Hakikat Bencana Menurut Islam, Antara Diciptakan Allah Atau Karena Ulah Manusia

0
17

Harakah.id Menyikapi bencana dan musibah harus tetap dengan mengedapankan akhlak dan etika.

Hakikat Bencana Menurut Islam. Bencana sering kali datang tiba-tiba. Hal ini karena kita tidak pernah memikirkannya, membuat rencana, dan persiapan. Kurangnya mitigasi bencana membuat kita sering berfikir bahwa bencana selalu datang tiba-tiba.

Di sisi lain, sebagai umat beragama kita meyakini bahwa bencana merupakan ciptaan Tuhan. Terjadinya bencana karena memang Tuhan menghendakinya dan menciptakannya. Dalam Al-Quran dikatakan,

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِندِ اللَّهِ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِندِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِندِ اللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا (78) مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا (79)

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi. (Qs. An-Nisa’: 78-79)

Ayat di atas menegaskan bahwa keburukan yang menimpa manusia merupakan ketentuan Allah SWT. Dengan demikian, musibah yang merupakan bagian dari keburukan yang menimpa manusia, juga bagian dari ketentuan Allah SWT. Sekalipun demikian, secara etika, kita tidak selayaknya menyandarkan keburukan yang menimpa kita adalah perbuatan Allah SWT. Hendaknya, kita menyandarkan kepada diri kita sendiri. Karena mungkin ada kesalahan yang kita lakukan secara tidak sadar yang kemudian berdampak buruk pada diri kita sendiri.

Ayat ini mengajarkan teologi sekaligus etika menghadapi keburukan atau musibah. Sekalipun secara akidah kebaikan dan keburukan adalah ciptaan Allah, tetapi secara akhlak hendaknya kita hanya menyandarkan kebaikan kepada Allah dan menyandarkan keburukan yang kita terima kepada diri kita sendiri.

Akidah dan akhlak semacam ini ditegaskan dalam hadis Nabi sebagai berikut;

لا يؤمنُ عبدٌ حتى يؤمنَ بالقدَرِ خيرِه و شرِّه

Tidak beriman seorang hamba sampai dia beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk (HR. Ahmad).

Hadis ini menjelaskan takdir yang merupakan salah satu kepercayaan umat beragama. Yaitu bahwa segala kejadian merupakan ketentuan Tuhan, baik maupun buruk. Tetapi, dalam berinteraksi dengan Tuhan, hendaknya kita hanya menyandarkan kebaikan kepada Tuhan; bukan keburukan. Dalam sebuah hadis disebutkan,

والخيرُ كلُّه في يدَيْكَ والشَّرُّ ليس إليكَ

Segala kebaikan adalah berada dalam genggam-Mu, segala keburukan tak pantas disandarkan kepada-Mu. (HR. Muslim).

Jika hakikat bencana sudah kita pahami, maka dalam memandang bencana para ulama berbeda pendapat. Ada pendapat yang menyatakan bahwa bencana adalah bentuk hukuman dari Allah atas kesalahan manusia. Ada pula yang berpendapat bahwa bencana bukan hukuman dari Allah karena dosa manusia. Pendapat pertama mungkin sudah sering kita dengar. Tetapi, apa dasar pendapat kedua?

Setidaknya ada empat dalil mengapa bencana bukan hukuman dari Allah atas kesalahan manusia. Pertama, hukuman atau azab hanya akan diberikan di akhirat. Dalam Qs. Al-Ghafir: 17 dikatakan bahwa pada hari kiamat Allah akan membalas amal perbuatan manusia. Ini menunjukkan bahwa dunia bukan tempat penghukuman. Tetapi nanti di akhirat.

Kedua, bencana selalu menimpa semua orang tanpa terkecuali. Baik orang saleh maupun orang yang tidak saleh, beriman atau tidak beriman.

Ketiga, dunia sekarang adalah tempat beramal, bukan tempat pembalasan. Dengan demikian, tidak tepat menyebut bencana yang menimpa manusia di dunia saat ini sebagai azab Tuhan.

Keempat, bencana sebagai sebuah musibah merupakan proses yang terbaik bagi manusia sesuai dengan kehendak Allah. Bukan sebagai bentuk hukuman atau azab bagi manusia. Karena, jika bentuk hukuman, maka ia tentunya bukan sesuatu yang terbaik bagi manusia.

Demikian ulasan singkat mengenai “Hakikat Bencana Menurut Islam, Antara Diciptakan Allah Atau Karena Ulah Manusia”. Apakah bencana itu ciptaan Allah atau karena ulah manusia. Bagaimana kita menyikapi bencana sangat penting mengedepankan teologi dan akhlak agar diperoleh keseimbangan cara pandang. Jangan sampai bencana yang menimpa malah menjadikan seseorang jauh dari Tuhan karena melihat Tuhan sebagai sosok yang kejam tanpa melihat hikmah di baliknya. Karenanya, menyikapi bencana dan musibah harus tetap dengan mengedapankan akhlak dan etika.