fbpx
Beranda Tokoh Gus Dur Sebagai Mufassir

Gus Dur Sebagai Mufassir [1]

- Advertisement -

Di Indonesia, tak sedikit orang yang menganggap Kiai Abdurrahman Wahid [Gus Dur] sebagai fenomena yang merisaukan. Tak lain, karena sikap dan berbagai struktur logika di balik keputusan yang beliau perlihatkan selalu sudah ditangkap dan dipahami nalar standart orang Indonesia. Dari ketidakmampuan memahami Gus Dur inilah kemudian kritik dan tanggapan negatif bermunculan.

Di sisi lain, bagi sekelompok orang, Gus Dur tak ubahnya seorang wali yang segala tindak tanduknya hanya bisa disikapi dengan kata “iya”. Sakralisasi pemikiran dan keyakinan bahwa Gus Dur adalah orang yang paham akan “apa yang terjadi di masa depan” adalah salah satu bentuk peng-“iya”-an tersebut. Walaupun, secara rasional beberapa tindakan yang dipilih Gus Dur tidak sesuai dengan pola pikir mereka. Tapi mau bagaimana lagi? Sebagai cucu Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari dan putera Kiai Wahid Hasyim, Gus Dur tetap mendapatkan kepercayaan kaum santri sebagaimana kepercayaan mereka kepada seorang kiai. “Ini masalah barokah”.

Salah satu yang menjadi ciri bagi segumpalan pemikiran Gus Dur yang tersebar di berbagai lembar tulisan adalah idenya tentang pribumisasi Islam. Yaitu bagaimana manusia, khususnya warga indonesia menganggap dan memposisikan agama Islam sebagaimana mereka memposisikan tanah dan air sebagai dua sumber kebutuhan yang tidak bisa mereka nisbikan. Bagaimana Islam mengejawantah tak ubahnya embun yang meloncat-loncat dari satu daun padi ke daun padi lainnya yang bergoyang-goyang karena angin pagi yang cukup kencang, yang sedikit demi sedikit membiaskan warna kekuningan sebagai tanda bahwa padi akan panen dan pak tani berbahagia akan mendapatkan segudang beras dan segepok uang. Bagaimana Islam kemudian melebur bersama para cacing, bekerja sama menyuburkan tanah nusantara yang hijau menzamrud khatulistiwa dari bujur hingga lintang.

Dengan pribumisasi Islam Gus Dur hendak “mengaburkan” konsep Islam yang sudah terlalu “terbakukan”. Beliau ingin melakukan relativisasi [red: primbumisasi] terhadap suara-suara dominan yang meneriakkan kata Islam kencang-kencang; suara-suara yang membungkam ke-universal-an Islam itu sendiri. Absolutisasi pemaknaan Islam inilah yang dipandang Gus Dur menjadi sumber bagi segala macam kekerasan yang terjadi, baik dalam lingkup entik, kebudayaan, terutama agama. Garis demarkasi berupa oposisi biner, sebagai akibat pelembagaan makna Islam di atas, dalam pikiran Gus Dur, harus lekas dirobohkan.

Untuk menuju hal itu, Gus Dur pun mengampanyekan toleransi dan pluralisme sebagai bentuk perhatian sekaligus perlindungan bagi kelompok-kelompok terpinggirkan. Kelompok minoritas diberi kesempatan berbicara. Dengan membuka toleransi, Gus Dur membentuk “ruang ketiga”, di mana kontestasi dan negoisasi kebudayaan diadu dengan jantan. Sayangnya, dengan kampanye ini sebagian orang justru memasukkan Gus Dur ke dalam golongan yang mereka cap “liberal”. Apakah benar memang begitu? Ternyata tidak. Gus Dur tetaplah Gus Dur, sesosok kiai yang dicintai warganya. Seorang tokoh yang dicintai para kiai dan kalangan pesantren walaupun dalam prakteknya Gus Dur terlibat aktif dalam kegiatan agama-agama lainnya.

Kecintaan Gus Dur terhadap tradisi yang mengasuh dan membesarkannya merupakan salah satu gerakan postradisionalisme yang patut kita dudukkan sebagai wacana tandingan sekaligus benteng kokoh terhadap masuknya kolonialisme dalam bentuk terhalusnya. Dengan kecintaan terhadap tradisi itulah Gus Dur lekat dalam ingatan Indonesia, bukan sebagai kafir haram jadah, akan tetapi sebagai seorang Kiai, Ulama dan Guru Bangsa.

Ghazalian Sejati: Menelusuri Akar Pemikiran Gus Dur

Walaupun tidak ada data otoritatif yang mengatakan bahwa pemikiran Gus Dur dibentuk banyak oleh cara berpikir Imam al-Ghazali, setidaknya hal itu dapat kita terka dengan melihat segenap tindak tanduk yang sudah Gus Dur tampilkan selama ini. Asumsinya adalah, semua sikap yang lahir dari cara berpikir beliau yang unik, ternyata masih memilii kesinambungan epistem dengan Imam al-Ghazali.

Mengapa Imam al-Ghazali? Tidak ada jawaban yang pas. Atau lebih tepat, tidak ada jawaban sistematis yang bisa menjawabnya dalam satu rangkai kalimat saja. Karena, bagi Gus Dur atau Nahdliyyin secara umum, Imam al-Ghazali tak ubahnya sumber inspirasi di mana mereka menyandarkan segenap prilaku, baik yang terkait dengan cara-cara beribadah atau berinteraksi sosial, baik disadari atau tidak. Inilah yang menjadi sebab mengapa kitab-kitab karya Imam al-Ghazali begitu laku di Nusantara dan menjadi konsumsi primer para santri selama ini.

Saya tidak akan terlalu banyak membahas panjang lebar mengenai pola berpikir Imam al-Ghazali. Saya tentu akan lebih fokus melihat Gus Dur dan NU sebagai perwujudan al-Ghazali secara massif-kultural di Indonesia.
Gus Dur adalah putera Kiai Wahid Hasyim, cucu Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari, menantu Kiai Bisri Syansuri[1] dan keponakan Kiai Wahab Chasbullah. Keempat orang tersebut merupakan pionir awal bagi perkembangan NU. Dari sana, kita mendapatkan satu fakta bahwa Gus Dur pun lahir dari kultur NU.

Madzhab adalah sistem yang menjadi ciri khas NU. Dalam khittah nadhliyyah yang ditulis oleh Kiai Ahmad Siddiq, hal itu sangat jelas dimaktubkan.[2] Ini mengindikasikan bahwasanya cara berpikir al-Ghazali sebagai as-syafi’i as-tsani, yang merefondasionalisasi madzhab sunni, sangat mewarna dalam tubuh NU. Karena segala bentuk peribadatan, baik itu yang berkaitan dengan fiqh, akhlaq, tasawwuf sampai filsafat, pasca refondasionalisasi, semuanya bersumber dari asas-asas yang dibangun oleh Imam al-Ghazali.[3]

Strategi-strategi kebudayaan yang diperlihatkan oleh Imam al-Ghazali dalam banyak karyanya itulah yang kemudian menjadi ciri khas dari cara beragama Islamnya orang NU.[4] Bukan hanya itu, strategi politik hingga strategi kebudayaan juga didasarkan pada blue print yang digambar Imam al-Ghazali.[5]

Dalam politik misalnya, hal itu ditunjukkan oleh NU ketika memutuskan keluar dari Masyumi menjelang Pemilu 1955, tepatnya antara bulan Mei dan Agustus 1952. Aktornya tak lain adalah Kiai Wahab Chasbullah, paman Gus Dur. Dari strategi politik ini NU dianggap oportunis yang menggadaikan kesepatakatan organisasi Islam untuk berpolitik dalam satu payung (Masyumi) demi kepentingan pribadinya. Akomodasionisme semacam ini oleh sebagian orang dianggap oportunisme.[6] Tapi ternyata tidak, sikap “plin-plan” ini membawa NU menjadi salah satu dari tiga partai besar yang memenangkan pemilu 1955.[7]

Dalam ranah kebudayaan, NU juga sangat lihai menggunakan trik al-Ghazali. Ini sudah ditunjukkan semenjak kedatangan Walisanga di Nusantara yang kemudian dilanjutkan oleh NU dalam memberlakukan doktrin-doktrin keagamaannya.[8] Terutama ketika doktrin keagamaan tersebut berbenturan dengan adat dan tradisi yang sudah ada. Di sinilah Imam al-Ghazali menjadi krusial karena memiliki strategi negosiasi dan konsolidasi kebudayaan.

Dari sini NU tidak kesulitan ketika diperhadapkan pada satu masalah yang menuntut adanya rekontekstualisasi nash-nash syari’ah dengan kebudayaan yang sedang berkembang. Permasalahan-permasalah klasik seperti imam kafir misalnya[9], ditegaskan oleh NU dengan menggunakan logika agama sebagaimana yang pernah dicontohkan Imam al-Ghazali.

Bersambung…

Catatan Akhir:

[1] Secara khusus Gus Dur menulis biografsi singkat mertua sekaligus pamannya ini. baca: Abdurrahman Wahid, Khazanah Kiai Bisri Syansuri: Pecinta Fiqh Sepanjang Hayat (Jakarta: Pensil 324, 2010).

[2] KH. Ahmad Siddiq, Khittah Nahdliyyah (Surabaya: Kalistha, 2006), hal.47-57.

[3] Hal ini dibuktikan dengan beberapa karyanya yang dianggap sebagai mometum yang membawa perubahan bagi segenap unsur dalam Islam. Karyanya Maqashidu-l-Falasifah dan Tahafutu-l-Falasifah yang membawa momentum bagi filterisasi filsafat Yunani. Mi’yaru-l-Ilmi sebagai bentuk pemilahan unsur-unsur sekaligus internalisasi manthiq. Al-Mushtashfa sebagai momentum perubahan pola berpikir ushuly. Dan Ihya’ Ulumiddin sebagai momentum pengembalian unsur tasawwuf dalam fiqh yang kala itu menggumpal sebagai hukum yang positivistik. Baca: Muhammad Abed al-Jabiri, “Fikr Imam al-Ghazali: Mukawwinatuhu wa Tanaqudlatuhu” dalam Muhammad Abed al-Jabiri, Turats wal Hadatsah: Dirasat wa Munaqasyat (Beirut: Markaz Dirasah al-Wahdah al-Arabiyah, 1991), hal. 169-170.

[4] Terutama karya-karya yang ditulis ketika Imam al-Ghazali telah mencapai keilmuannya secara holisitik di rahan tasawwuf. Pada periode ini, sebagian besar karyanya mengandung misi yang sama dengan Ihya’ Ulumiddin. Lihat misalnya tentang signifikansi Jawahiru-l-Qur’an di: Hilmy Firdausy, Kopi, al-Qur’an  dan Sekecup Tuhan di Tepiannya: Sajian Sederhana atas Kitan Jawahiru-l-Qur’an karya Hujjatu-l-Islam Imam al-Ghazali, makalah mata kuliah Ulumul Qur’an di Darus-Sunah IIHS September 2014.

[5] Pola logika politik yang dibangun NU pun merujuk pada pola fiqhy yang menjadi ciri khas mereka. Di tangan kiai NU, fiqh tidak hanya menjadi materi untuk membahas thaharah atau sahnya shalat, akan tetapi lebih canggih lagi, mereka menggunakan itu untuk kebutuhan strategi politik yang ciamik. Baca: M. Ali Haidar, Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia: Pendekatan Fiqh dalam Politik (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994),  hal. 319-324.

[6] Greg Fealy, Ijtihad Politik Ulama: Sejarah NU 1952-1967 (Yogyakarta: LKiS, 2003), hal. 127.

[7] Hilmy Firdausy, Politik “Plin-Plan” Orang Pesantren, dalam Majalah Nabawi edisi 103, (Ciputat: Jumadil Awal-Jumadi Akhir 1435 H), hal. 68-71.

[8] KH. Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangan di Indonesia (Bandung: PT AL-MA’ARIF, 1981), hal. 247-383.

[9] Lihat: Ahmad Baso, Pesantren Studies 4a: Akar Historis dan Fondasi Normatif Ilmu Politik-Kenegaraan Pesantren, Jaringan dan Pergerakannya se-Nusantara Abad 17 dan 18 (Tanggerang Selatan: Pustaka Afid, 2013), hal. 346. Sikap semacam ini sudah ditunjukkan Imam al-Ghazali dalam: Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, at-Tibru-l-Msabuk fi Nashihati-l-Muluk (Beirut: Darul kutub al-Ilmiyyah, 1988).

REKOMENDASI

Muktamar NU 17 di Madiun, Upaya NU Membendung Pergerakan PKI Dan Agenda Pendirian Negara...

Harakah.id – Upaya NU membendung pergerakan PKI sudah jauh dilakukan sebelum pecahnya tragedi pemberontakan Madiun tahun 1948. Dengan melaksanakan Muktamar NU...

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...