Hadis-Hadis Nabi Yang Memandu Kita Bermedia Sosial Melawan Ghibah, Hoaks, dan Pornografi

0
99

Harakah.idMedia sosial tentunya belum ada di zaman Nabi. Namun perilaku buruk seperti ghibah, hoaks dan pornografi yang dilakukan pengguna media sosial, Nabi sudah mengingatkannya. Berikut ini hadis-hadis berkaitan dengan keburukan ghibah, hoaks, dan pornografi.

Hadis-Hadis Nabi Yang Memandu Kita Bermedia Sosial. Seiring berkembangnya zaman, muncul media sosial yang punya dua sisi berlawanan, positif dan negatif, bagi para penggunanya. Terutama ketika fenomena informasi hoaks menyebar sehingga informasi yang beredar di media sosial tidak sedikit menimbulkan perpecahan.

Media sosial tentunya belum ada di zaman Nabi. Namun perilaku buruk seperti ghibah, hoaks dan pornografi yang dilakukan pengguna media sosial, Nabi sudah mengingatkannya. Berikut ini hadis-hadis berkaitan dengan keburukan ghibah, hoaks, dan pornografi. Berikut ini adalah gadis-Hadis Nabi Yang Memandu Kita Bermedia Sosial Melawan Ghibah, Hoaks, dan Pornografi.

Hadis Tentang Larangan Ghibah

Gibah dalam bahasa Arab berasal dari tiga huruf yaitu: ghain, ya’ dan ba’ yang berarti sesuatu yang tidak nampak. Ghibah menurut istilah para ahli agama adalah membicarakan keburukan atau aib seseorang yang tidak ada dan orang yang dibicarakan tidak senang dengan pembicaraan itu. Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْغِيبَةُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah pernah ditanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan ghibah?” beliau menjawab, “Engkau menyebut tentang saudaramu yang ia tidak sukai.” Beliau ditanya lagi, “Bagaimana pendapatmu jika apa yang ada pada saudaraku sesuai dengan yang aku omongkan?” Beliau menjawab, “Jika apa yang engkau katakan itu memang benar-benar ada maka engkau telah berbuat ghibah, namun jika tidak maka engkau telah berbuat fitnah.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Dalam hadis tersebut, kalimat ‎”Kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang ia tidak sukai” dapat berarti membicarakan dengan ucapan, tulisan, atau isyarat dengan mata, tangan, kepala dan lain-lain yang dia tidak ingin mendengar atau melihatnya. Baik menyangkut agama pihak yang digibahi, dunianya, kepribadiannya, keluarganya, hartanya, atau apa saja yang berhubungan dengannya. Kalimat ini juga menunjukkan bahwa pihak yang digibahi tidak disyaratkan harus hadir di tempat orang yang menggibah. Namun pendapat yang paling kuat, sesuai dengan pendapat ahli bahasa tentang makna gibah, adalah menyebut tentang apa yang dibenci oleh seseorang dalam ketidak-hadirannya.

Perbuatan gibah ini jelas tidak dibenarkan walaupun benar adanya. Karena baru dikatakan gibah kalau aib yang diperbincangkan itu benar dan ada pada orang yang dibicarakan. Inilah yang dimaksud dengan kalimat kana fihi ma taqulu (pada dirinya ada apa yang kamu bicarakan). Namun bila apa yang  dibicarakan itu tidak benar, bukan lagi disebut gibah, tetapi buhtan (fitnah, dusta) karena apa yang dibicarakan tentang orang lain tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Makna ini, sesuai dengan firman Allah dalam Q.S an-nur ayat 16,

وَ  لَوْلَاۤ  اِذْ  سَمِعْتُمُوْهُ  قُلْتُمْ  مَّا  يَكُوْنُ  لَـنَاۤ  اَنْ  نَّـتَكَلَّمَ  بِهٰذَ  ا   ۖ سُبْحٰنَكَ  هٰذَا  بُهْتَا نٌ  عَظِيْمٌ

“Dan mengapa kamu tidak berkata ketika mendengarnya, Tidak pantas bagi kita membicarakan ini. Maha Suci Engkau, ini adalah kebohongan yang besar.” (QS. An-Nur 24: Ayat 16)

Hadis Tentang Larangan Hoaks

Hoaks adalah ketidakbenaran suatu informasi atau sebuah pemberitaan palsu untuk menipu dan mengakali pembaca atau pendengar agar mempercayai sesuatu itu. Terkait hal ini, terdapat riwayat sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Dari ‘Abdullah dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Kalian harus berlaku jujur, karena kejujuran itu akan membimbing kepada kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan memelihara kejujuran, maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah. Dan hindarilah dusta, karena kedustaan itu akan menggiring kepada kejahatan dan kejahatan itu akan menjerumuskan ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan memelihara kedustaan, maka ia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah.'” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi).

Dalam hadis di atas, Nabi SAW menganjurkan seseorang agar berlaku jujur dalam berbagai kondisi. Kejujuran akan membawa kepada kebaikan. Dalam kehidupan sehari-haripun kejujuran menjadi penting mengingat zaman sekarang orang dengan mudahnya menyebarkan berita hoaks (palsu). Seringkali dengan tidak mempertimbangkan akibat pebuatannya tersebut. Nabi SAW sudah mengingatkan bahwa membuat dan menyebarkan berita hoax merupakan suatu sikap dan perbuatan yang sangat tidak terpuji dan akan membawa kepada keburukan. Mengingat demikian besar bahaya yang tersimpan serta dampak yang ditimbulkan, dalam Al-Qur’an Allah memberikan cara menghadapi berita hoaks ini yaitu memakai pinsip “tabayyun”. Dalam Qs. Al-Hujurat ayat 6, dikatakan:

يٰۤاَ يُّهَا  الَّذِيْنَ  اٰمَنُوْۤا  اِنْ  جَآءَكُمْ  فَا سِقٌ  بِۢنَبَاٍ  فَتَبَيَّنُوْۤا  اَنْ  تُصِيْبُوْا  قَوْمًا  بِۢجَهَا لَةٍ  فَتُصْبِحُوْا  عَلٰى  مَا  فَعَلْتُمْ  نٰدِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 6)

Ayat ini merupakan peringatan bagi umat Islam agar melakukan konfirmasi dan berhati-hati akan datangnya berita dari orang-orang fasik yang bermaksud menyesatkan umat Islam. Karenanya, umat Islam dianjurkan untuk mengoreksi datangnya berita dari orang-orang fasik (yang biasa berbuat kerusakan). Hal ini dilakukan sebagai sebuah upaya mengantisipasi datangnya berita hoaks yang akan menyebabkan pertikaian, permusuhan, dan penyesalan (Luthfi Maulana, 2017).

Dalam ilmu hadis, sebuah berita harus disaring melalui proses verifikasi dan penelitian terhadap para pembawa khabarnya (ruwat). Apakah mereka itu tsiqah (diyakini dan terpercaya kredibilitasnya) dan dhabt (diyakini dan terpercaya kapabilitas keilmuan dan ingatannya). Ilmu semacam itu disebut “Takhrij Hadits” atau “Naqd Sanad Hadits”. Dalam menerima berita yang harus diperhatikan ialah siapa yang membawa berita tersebut. Selanjutnya, isi berita seperti apa yang dibawa jika berita itu hoaks atau memuat konten negatif, maka tidak boleh disampaikan kepada siapa pun dan di broadcast atau share di media sosial.

Hadis Tentang Buruknya Pornografi

Pornografi adalah berbagai bentuk sesuatu yang secara visual menghadirkan manusia atau hewan yang melakukan tindakan seksual, baik secara normal ataupun abnormal.

عَنِ ابْنِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ أَنَّ أَبَاهُ أُسَامَةَ قَالَ كَسَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُبْطِيَّةً كَثِيفَةً كَانَتْ مِمَّا أَهْدَاهَا دِحْيَةُ الْكَلْبِيُّ فَكَسَوْتُهَا امْرَأَتِي فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَكَ لَمْ تَلْبَسْ الْقُبْطِيَّةَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَسَوْتُهَا امْرَأَتِي فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْهَا فَلْتَجْعَلْ تَحْتَهَا غِلَالَةً إِنِّي أَخَافُ أَنْ تَصِفَ حَجْمَ عِظَامِهَا

Dari Ibnu Usamah bin Zaid bahwa ayahnya berata: Rasulullah ﷺ mengenakan baju dari Qibti yang tebal padaku yang pernah dihadiahkan kepada Dihyah Al-Kalbi, kemudian saya mengenakannya pada istriku kemudian Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku, “Kenapa kau tidak memakai baju dari Qibti?” saya menjawab: Wahai Rasulullah! saya mengenakannya pada istri saya. Kemudian Rasulullah Rasulullah ﷺ bersabda, “Suruhlah dia untuk mengenakan kain tipis di bawahnya karena saya khawatir (baju itu) memperlihatkan setengah bentuk tulangnya.” (HR. Ahmad)

Dalam hadis ini, Nabi sangat memperhatikan masalah aurat. Aurat adalah anggota badan yang harus ditutup dan harus disembunyikan dari orang yang bukan mahram. Dalam Islam dijelaskan bahwa memperlihatkan aurat adalah suatu perbuatan yang mengarah pada perzinahan. Dan zina secara eksplisit dilarang dalam Islam. Al-Qur’an dengan jelas menyebutkan larangan mendekati zina, dengan ancaman hukuman yang berat. Sebagaimana firman Allah dalam Qs. al-Isra’ [17]: 32. Terjemahnya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”

Media sosial memiliki sisi negatif seperti mendorong masyarakat berghibah, membuat dan menyebarkan hoaks dan pornografi. Nabi SAW memberikan nasihat kepada kita bagaimana cara agar kita bijaksana dalam menggunakan media sosial. Media sosial akan berdampak buruk jika digunakan untuk keburukan seperti menggibah orang, menyebarkan berita hoaks, dan menyebarkan konten-konten yang mengandung unsur pornografi.

Pesan penulis kepada pembaca, mari bijak dalam menggunakan media sosial karena setiap perbuatan akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan allah SWT. Media sosial ini bisa berdampak baik dan buruk kepada kita tergantung kita yang menggunakannya. Mari sebarkan konten-konten positif yang tidak mengandung unsur keburukan seperti ghibah, hoaks dan pornografi. Mari kita menjadi salah satu dari orang yang dikatakan Nabi, “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain” dan media sosial  adalah tempat untuk menyebarkankan kebaikan dan manfaat kepada orang lain. Demikian Hadis-Hadis Nabi Yang Memandu Kita Bermedia Sosial Melawan Ghibah, Hoaks, dan Pornografi.

Artikel berjudul “Hadis-Hadis Nabi Yang Memandu Kita Bermedia Sosial Melawan Ghibah, Hoaks, dan Pornografiini adalah kiriman dari Asraldi, Mahasiswa Prodi Ilmu Hadis UIN Jakarta.