fbpx
Beranda Headline Habib Merah Putih Dari Palu dan Syair Kemerdekaannya yang Dahsyat

Habib Merah Putih Dari Palu dan Syair Kemerdekaannya yang Dahsyat

Kalau kita mengenal Nahdlatul ‘Ulama yang berpusat di Jawa, Nahdlatul Watan yang berporos di Nusa Tenggara dan Persatuan Tarbiyah Islamiyyah yang berkembang di Sumatera Barat, maka di Sulawesi Tengah kita memiliki lembaga pendidikan al-Khairat yang didirikan pertama kali oleh Habib Idrus bin Salim al-Jufry.

Habib Idrus bin Salim al-Jufry sendiri merupakan salah seorang keturunan Nabi Muhammad saw. yang lahir di Taris Hadramaut Yaman pada tanggal 15 Maret 1892. Sosok faqih yang akrab disapa Guru Tua ini, selain dikenal sebagai tokoh pendidikan Islam di Sulawesi Tengah, juga dikenal sebagai tokoh nasionalis anti penjajahan yang militan. Kesetiaan dan kekagumannya pada Soekarno, diungkapkan dalam sebuah sya’ir kemerdekaan yang ditulis Habib Idrus tahun 1945.

Lahir dari keluarga ulama di Yaman, kakeknya, Habib Alwi al-Jufry merupakan salah seorang ulama masyhur yang disebutkan oleh Sayyid Abdurrahman al-Masyhur dalam Kitab Bughyatul Musytarsyidin. Kakeknya yang lain, Habib Saqqah adalah seorang faqih yang menjadi qadhi di Yaman. Ayahnya, Habib Salim bin Alwi al-Jufry juga dikenal sebagai allamah yang menguasai banyak bidang keilmuan.

Lingkungan keulamaan ini mengantarkan Habi Idrus hafal al-Qur’an sekaligus mampu mengurai ayat-ayat hukum di dalamnya. Di usia yang sangat muda, kepada ayahandanya, Habib Idrus belajar ilmu agama dasar dan tata bahasa. Tak berhenti di sana, Habib Idrus memulai perjalanan keilmuannya dengan belajar kepada beberapa ulama besar di Yaman; Habib Muhsin bin Alwi Assegaf, Habib Abdurrahman bin Alwi Assegaf, Habib Muhammad bin Ibrahim Bifaqih dll.

Di tahun 1909, bersama sang ayah, Habib Idrus muda berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Kurang lebih 6 bulan Habib Idrus dan sang ayah menetap di Tanah Suci. Waktu ini tidak disia-siakan sang ayah. Habib Idrus muda diajak dan belajar kepada beberapa ulama awliya’ yang tinggal di Hijaz.

Tahun 1916, setelah wafatnya sang ayah, oleh Sultan Mansur Habib Idrus diangkat sebagai mufti dan qadli di Taris Yaman di usianya yang masih 25 tahun. Idealismenya sebagai seorang ulama muda membawanya kepada gaya hidup sederhana dan istiqamah dalam menentang imperialisme Inggris yang saat itu menguasai Yaman.

Perjalanan pertama Habib Idrus ke Indonesia dialaminya tahun 1908 bersama sang ayah. Tujuannya hanyalah menjenguk sang ibu dan kedua saudara kandungnya yang terlebih dahulu pergi ke Indonesia. Di tahun 1922, untuk kedua kalinya Habib Idrus pergi ke Indonesia. Kali ini misinya berbeda. selain untuk bertemu ibu dan saudaranya, imperialisme Inggris yang selama ini ditentangnya menjadikan Habib Idrus menetapkan langkahnya untuk berdakwah di Indonesia.

Awalnya beliau menetap di Pekalongan sambil berjualan batik. Di kota ini Habib Idrus menikah dengan Syarifah Aminah binti Thalib al-Jufri. Setelah itu beliau pindah ke Solo dan di tahun 1926, beliau pindah ke Jombang dan berkenalan dengan Hadratussyeikh Hasyim Asyari. Keduanya menjalin persaudaraan dan keakraban yang sangat erat.

Setelah itu beliau pun hijrah ke Indonesia Timur. Beliau menjelajahi kecamatan Bacan, Jailolo, Morotai, Patani, Weda dan Kayoa di Maluku. Setelah itu beliau juga menjelajahi daerah-daerah di Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Kalimantan dan Irian Barat. Tahun 1929 beliau menginjakkan kaki di Manado dan berkonsolidadi dengan Syeikh Nasar bin Khams al-Amri, seorang pimpinan komunitas Arab di Manado, terkait keinginannya untuk mendirikan madrasah di kota Palu Sulteng.

Di tahun 1930 Habib Idrus pun pindah ke Palu. Tepat pada tanggal 30 Juni, Madrasah al-Khairat resmi berdiri berdasarkan ijin dari pemerintahan Hindia-Belanda saat itu. Namun, hal itu tidak menjadikan al-Khairat bebas. Pengawasan tetap dilakukan pihak penjajah. Bahkan al-Khairat sempat dilarang sewaktu penjajah khawatir terhadap ajaran anti-kolonial sang Guru Tua.

Selama masa hidupnya, Habib Idrus senantiasa berjuang dalam ranah pendidikan dan perjuangan kemerdekaan. Madrasah al-Khairat yang beliau dirikan, selain sebagai media dakwah Islam, juga menjadi pusat perlawanan dan doktrinasi nilai-nilai nasionalisme. Sya’ir yang beliau susun di tahun 1945 dikenal sebagai sya’ir perjuangan sarat nasionalisme. Meskipun lahir dan berdarah Arab, Habib Idrus mengungkapkan cintanya pada Indonesia dengan cara yang sangat luar biasa.

_____________________________

 

Syair Kemerdekaan

راية العز رفرفي في سمآء * أرضها وجبالها خضرآء

Berkibarlah bendera kemuliaan di angkasa * daratan dan gunung-gunungnya hijau

إن يوم طلوعها يوم فخر * عظمته الأبآء والأبنآء

Sungguh hari kebangkitannya adalah hari kebanggaan * orang-orang tua dan anak-anak memuliakannya

كل عام يكون لليوم ذكرى * يظهر الشكر فيها والثنآء

Tiap tahun hari itu menjadi peringatan * muncul rasa syukur dan pujian-pujian padanya

كل أمة لها رمز عز * ورمز عزنا الحمراء والبيضآء

Tiap bangsa memiliki simbol kemuliaan * dan simbol kemuliaan kami adalah merah dan putih

يا سوكارنو حييت فينا سعيدا * بالدواء منك زال عنا الدآء

Wahai Sukarno! Engkau telah jadikan hidup kami bahagia * dengan obatmu telah hilang penyakit kami

أيها الرئيس المبارك فينا * عندك اليوم للورى الكميآء

Wahai Presiden yang penuh berkah untuk kami * engkau hari ini laksana kimia bagi masyarakat

باليراع وبالسياسة فقتم * ونصرتم بذا جائت الأنبآء

Dengan perantara pena dan politikmu kau unggul * telah datang berita engkau menang dengannya

لا تبالوا بأنفس وبنين * في سبيل الأوطان نعم الفدآء

Jangan hiraukan jiwa dan anak-anak * demi tanah air alangkah indahnya tebusan itu

خذ إلى الأمام للمعالي بأيدي * سبعين مليونا أنت والزعمآء

Gandengkan menuju ke depan untuk kemuliaan dengan tangan-tangan * tujuh puluh juta jiwa bersamamu dan para pemimpin

فستلقى من الرعايا قبولا * وسماعا لما تقوله الرؤسآء

Pasti engkau jumpai dari rakyat kepercayaan * dan kepatuhan pada apa yang diucapkan para pemimpin

واعمروا للبلاد حسا ومعنى * وبرهنوا للملا أنكم أكفآء

Makmurkan untuk Negara pembangunan materil dan spiritual * buktikan kepada masyarakat bahwa kamu mampu

أيد الله ملككم وكفاكم * كل شر تحوكه الأعدآء

Semoga Allah membantu kekuasaanmu dan mencegahmu * dari kejahatan yang direncanakan musuh-musuh seteru..

REKOMENDASI

Mertuaku Adalah Bapak Tiriku, Tentang Hukum Pernikahan Besan dan Sebab Mahram Musaharah

Harakah.id - Penyebab lain dari munculnya hubungan mahram adalah akad pernikahan antara suami dan istri. Pernikahan ini membuat masing-masing kedua mempelai...

Syarat Jadi Wali Itu Harus Berilmu, Rekaman Dialog Quraish Shihab Ft. Gus Baha’

Harakah.id - Dalam sebuah talkshow yang dipandu Najwa Shihab, Gus Baha dan Quraish Shibab terlibat dalam dialog yang seru. Salah satu...

Takbiran Setiap Selesai Shalat Fardhu Sampai Penghujung Hari Tasyrik, Bagaimana Hukumnya?

Harakah.id - Mulai sejak Hari Arafah, Kaum Muslimin punya kebiasaan takbiran setiap selesai Shalat Fardhu. Takbiran ini dilakukan sampai selesai Hari...

Download Khutbah Ringkas Idul Adha 2020

Mampu Sholat, Tapi Belum Tentu Mampu Berqurban Allâhu akbar Allahu akbar Allahu akbar la ilaha illallâhu wallâhu akbar, Allâhu akbar wa lillahil hamd... Allahu akbar kabîra wal hamdu lillahi katsîra wa subhanallahi...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Jarang Disampaikan, Ternyata Inilah Keutamaan Beristri Satu dalam Islam

Harakah.id - Sunnah hukumnya bagi laki-laki untuk mencukupkan satu istri saja, sekalipun pada dasarnya ia diperbolehkan untuk menambahnya lagi.

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...