Beranda Gerakan Harlah Ke-99 NU: Ada Apa dengan Hubungan NU dan PKB?

Harlah Ke-99 NU: Ada Apa dengan Hubungan NU dan PKB?

Harakah.id Saya akan menyoroti NU dalam aspek politik, mengingat hubungan NU dan PKB saat ini sebagian orang menganggap sedang tidak baik-baik saja.

Sejak kepopuleran Gus Yahya menduduki kursi PBNU melalui ketetapan Muktamar NU ke-34 Lampung, nampaknya putra KH. Cholil Bisri ini tetap pada pendiriannya untuk menjadikan NU sebagai organisasi civil society, bukan organisasi yang cenderung bersifat politis. Setidaknya, pernyataan Gus Yahya mengindikasikan adanya paradigma baru NU dalam berpolitik.

Selain itu, pernyataan Gus Yahya juga ditenggarai munculnya isu “NU Memperalat PKB”.  Belum lagi pada bulan januari lalu saat Cak Imin melakukan safari politiknya di Sidoarjo dan Banyuwangi hingga melibatkan pengurus PCNU bahkan MWCNU. Rentetan kabar itu berujung pemanggilan PCNU yang terlibat untuk menghadap Gus Yahya guna mengklarifikasi (tabayun) atas kegiatan yang diduga mengarah pada politik praktis.

Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, bertepatan dengan hari lahirnya NU 16 Rajab 1334 H-16 Rajab 1443 H berdasarkan kalender hijriah yang menginjak usia 99 tahun (hampir satu abad), saya tidak akan membahas kiprah maupun kontribusi NU dalam aspek pendidikan, kegamaan, ekonomi-namun saya akan menyoroti NU dalam aspek politik, mengingat hubungan NU dan PKB saat ini sebagian orang menganggap sedang tidak baik-baik saja.

NU, PKB, dan Gus Yahya

Jika dilacak hubungan NU dan PKB sejak berakhinya Reformasi 1998. Keduanya memilki kedekatan historis yang cukup pelik. Singkatnya, hubungan keduanya dalam urusan politik sama-sama bergantung pada masyarakat kelas menengah ke bawah. NU sebagai civil society tentu memiliki hak untuk memilih pandangan politiknya. Persoalannya, saat ini tidak semua warga NU menyatu dalam satu kekuatan politik tertentu. Inilah yang kemudian menyulitkan PKB. Belum lagi pernyataan Gus Yahya untuk menjaga jarak dengan partai politik, sekalipun itu PKB.

Setidaknya, Gus Yahya menilai bahwa sejak bergulirnya Piplres 2019 silam yang berhasil meng-kawinkan Jokowi-Ma’ruf, NU sudah keluar dari jalur khittah 1926. Oleh karena itu, bertepatan dengan Harlah NU, saya kira perlu ada refleksi dalam urusan politik. Tema Harlah NU tentang kemandirian umat jika ditafsirkan dalam sudut pandang politik juga harus mandiri, bukan saja dalam hal pendidikan, ekonomi dan lain sebagainya. Artinya, NU tidak boleh ketergantungan dengan pengaruh maupun bujukan partai tertentu.

Bagi PBNU, ini adalah tantangan. Karena, saat ini ada beberapa pengurus PBNU yang juga menjabat sebagai pengurus partai. Semestinya, mereka yang duduk di kursi PBNU harus bersikap proporsional; menjaga keseimbangan baik sebagai pengurus NU-juga partai. Sehingga muncul keharmonisan dan tendensi partai dalam tubuh NU dapat diakomodir.

Artinya, sikap NU yang dikenal moderat, tawazun (seimbang) dalam urusan politik harus diimplementasikan. Sehingga, NU mampu memanfaatkan peran high politics sebagai sumbu dan penyambung semua elemen elite politik. Pertanyaannya, bagaimana nasib PKB mendulang suara menuju pilpres 2024? Karena bagaimanapun juga PKB tidak dapat dilepaskan dari wajah politik NU sebagai alat perjuangan politik (aspirasi) warga nahdliyin. Pertanyaan ini saya kira akan kembali kepada PKB itu sendiri tergantung bagaimana PKB menjalin hubungan dengan PBNU.

Makna Khittah NU 1926, Apakah Masih Relevan?

Hemat saya, hubungan NU dan PKB; seyogianya mengadakan rekonsiliasi terkait arah fikrah, dan harakahnya. Dengan kata lain; pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Pasalnya, bagi saya yang hanya seorang kader NU di tingkat ranting dan kecamatan bahwa makna Khittah perlu digemborkan, baik bagi NU secara kelembagaan maupun bagi warga nahdliyin terutama kader NU yang menjabat di partai.

Jika secara kelembagaan, NU sudah memiliki aturan jelas bukan organisasi politik. Dan bagi warganya memiliki hak untuk memilih pandangan politiknya. Namun, untuk IPNU, IPPNU, PMII dan Banom serumpun, perlu ada sosialisasi terkait makna Khittah sesungguhnya. Dengan kata lain, pedoman politik warga nahdliyin berdasarkan hasil Muktamar ke-28 NU 1989 harus digencarkan. Sebab hal ini dipandang perlu sebagai alternatif memahami NU dalam aspek politik.

“Jenjang kaderisasi NU setelah bergelut ditingkat pelajar dan mahasiswa; tidak sedikit dari mereka terjun ke politik. Alasannya, selain pengembangan diri, organisasi itu sudah cukup mahir dibekali pengetahuan politik.”

Jika ingin satu visi seperti apa yang digemborkan Gus Yahya, semestinya keterlibatan warga nahdliyin dengan parpol yang bersifat individual, tidak atas nama organisasi, karena NU adalah organisasi sosial kegamaan. Selain itu, PBNU, PWNU, PCNU juga harus selaras agar instansi atau pengurusnya tetap berpolitik dengan cara-cara santun dan mengedepankan politik kebangsaan-tidak bermain politik praktis.

Alasannya, beberapa Banom di atas sangat rawan disusupi, mengingat NU sebagai organisasi terbesar di Indonesia, selain sebagai pembimbing umat juga sebagai vote getter. Dan suara warga NU sudah menjadi “tradisi” tahunan rebutan parpol. Atas dasar itu, maka disinilah pentingnya makna khittah; saya kira masih relevan digunakan sebagai bahan acuan warga nahdliyin dalam berpolitik.

Walhasil, bicara politik tentu tidak mudah. Sebagaimana NU menganut politik Sunni; penuh dengan intrik dan strategi bahkan sulit ditebak dan tidak terduga. Apalagi jika NU tergiur kekuasaan? Acapkali dianggap akomodatif, bahkan oportunis?

Terlepas dari hal di atas, meski masalah internal dalam tubuh NU dan PKB disetiap agenda persiapan pemilu muncul ketegangan. Namun, jika dicermati, kini warga nahdliyin faham betul bahwa perilaku elite NU sudah lazim. Sehingga tidak mudah tercerai-berai.

Jika perseteruan diantara keduanya berbuntut panjang, saya kira itu hanya sementara dan secara alamiah akan bersatu kembali dengan syarat mereka (kader NU) tetap mengamalkan garis politik Sunni yang selama ini dianutnya yakni mempertimbangkan, memperhitungkan maslahah (kemaslahatan) dan mafsadah (kerusakan) demi menjaga kapabilitas NU itu sendiri.

Ahmad Faiz Rofi’i, Pengurus LTN-NU Kecamatan Gebang dan Anggota Bidang Kajian Strategis, Media dan Teknologi PAC GP Ansor Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...