Beranda Keislaman Hadis Hadis yang Menyebutkan Fase-Fase Orang Menjadi Takfiri

Hadis yang Menyebutkan Fase-Fase Orang Menjadi Takfiri

Harakah.id Menjadi pribadi yang gemar mengkafirkan sesama Muslim tidak muncul begitu saja. Ada tahapan dan proses yang panjang. Seperti apa?

Takfiri. Menjadi pribadi yang gemar mengkafirkan sesama Muslim tidak muncul begitu saja. Ada tahapan dan proses yang panjang. Seperti apa? Berikut ulasan Ust. Fahrizal Fadil, mahasiswa Al-Azhar Mesir, asal Aceh.

Al-Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya menyebutkan sebuah hadits yang menerangkan tentang metamorfosis pemikiran golongan takfiri. Hadits ini diriwayatkan dengan sanad yang hasan melalui jalur Hudzaifah bin Al-Yaman, bahwasanya Rasulullah bersabda:

إن مما أتخوف عليكم رجل قرأ القرأن حتى إذا رئيت بهجته و كان ردءا للإسلام غيره الى ما شاء الله، انسلخ منه و نبذه وراء ظهره و خرج على جاره بالسيف و رماه بالشرك. قال: قلت: يا رسول الله، أيهما أولى بالشرك، المرمي أو الرامي؟ قال: لا، بل الرامي.

“Diantara hal yang sangat aku takutkan pada kalian adalah seseorang yang rajin membaca Al-Quran hingga terlihat sangat indah dari luarnya, dan ia sangat semangat membantu agama Islam. Kemudian ia merubah arah maknanya, melepas diri dari Al-Quran, dan melempar apa yang ia telah baca kebelakang punggungnya. Hingga ia keluar ke rumah tetangganya dengan menghunuskan pedang dan menuduhnya melakukan perbuatan syirik. Hudzaifah bertanya: “Wahai Rasulullah, siapa yang lebih berhak mendapatkan stempel syirik, orang yang menuduh atau yang tertuduh?”, Rasulullah menjawab: “orang yang menuduh lebih berhak mendapatkan stempel syirik.”

Syekh Muhammad Ahmad Sa’id Al-Azhari dalam kitabnya Al-Fahmu Al-Mustatir li Ahadits Yahtajju Biha Ahlu Al-Unfi wa Al-Takfir menyebutkan bahwa dalam hadits ini menggambarkan 3 fase yang dilewati orang takfiri, pertama membangun hubungan dengan Al-Quran (al-ittishal), kedua memindahkan haluan makna dari Al-Quran (al-intiqal), dan terakhir melepas diri dari itu semua (al-infishal).

Fase pertama:

إذا رئيت بهجته و كان ردءا للإسلام.

“hingga terlihat sangat indah dari luarnya, dan ia sangat semangat membantu agama Islam.”

Potongan hadits ini gambaran dari fase pertama. Dalam tingkatan pertama ini orang tersebut akan membangun citra yang baik dengan Al-Quran. Menghafal, membaca, memperindah nada, hingga terlihat bahwa ia memang seorang yang Qurani. Masyarakat pun mulai melirik sekaligus tertipu dengan gaya orang tersebut. Mereka membaca Al-Quran tapi hatinya tidak pernah tersentuh dengan cahaya Al-Quran.

Tidak hanya Al-Quran, bahkan ibadah yang lain juga mereka tekuni dengan semangat. Rasulullah menggambarkan, bahwa jika dibandingkan dengan mereka, mungkin kamu akan menganggap ibadah yang kamu lakukan sangat sedikit.

Setelah busuknya niat mereka sudah tertutupi dengan tampilan yang baik, bahaya yang nampak hanya masyarakat yang mulai terambil hatinya oleh mereka. Jangan heran. Al-Quran memang memberikan mereka aura yang terlihat baik meski niatnya buruk. Baca saja hadits yang menjelaskan gambaran orang yang munafiq membaca Al-Qur’an, Rasulullah menyamakannya dengan Raihanah, buah yang wanginya harum namun pahit rasanya. Pada hadits ini juga memberikan gambaran lebih kepada hadits sebelumnya, bahwa meskipun orang yang membaca Al-Quran berniat buruk, tetap ada efek baik yang didapatkan.

Fase kedua:

غيره الى ما شاء الله، انسلخ منه و نبذه وراء ظهره

“Kemudian ia merubah arah maknanya, melepas diri dari Al-Quran, dan melempar apa yang ia telah baca kebelakang punggungnya.”

Tingkatan kedua, orang tersebut mulai berani melewati koridor batas. Ia merubah dan melencengkan makna yang seharusnya ke makna yang sesuai dengan keinginan mereka. Di tingkat pertama mereka hanya menyentuh stuktur (al-mabna) dari Al-Quran, hanya sebatas menghafal dan membaca. Kini ia masuk ke pemahaman ayat (al-ma’na) yang dilencengkan.

Pemahaman yang mengandalkan hawa nafsu berakibat penafsiran yang tidak sesuai dengan apa yang Allah inginkan. Pemahaman para ulama mereka tolak mentah-mentah tanpa ada alasan yang jelas. Dengan ini, mereka menerobos kesepakatan umat, dan mulai terlihat pada diri mereka tanda-tanda kegelapan dan kesesatan.

Kata Syekh Muhammad Ahmad Sa’id, gaya berfikir orang seperti ini ibarat orang yang membaca tentang larangan orang mabuk untuk mendekati shalat, namun hanya sebatas dibaca “Janganlah kamu mendekati shalat… ” namun potongan berikutnya tidak dibaca, yaitu “jangan kamu mendekati shalat sedangkan kamu masih dalam keadaan mabuk.” Sehingga pemahaman yang dilahirkan, janganlah mendekati shalat(?).

Gaya berfikir yang nyeleneh ini juga terlihat pada Abu Nuwas, salah seorang penyair yang hidup pada masa Dinasti Abbasiyah. Saat Abu Nuwas membaca Ayat: “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat.” (QS. Al-Maun 4), ia pun melantunkan dua bait syiir:

دع المساجد للعباد تعمرها # و طف بنا حول خمار ليسقينا

ما قال ربك ويل للألى سكروا # بل قال ربك ويل للمصلينا

“Tinggalkan nama masjid untuk orang yang hobi ibadah agar mereka makmurkan masjid itu, dan kemari bersama kami, kita kelilingi para penuang khamr itu agar mereka menuangkan khamr. Tuhan tidak pernah mengatakan celaka bagi orang yang masuk, tapi Tuhanmu mengatakan: Celakalah bagi orang-orang yang shalat.”

Abu Nuwas sendiri selain dikenal dengan kata-kata mutiaranya yang bijak dan penuh dengan rasa penyesalan dan kezuhudan, nyatanya itu muncul setelah melewati masa kelamnya saat muda. Abu Nuwas ini diceritakan adalah korban broken home hingga ia pun masuk ke hidup yang penuh dengan glamor, atau yang dikenal dalam literasi Arab dengan sebutan gaya hidup Al-Majun. Oleh karenanya, syiir-syiir Abu Nuwas banyak yang bertema Khamriyyah, tema yang menggambarkan kehidupan yang penuh dengan khamr.

Kembali ke tukang mengkafirkan. Gaya nyeleneh dalam memahami ayat diatas adalah gaya orang yang suka mengkafirkan. Hanya mengandalkan satu ayat yang sesuai dengan hawa nafsunya, tanpa menimbang-nimbang dalil yang lain, lalu lahir sebuah hukum yang sebetulnya juga bertabrakan dengan dalil-dalil yang lain.

Fase ketiga:

خرج على جاره بالسيف و رماه بالشرك.

“Hingga ia keluar ke rumah tetangganya dengan menghunuskan pedang dan menuduhnya melakukan perbuatan syirik.”

Setelah mereka mengambil hati masyarakat dengan tampilan religius mereka, kemudian membelokkan pemahaman Al-Quran keluar dari jalan para ulama menuju jalan hawa nafsu, sampailah mereka pada puncak tertinggi sekaligus tujuan mereka: yaitu menuduh syirik dan kemudian menghalalkan darah untuk ditumpahkan.

Syekh Muhammad Ahmad Sa’id Al-Azhari memaknainya dengan fase Al-Intiqal yang artinya berpindah. Dalam fase ini mereka tidak terlihat lagi sebagai orang yang beragama. Agama mana yang mengajarkan untuk menumpahkan darah?!. Semoga Allah jaga kita semua dari fikiran yang semacam ini, hingga kita menemukan ajal.

__

Fahrizal Fadil

Senin, 7 Februari 2022.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...