlihat bagaimana pertarungan kebudayaan jawa dengan tata nilai agama diselesaikan secara kreatif oleh para santri. Dua sisi yang bertentangan baik secara ideologis maupun normatif itu diberikan posisi yang sama dan setara sehingga kontestasi yang terjadi berjalan produktif. Kalaupun Hommi K. Babha menteorikan adanya ruang ketiga, dalam diri Pribumisasi Gus Dur lah teori itu mendapatkan penerapan aplikatifnya.

Dengan mengacu pada dua aforisma sebelumnya: “al-muhafadzatu ‘ala qadimi-s-shalih, wa-l-akhdzu bi-l-jadidi-l-ashlah” dan “…mengokohkan kembali akar budaya kita, dengan tetap berusaha menciptakan masyarakat yang taat beragama”, pibumisasi menjadi satu bentuk nyata yang sangat khas kalau kita ingin berbicara tentang diskursus poskolonial.

Pertama, dalam perjalanannya menemukan identitas, pribumisasi tetap berpijak pada tanah di mana dia dilahirkan. Dalam hal in, tradisi menjadi penting sebagai sebuah warisan hidup, bukan hanya artefak mati yang pantas dimuseumkan. Mengapa? Karena dalam tradisilah kita bisa menemukan lintangan kesinambungan antara masa lalu-masa kini dan masa depan.

Kedua, pengukuhan terhadap tradisi tidak lalu berujung pada sikap konservatif yang anti pada pembaharuan dan modernisasi. Ia tetap membuka pintu lebar dan menyediakn ruang bagi segenap kebudayaan yang masuk dan keluar untuk melakukan negoisiasi-negosiasi kultural. Dengan begitu, sebagai “haki”,[xv] tradisi menjadi dzat ad-dakhily yang mutlak dipegang, dikuasai dan dikokohkan. Adapun kebudayaan-kebudayaan luar hanya berfungsi sebagai materi pengkayaan terhadap dzat tradisi yang sudah dikembakbiakkan.[xvi]

Contoh manusia yang memiliki dua sisi secara paripurna di atas adalah kiai. Dalam masalah haki, seorang kiai dipastikan memiliki satu aura yang menjadikannya dipatuhi oleh semua santri dan masyarakat sekitar. Dalam lingkup pesantren, kiai merupakan unsur utama bagi perkembangan dan kemajuan.[xvii] Kharisma seorang kiai, dalam kasus di pesantren-pesantren Jawa Timur, bahkan sampai berasimilasi dalam segenap hal yang berhubungan dengan kiai tersebut. Misalnya, ketika ada mobil kiai, tanpa perlu tahu apakah kiai ada di dalam mobil atau tidak, dengan otomatis seorang santri akan menghormati mobil itu sebagaimana dia menghormati kiai.[xviii]

Inilah pribumisasi. Bentuk nyata dari semangat kiai dan santri untuk membangun negeri.

Catatan Akhir:

[i] al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, h. 1259.

[ii] Abu Isa Muhammad bin Isa at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi (Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 1988), ji. 4, h. 97.

[iii] al-Qasthalani, Irsyadu al-Sari li Syarhi Sahih al-Bukhari, jil. 6, h.  460

[iv] Badruddin al-Aini al-Hanafi, ‘Umdah al-Qari fi Syarhi Sahih al-Bukhari, jil. 19, h. 237.

[v] Pendapat ini didapatkan dari penjelasan KH. Abdurrahman Wahid pada pengajian kitab “Qathr al-Nada wa Ball al-Shoda” selama bulan suci Ramadlan 1424 H di Pesantren Ciganjur. Baca hasil transkrip pengajian ini: Abdurrahman Wahid, Misteri Kata-Kata (Jakarta: Pensil-324, 2010), h. 24-28.

[vi] Bill Ashcroft, Gareth Griffiths and Helen Tiffin, The Post-Colonial Studies Reader (London & New York, Routledge, 1995), hal. 28.

[vii] Muhammad al-Fayyadl, Derrida (Yogyakarta: LKiS, 2011), hal. 9.

[viii] Salah satunya adalah: Abdurrahman Wahid, Pesantren Sebagai Subkultur, dalam Abdurrahman Wahid, Islam Kosmopolitan: Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan (Jakarta: The Wahid Institute, 2007), hal. 88-120.

[ix] Selengkapnya baca: Abdurrahman Wahid, Misteri Kata-Kata (Jakarta: Pensil 324, 2010), hal. 24-28.

[x] Seperti Islamisasi yang diusung Nurcholis Madjid atau Modernisasi yang diusung kelompok liberal. Baca: Ahmad Baso, NU Studies, hal. 266-311.

[xi] Tentang proses kemunculan ludruk, baca: Abdurrahman Wahid, Kiai Nyentrik Pembela Pemerintah (Yogyakarta: LKiS, 2000), hal. 1-6.

[xii] Istilah hibriditas dipopulerkan oleh Hommi K. Babha. Maksudnya adalah sebuah proses penyingkapan yang dilakukan oleh seorang bumiputera untuk mengurai keanekaragaman bentuk wacana kolonial yang bersembunyi di balik topeng penunggalan. Baca: Bill Ashcroft, Gareth Griffiths and Helen Tiffin, Key Concept in Post-Colonial Studies (London & New York: Routledge, 1998), hal. 118-121.

[xiii] Pengertian ambivalen, baca: Bill Ashcroft, Gareth Griffiths and Helen Tiffin, Key Concept in Post-Colonial Studies, hal. 12-14. Atau: Mudji Sutrisno (ed.), Hermeneutika Pascakolonial (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hal. 173.

[xiv] Dekonstruksi memaksudkan adanya penundaan hubungan antara signifier dan signified. Hubungan arbitrer yang menyatukan keduanya, dalam pandangan Derrida, selalu meniscayakan adanya keterbungkaman atas suara-suara yang terpinggirkan. Oleh karena itu, dominasi wacana semacam ini harus selalu ditunda dengan menunda dan mengisi hubungan “putus-putus” antara penanda dan petanda. Baca: Muhammad al-Fayyadl, Derrida, hal. 29-61. Roland Barthes dalam periode akhir intelektualnya juga melakukan penundaan serupa. Yang pada awalnya dia masih fokus pada struktur bahasa, pada akhirnya dia mengalihkan pandangan pada sisi “desire” yang dia masukkan sebagai bentuk penundaan hubungan antara penanda-petanda. Dari sana muncullah kenikmatan tekstual. Lihat: Roland Barthes, The Pleasure of the Text (London: Jonathan Cape, 1976).

[xv] Ada tiga jenis haki: hou shoku no haki, bonshou shoku no haki dan kenbun shoku no haki. Haki adalah “aura penguasa” yang hanya bisa dimiliki para bajak laut yang memiliki konsistensi, kemauan keras dan pergumulan panjang dengan berbagai masalah yang kemudian menjadikannya lebih bijak dalam mengambil keputusan. Baca: Eichiro Oda, One Piece (Japan: Manga, 1993).

[xvi] Kemampuan-kemampuan material bisa dicontohkan dengan keterampilan bertarung, menggunakan senjata dan memanfaatkan kekuatan buah setan. Ibid…

[xvii] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia (Jakarta: LP3ES, 2011), hal. 93. Bahkan, dalam banyak kasus, sebuah pesantren mengalami degradasi ketika sang kiai pendiri wafat, sedangkan penerusnya tidak mampu mengimbangi kharisma yang dimiliki orang tuanya tersebut. Baca: Abdurrahman Wahid, Pesantren Sebagai Subkultur, hal. 100-101.

[xviii] Pengalaman penulis semasa nyantri di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo Jawa Timur 2005-2011. Tapi tradisi semacam ini kurang penulis dapatkan ketika nyantri di Pondok Pesantren Mazro’atul Ulum Damaran Kudus 2011-2012 dan Pondok Pesantren Darus-Sunnah Jakarta 2012-sekarang.

REKOMENDASI

Muktamar NU 17 di Madiun, Upaya NU Membendung Pergerakan PKI Dan Agenda Pendirian Negara...

Harakah.id – Upaya NU membendung pergerakan PKI sudah jauh dilakukan sebelum pecahnya tragedi pemberontakan Madiun tahun 1948. Dengan melaksanakan Muktamar NU...

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...