Haji Tahun Ini Dibatalkan, Tapi Tenang! Berikut Amalan Setara Haji yang Bisa Dilakukan Sebagai Gantinya

0
2673

Harakah.id – Kementerian Agama sudah mengumumkan bahwa pelaksanaan ibadah haji Indonesia tahun ini dibatalkan karena alasan Covid-19. Tapi disadari atau tidak, banyak sekali amalan setara ibadah haji yang bisa dilakukan sebagai gantinya.

Ada beberapa riwayat yang menjelaskan beberapa amalan yang berpahala setara dengan pahala ibadah haji. Beberapa di antaranya adalah amalan yang sering kita lakukan namun tidak kita sadari kalau ternyata amalan itu bernilai pahala besar. Apa saja amalan-amalan tersebut?

Salat Lima Waktu Berjamaah

Ada sebuah riwayat yang disampaikan oleh Imam al-Tabrani:

مَنْ مَشَى إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ فِي الجَمَاعَةِ فَهِيَ كَحَجَّةٍ وَمَنْ مَشَى إِلَى صَلاَةٍ تَطَوُّعٍ فَهِيَ كَعُمْرَةٍ نَافِلَةٍ

Barang siapa yang berjalan menuju jamaah salat maktubah, maka hal itu seperti haji. Barang siapa yang berjalan untuk melaksanakan salat sunnah, maka hal itu seperti umrah.”

Dalam sebuah riwayat lain, Imam Abu Dawud juga menyaimpan sebuah hadis?

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لاَ يُنْصِبُهُ إِلاَّ إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ

Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan keadaan suci guna melaksanakan salat maktubah, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berhaji. Barangsiapa berkehendak untuk melaksanakan shalat Sunnah Dluha, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berumrah.” (HR. Abu Daud/558)


Iktikaf di Masjid dari Subuh Hingga Dluha

Selain itu, melakukan Salat Subuh berjamaah lalu iktikaf dan berdzikir di masjid sampai matahari terbit dan masuk waktu pelaksanaan Salat Dhuha, juga bisa menjadi opsi bagi seseorang untuk meraih setumpuk pahala yang setara dengan pahala ibadah haji. Dalam sebuah hadis riwayat Imam al-Tabrani disebutkan:

مَنْ صَلَّى صَلاةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سُبْحَةَ الضُّحَى كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ

Barangsiapa yang mengerjakan shalat subuh berjama’ah di masjid, lalu dia tetap diam [berdzikir, beriktikaf] di masjid sampai masuk waktu pelaksanaan Shalat Dhuha, maka ia seperti akan mendapat pahala seperti pahala orang yang berhaji atau berumroh secara sempurna.”


Mengajar atau Belajar serta Menghadiri Pengajian Ilmu

Amalan lainnya yang memiliki pahala setara haji adalah berupaya untuk terus belajar dan mengembangkan diri, bisa dengan datang ke masjid untuk menghadiri pengajian seorang Kiai, atau dengan cara lain dengan niatan tulus untuk mencari ilmu. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ

Barang siapa yang berangkat ke masjid dengan niatan untuk mempelajari kebaikan, atau mengajari kebaikan, maka ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang haji yang sempurna.”

Berbakti Kepada Orang Tua

Amalan lain yang memiliki pahala setara haji adalah berbakti kepada orang tua. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh sebuah riwayat yang datang dari Nabi Muhammad SAW.

إِنِّي أَشْتَهِي الْجِهَادَ وَلا أَقْدِرُ عَلَيْهِ قَالَ هَلْ بَقِيَ مِنْ وَالِدَيْكَ أَحَدٌ قَالَ أُمِّي قَالَ فَأَبْلِ اللَّهَ فِي بِرِّهَا فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ فَأَنْتَ حَاجٌّ وَمُعْتَمِرٌ وَمُجَاهِدٌ

Seorang Sahabat curhat kepada Nabi bahwa ia “punya keinginan kuat untuk melakukan jihad, tapi dirinya tidak mampu”. Lalu Nabi bertanya, “apakah orang tuamu masih ada?” Dia menjawab, “ada, ibuku…” Nabi pun bersabda, “berkhidmahlah kepada Allah dengan berbakti kepada ibumu. Jika kamu lakukan itu, maka engkau sejatinya adalah orang yang berhaji, orang yang umroh dan orang yang berjihad sekaligus.

Itulah amalan-amalan berpahala setara dengan pahala ibadah haji yang bisa dilakukan sebagai ganti. Wabah memang mengacaukan segalanya. Tapi kegagalan untuk melaksanakan ibadah haji di tanah suci Mekkah seharusnya tidak jadi alasan seseorang untuk frustasi, berburuk sangka dan pesimis. Sebaliknya, seorang hamba harus terus mengupayakan ibadah kepada Allah, berserah diri dan berbaik sangka kepada Allah SWT.