Beranda Khazanah Hagia Sophia Kembali Menjadi Masjid, Inilah Respon Atas Kekhawatiran UNESCO

Hagia Sophia Kembali Menjadi Masjid, Inilah Respon Atas Kekhawatiran UNESCO

Harakah.id Apabila UNESCO khawatir akan rusaknya Hagia Sophia ketika menjadi masjid, UNESCO juga perlu tahu bahwa orang Islam tentu akan menjaga dan merawat tempat ibadahnya, sebagaimana mereka menjaga dan merawat dirinya sendiri.

Salah satu adegan yang kami ingat dari film “99 Cahaya di Langit Eropa” ialah ketika Hanum dan Rangga mengunjungi gedung tua nan megah bersama kawannya, Fatma Pasha.

Gedung kuno yang menjadi latar adegan tersebut merupakan sebuah museum yang berarsitektur khas Islam. Mencolok dengan adanya kubah besar sebagai atap bangunan dan menara-menara yang menjulang tinggi di sekitar kubah.

Museum yang di dalamnya terdapat kaligrafi-kaligrafi Arab serta lukisan Bunda Maria itu bernama Hagia Sophia. Monumen yang melambangkan kemajemukan masyarakat di daerah permata wilayah Mediterania, Istanbul, Turki.

Tak jauh dari Hagia Sophia sebenarnya juga terdapat bangunan yang tak kalah indah, yaitu Blue Mosque atau Masjid Sultan Ahmed. Tetapi karena latar belakang sejarah yang melekat pada Hagia Sophia begitu dalam, maka ia tetap lebih populer dibanding Blue Mosque.

Terkait mengapa arsitektur Hagia Sophia tampak seperti tempat ibadah orang Islam, alasannya karena memang sebelum menjadi museum, Hagia Sophia merupakan sebuah masjid yang bernama Aya Sofya.

Beberapa kali terjadi perombakan dan alih fungsi dari bangunan tersebut. Mulai gereja katedral, masjid, museum, hingga sekarang menjadi masjid kembali.

Pada awal berdirinya di tahun 537 M, Hagia Sophia merupakan bangunan geraja katedral terdesar di dunia dan menjadi ikon dari kota Konstantinopel, ibukota kerajaan Byzantium.

Ketika pasukan kerajaan Ottoman mampu menguasai Konstantinopel, di bawah komando Sultan Fatih, pada tahun 1453 M bangunan tersebut dialihfungsikan menjadi masjid dengan nama Aya Sofya.

Meski demikian, Sultan Fatih tetap mengizinkan agar masyarakat Ortodoks tetap eksis dan menjalankan ibadah di wilayah kesultanannya.

Masjid Aya Sofya pun sedikit direnovasi untuk menampakkan kesan keislaman di dalamnya. Akan tetapi setelah kesultanan Turki Usmani runtuh dan berubah menjadi Republik Turki, merebaknya paham sekularisme di Turki pun berakibat pada alih fungsi Masjid Aya Sofya menjadi Museum sejak tahun 1935 M, dengan nama Hagia Sophia. Kemudian di masa pemerintahan Recep Tayyip Erdogan, Hagia Sophia diputuskan kembali menjadi masjid pada tanggal 10 Juli 2020.

Menyikapi keputusan Erdogan, UNESCO menyampaikan tanggapan dengan nada kekecewaan melalui laman resmi dan akun media mainstream miliknya. Di bawah payung besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), UNESCO memang bertanggung jawab terhadap kelestarian budaya warisan dunia, termasuk juga Hagia Sophia.

Sebenarnya sah-sah saja apabila UNESCO menyampaikan kekecewaannya, begitu juga sah-sah saja bagi kami untuk menyampaikan jawaban atas kekecewaan UNESCO. Kita tentu kurang paham, sebenarnya apa motif UNESCO menyampaikan kekecewaannya di publik.

Jika alasannya karena UNESCO menganggap bahwa belum ada pemberitahuan sebelumnya, sepertinya kurang wajar apabila negara semaju Turki mengambil langkah gegabah, tanpa pemberitahuan dan meminta pertimbangan. Andai hal itu memang benar, sudah barang tentu UNESCO bisa menempuh cara yang lebih elegan untuk mengingatkan pemerintah Turki.

Sangat pantas apabila pemerintah Turki menghendaki kembalinya Hagia Sophia menjadi masjid, begitu juga apabila dikehendaki untuk dijadikan gereja kembali. Karena latar belakang sejarah sebelum menjadi museum, Hagia Sophia sempat menjadi gereja dan sempat menjadi masjid. Untuk saat ini, mungkin saja Hagia Sophia tampak lebih bermanfaat menjadi masjid daripada sekadar menjadi museum.

Dengan kembalinya Hagia Sophia menjadi masjid, memang berakibat berubahnya peruntukan bangunan tersebut yang menjadi eksklusif. Akan tetapi bukan berarti membuatnya tertutup dari kunjungan semua kalangan. Justru dengan menjadi masjid, bagi siapa saja yang ingin mengunjunginya, tidak butuh untuk merogoh kocek yang dalam.

Berbeda halnya ketika menjadi museum yang biaya masuknya saja dibanderol sebesar 60 lira, atau sekitar 150 ribu rupiah. Bahkan secara tegas Erdogan telah menyampaikan bahwa Hagia Sophia tetap terbuka bagi turis nonmuslim, dan tanpa dikenai biaya tiket sepeser pun.

Apabila UNESCO khawatir akan rusaknya Hagia Sophia ketika menjadi masjid, UNESCO juga perlu tahu bahwa orang Islam tentu akan menjaga dan merawat tempat ibadahnya, sebagaimana mereka menjaga dan merawat dirinya sendiri. Sehingga sangat kecil kemungkinan apabila kembalinya Hagia Sophia menjadi masjid akan menjadi penyebab warisan budaya tersebut usang dan tak terawat.

Untuk masalah biaya perawatan masjid, UNESCO pun tak perlu khawatir. Secara realistis, Hagia Sophia tentu akan mendapatkan kucuran dana dari pemerintah Turki. Karena tak mungkin pemerintah membiarkan bangunan yang penuh sejarah itu menjadi bangunan yang hanya tinggal nama.

Hal itu memang perlu dilakukan pemerintah Turki, sebagai bentuk tanggung jawab dan pembuktian bahwa keputusan pemerintah bukan sekadar keputusan yang bersifat egosentris.

Kalau pun memang pemerintah Turki menyerahkan pengelolaan masjid sepenuhnya kepada masyarakat sebagai pengelola, secara simpel, infaq masjid Hagia Sophia hampir tak mungkin kurang untuk membiayai biaya perawatan.

Kami hanya menyampaikan pandangan kami dari kacamata masyarakat awan. Andai pun ada motif politis di balik penetapan Hagia Sophia menjadi masjid, atau ungkapan kekecewaan UNESCO, biar disampaikan oleh yang lebih berkompeten.

Selebihnya, kita hanya bisa berharap semoga keputusan dialihfungsikannya Hagia Sophia menjadi masjid merupakan keputusan yang paling tepat.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...