fbpx
Beranda Gerakan Haji “Merah” Misbah, Seorang Dai Propagandis Tokoh Kunci SI Merah/PKI yang Sangat...

Haji “Merah” Misbah, Seorang Dai Propagandis Tokoh Kunci SI Merah/PKI yang Sangat Anti Kapitalis

Harakah.idHaji “Merah” Misbah adalah salah seorang tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia di tahun 1920-an. Meskipun seorang haji dan kaum pesantren, Haji Misbah tetap memiliki pemikiran yang progresif dan sangat anti kepada praktek penindasan rakyat kecil.

- Advertisement -

Darmodiprono, nama asli Haji Muhammad Misbah, lahir di Kauman Surakarta tahun 1876. Bapaknya dikenal sebagai agamawan yang saleh dan pejabat keraton. Selain itu, ia juga merupakan pengusaha batik yang cukup kaya di Surakarta. Di masa kanak-kanaknya, selain bersekolah di Sekolah Bumiputera Ongko Loro, Haji Misbah kecil juga belajar ilmu agama di pesantren. Lingkungan keluarga ningrat dan elit tidak serta merta membuat Misbah kecil jauh dari realitas kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Sebelum aktif di Inlandsche Journalisten Bond (IJB) bentukan Mas Marco Kartodikromo pada tahun 1914, kepekaan sosial Misbah mudah sebenarnya sudah terasah dengan baik. Lingkungan pesantren yang sosialis dan kedekatannya dengan situasi masyarakat kecil menempa mentalitas dan visi pergerakan yang kelak akan membentuk model perjuangan Haji Misbah.

Setelah bergabung dengan IJB, di tahun-tahun setelahnya Haji Misbah terlibat dalam penerbitan majalah-majalah propaganda seperti “Medan Moeslimin” di tahun 1915 dan “Islam Bergerak” di tahun 1917. Di tahun-tahun ini Haji Misbah banyak berkomunikasi dan berkenalan dengan tokoh pergerakan nasional lainnya, seperti Kiai Haji Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.

Keaktifannya menulis dan menuangkan gagasan dalam “Medan Moeslimin” dan “Islam Bergerak” turut mengasah kemampuan retorika dan caranya menangkap hati orang. Terbukti pada tahun 1919, Haji Misbah membuat semacam karikatur sarkastik di “Islam Bergerak” yang menyindir Pemerintah Belanda yang kapitalis dan suka menindas rakyat. Selain itu, Haji Misbah juga mengkritik Kekeratonan dan Sultan Pakubuwana yang dianggapnya pro kolonial dan pro kapitalis.

Propaganda Haji Misbah dalam “Islam Bergerak”, menurut amatan sejawaran, ternyata mampu menggerakkan aksi mogok yang diinisiasi oleh petani di beberapa perkebunan Belanda pada April 1919. Kritik dan propaganda yang sangat vokal dari Haji Misbah membuatnya masuk dalam daftar buruan pemerintah kolonial. Satu bulan setelahnya, Haji Misbah ditangkap dan dibui atas tuduhan penistaan setelah melakukan ceramah di sebuah kring perkebunan Belanda bersama belasan petani yang mengagendakan perlawanan.

Penangkapan Haji Misbah tidak berlangsung lama. Pada 22 Oktober 1919 dia dilepaskan berkat konsolidasi dan lobi politik yang dikerjakan kawan-kawannya di Sarekat Islam. Penjara tidak membuat Haji Misbah gentar. Agenda dan pergerakan politiknya semakin radikal. Kebencian kepada kolonial dan kaum kapitalis semakin menggebu-gebu.

Haji Misbach kembali lagi memulai aktivitasnya sebagai propagandis Insulinde sekaligus sebagai muballigh SATV (Siddiq Amanah Tabligh Vatonah).  Haji Misbah berdakwah dan berorasi di perkebunan-perkebunan tebu dan tembakau Kasunanan dengan kring Surakarta sebagai pos terdepan. Dalam berbagai tulisan dan propagandanya, Haji Misbach selalu mengulang-ulang kata kunci: “Jangan kuatir!” atau “Jangan takut!”. Dua slogan dan tagline yang menjadi ciri khas dakwah dan propaganda Haji Misbah di tengah-tengah masyarakat.

Tak menunggu waktu lama bagi Haji Misbah untuk kembali diburu dan dijebloskan ke dalam penjara. Pada Mei 1920, Haji Misbah kembali ditangkap dan dipenjara di Pekalongan. Selama kurang lebih 2 tahun 3 bulan Haji Misbah membekap dalam penjara. Haji Misbah dibebaskan kembali pada 22 Agustus 1922. Haji Misbah kembali ke rumahnya di Kauman dengan penyambutan yang luar biasa. Haji Misbah disebut-sebut sebagai Prajurit Islam dan diperlakukan bak pahlawan.

Penjara tampaknya telah menempa Misbah menjadi pribadi yang baru. Haji Misbah semakin revolusioner. Selama dalam tahanan dia banyak bersosialisasi dengan para aktivis Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV), embrio Partai Komunis Indonesia (PKI). Dari dalam penjara Misbach mulai mengenal Marxisme. Pasca keluar dari dalam penjara, suara Haji Misbah semakin lantang, sinar matanya semakin menyalak dan jiwa revolusionernya semakin menerabas ke mana-mana.

Berdasarkan penelusuran Ruth T. McVey dalam The Rise of Indonesian Communism (1965), setelah bebas dari penjara  tahun 1922, Haji Misbach dan para pendukungnya berhasil mengambil alih Medan Moeslimin dan Islam Bergerak. Di sanalah ia memulai fase baru yang dengan lantangnya menyuarakan sikap penentangan serta perlawanan kepada kapitalisme dan kolonialisme.

Perubahan visi dan misi Haji Misbah membuatnya semakin tidak cocok dengan Muhammadiyah maupun Sarekat Islam yang menurutnya anteng-anteng saja. Tak lama setelah keluar dari penjara, Haji Misbah pun keluar dan mendirikan SI Merah bersama beberapa kader muda Sarekat Islam yang radikal dan progresif. Dalam organisasi ini, Haji “Merah” Misbah dan kawan-kawan melawan dominasi SI Putih. SI Merah lambat laun berkembang dan mengevolusi diri menjadi Partai Komunis Islam. Selain Haji Misbah, Semaoen dan Tan Malaka turut memegang peran dalam SI Merah ataupun PKI.

Di tahun 1923, peran sentral Haji Misbah sebagai propagandis SI Merah/PKI semakin jelas. Haji Misbah selalu menyebarkan gagasan bahwa ajaran atau doktrin agama adalah ajaran yang sangat pro keadilan. Ajaran agama juga sudah sepatutnya diejawantahkan menjadi sikap antipati dan agenda perlawanan terhadap kolonialisme dan kapitalisme. Dalam setiap pertemuan dan orasinya, Haji Misbah selalu menyebarkan semangat revolusi Islam. Haji Misbah juga sempat naik podium untuk berorasi dalam kongres PKI/SI di Bandung dan Sukabumi pada Maret 1923.

Pada tanggal 20 Oktober 1923, Haji Misbah kembali dijebloskan ke penjara. Ia ditangkap dan dibui karena tuduhan terlibat sebagai otak dalam aksi-aksi pembakaran bangsal, penggulingan kereta api, pengeboman dan aksi pemberontakan lainnya. Setelah dibebaskan, tak lama dari sana, Haji Misbah kembali ditangkap pada Juli 1924. Haji Misbah ditangkap, lagi-lagi, karena ditengarai sebagai otak dan aktor di balik aksi pemogokan-pemogokan dan teror-teror serta praktek sabotase di Surakarta dan sekitarnya. Ia pun dibuang bersama keluarganya ke Penindi Manokwari.

Di Manokrawi, Haji Misbah terserang malaria dan meninggal di pada 24 Mei 1926 dan dimakamkan di kuburan Fanindi, Manokwari, di samping kuburan istrinya.

Hidup dari satu penjara ke penjara lainnya, Haji “Merah” Misbah menjadi model tokoh agama yang revolusioner, pro rakyat kecil dan progresif. Haji Misbah rela meninggalkan kehidupan ningratnya yang nyaman dan dengan penuh kesadaran pergi ke tengah-tengah perkebunan untuk membakar kesadaran rakyat yang tertindas. Haji Misbah rela dirinya dipenjara berulang kali sampai mati selama rakyat bisa diupayakan bebas dari segala praktek penghisapan dan penindasan.

REKOMENDASI

Mbah Maimoen Zubair, Ulama Pakubumi yang Lahir Bersamaan Dengan Pekikan Sumpah Pemuda 1928

Harakah.id - Mbah Maimoen Zubair al-maghfurlah adalah salah seorang ulama pakubumi yang lahir bertepatan dengan Sumpah Pemuda. Selama hidupnya, Mbah Maimoen...

Bukan Untuk Diperdebatkan Haram-Halalnya, Maulid Nabi Adalah Momentum Meniru Keteladanan Muhammad

Harakah.id - Maulid Nabi sebenarnya adalah momentum berharga untuk meniru dan belajar dari keteladanan Nabi Muhammad. Maulid Nabi bukan justru waktu...

Kiai Abbas Di Pertempuran Surabaya 1945, Dari Membentuk Telik Sandi Sampai Menghancurkan Pesawat Dengan...

Harakah.id - Kiai Abbas di pertempuran Surabaya 1945 tidak hanya berperan sebagai pasukan, tapi juga komandan dan perumus strategi perlawanan. Selain...

Felix Siauw, Buku Muhammad Al-Fatih 1453 dan Kedaulatan Negara dalam Bayang-Bayang Bahaya Eks HTI

Harakah.id - Felix Siauw kembali membuat negeri ini heboh. Heboh sebab pembatalan surat edaran Dinas Pendidikan Bangka Belitung (Disdik Babel) yang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...